Bulu Perindu Bukan Buluh: Mitos, Sugesti, dan Harapan Manusia

@i-nomics

Bulu perindu, bukan buluh. Dalam tradisi lisan Nusantara dipercaya mampu menumbuhkan simpati dan ketertarikan batin. Namun yang sesungguhnya bekerja bukanlah bendanya, melainkan keyakinan manusia terhadapnya.

Bulu perindu menjadi simbol wilayah abu-abu antara mitos dan psikologi. Banyak orang tak pernah melihatnya, tetapi tetap percaya, karena manusia selalu mencari jalan pintas menuju harapan. Saat usaha terasa berat, logika lambat memberi jawaban, dan doa belum berbuah, mitos hadir sebagai penenang kegelisahan.

Secara psikologis, keyakinan kepada bulu perindu melahirkan sugesti. Rasa percaya diri tumbuh, sikap berubah, respons orang lain mengikuti. Lalu disimpulkanlah bahwa bulu perindu bekerja, padahal yang bergerak adalah batin manusia itu sendiri.

Agama menempatkan batas yang tegas. Ikhtiar boleh, harapan it’s ok, tetapi keyakinan tidak boleh dialamatkan pada benda. Dalam tauhid, tidak ada kuasa selain Tuhan. Ketika simbol dipercaya lebih dari Yang Maha Kuasa, di situlah makna bergeser.

Logika serupa hidup dalam dunia ekonomi. Jargon pertumbuhan tinggi, investasi besar, atau proyek strategis kerap berfungsi sebagai bulu perindu modern. Angka diyakini otomatis membawa kesejahteraan, padahal tanpa kerja nyata, tata kelola jujur, dan distribusi adil, semua itu hanya ilusi.

Masalah muncul ketika simbol lebih dipercaya daripada substansi, ketika laporan mengalahkan dampak, dan citra menutupi kenyataan. Bulu perindu ekonomi hadir dalam bentuk data yang dipoles dan janji yang diulang.

Bulu perindu mengingatkan bahwa mitos lahir bukan dari kebodohan, melainkan dari kerinduan manusia untuk diterima dan berharap hidupnya membaik. Tugas nalar, agama, dan etika publik adalah menjaga agar kerinduan itu tidak salah alamat.

Sebab yang benar-benar menggerakkan hidup bukanlah mitos, melainkan kejujuran, kerja yang konsisten, dan keyakinan yang tepat sasaran.***

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *