DI TENGAH struktur pendidikan yang terbelah dan birokrasi yang gemuk, upaya memperbaiki mutu dari ruang kelas menjadi sangat penting. Di sinilah kebijakan Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang didorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung menemukan relevansinya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, secara terbuka memperkenalkan HOTS sebagai strategi pembelajaran yang dijalankan secara sistematis di daerah. Langkah ini menandai pergeseran penting: dari sekadar istilah dalam dokumen nasional menjadi kebijakan operasional yang benar-benar dihidupkan di kelas.
HOTS lahir dari kesadaran bahwa tantangan pendidikan hari ini bukan kekurangan materi, melainkan lemahnya kemampuan bernalar. Dunia nyata tidak menyajikan soal pendek dengan jawaban instan. Ia menghadirkan persoalan panjang, kompleks, dan saling terkait. Karena itu, pendidikan harus melatih analisis, evaluasi, dan pemecahan masalah, bukan sekadar hafalan.
Fokus pada Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika mencerminkan logika yang kuat. Bahasa membangun literasi dan kemampuan berargumentasi. Matematika melatih konsistensi nalar dan ketahanan berpikir. Evaluasi menunjukkan bahwa persoalan utama siswa bukan pada materi, melainkan pada ketekunan membaca dan daya juang bernalar.
Namun kebijakan HOTS juga menghadapi batas struktural. Ia bekerja di hilir, sementara persoalan mutu sudah muncul sejak hulu. Tanpa literasi yang kuat di pendidikan dasar, HOTS berisiko dipersepsi sebagai soal sulit, bukan sebagai proses berpikir. Karena itu, HOTS harus dibaca sebagai upaya korektif, bukan solusi tunggal.
Keberhasilan HOTS kelak tidak diukur dari jumlah bank soal atau tes berkala, melainkan dari perubahan cara siswa berpikir. Mampu menjelaskan alasan, bertahan membaca soal panjang, dan menyelesaikan masalah secara bertahap. Di titik ini, kebijakan kelas bertemu dengan kebutuhan reformasi struktur.
HOTS adalah investasi nalar. Ia penting dan patut diapresiasi. Namun agar berdampak luas, ia memerlukan sistem pendidikan yang utuh, tidak terbelah, dan tidak terseret birokrasi berlapis. Tanpa itu, perbaikan di hilir akan selalu bekerja lebih keras menutup cacat di hulu.***
