Bagaimana jika Perang Dunia Ketiga tidak pernah diumumkan? Bagaimana jika ia tidak dimulai dengan ledakan, tapi dengan struk belanja yang makin panjang?
@i-nomics
Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan dunia sedang bergerak menuju ketegangan global yang berbahaya. Banyak yang mendengar itu sebagai prediksi. Tapi mungkin itu bukan ramalan. Mungkin itu laporan situasi.
Coba lihat sekeliling. Dunia tidak runtuh sekaligus, tapi retak di banyak tempat. Pandemi merusak rantai pasok. Perang Ukraina membuat energi dan pangan melonjak. Gaza membakar Timur Tengah. Laut Merah memanas, kapal dagang memutar arah, ongkos logistik meledak. Amerika dan Tiongkok saling cekik lewat tarif, sanksi, dan teknologi.
Tidak ada perang resmi. Tapi ekonomi global sudah babak belur. Perang ini tidak menyerang barak militer. Ia menyerang dompet warga biasa.
Indonesia tidak ditembaki, tapi ikut limbung. Kita netral secara politik, tapi terikat secara ekonomi. Harga beras, BBM, kurs rupiah, semuanya ditentukan konflik yang tidak kita pilih. Negara besar saling adu kekuatan, dan negara berkembang seperti Indonesia sering kebagian getarannya.
Di sinilah sentakannya. Kalau ini bukan perang, mengapa hidup terasa seperti krisis yang tak pernah selesai?
Gaji tertinggal. Harga melesat. Cicilan mencekik. Kerja lebih keras, hasil terasa lebih sedikit. Tanpa sirene, tanpa evakuasi, tanpa status darurat, tapi tekanan nyata setiap hari. Ini perang versi baru, pelan, melelahkan, dan kejam bagi kelas menengah.
SBY tampaknya membaca ini lebih awal. Bahwa perang masa depan bukan soal siapa menembak siapa, tapi siapa sanggup bertahan lebih lama. Siapa punya energi, pangan, teknologi, dan cadangan ekonomi. Ini bukan perang kemenangan cepat. Ini perang ketahanan.
Kalau begitu, pertanyaannya bukan lagi kapan perang terjadi, tapi apa yang harus dilakukan warga saat perang ini berlangsung?
Jawabannya mengejutkan. Jangan panik.
Dalam perang ekonomi, kepanikan warga adalah senjata makan tuan. Menimbun membuat harga melonjak. Hoaks mempercepat kekacauan. Reaksi berlebihan membuat krisis datang lebih cepat dari seharusnya. Bertahan hidup hari ini justru butuh kepala dingin.
Kelola uang seperti sedang menghadapi badai panjang. Kurangi utang, bukan gaya. Jaga arus kas, bukan gengsi. Pekerjaan dan usaha harus lentur. Yang terlalu bergantung pada impor atau satu pintu penghasilan akan paling dulu terpukul. Dan jangan meremehkan hal paling sederhana, yaitu orang sekitar, jiran.
Saat sistem global goyah, yang pertama menolong bukan G20 atau forum dunia, tapi tetangga.
Komunitas atau jaringan kecil yang saling berbagi informasi dan bantuan. Perang global itu dingin. Solidaritas lokal yang membuat kita tetap hangat.
Percaya pada negara tetap penting, meski kebijakan darurat sering terasa pahit. Banyak negara runtuh bukan karena kalah perang, tapi karena warganya saling curiga dan saling menyalahkan.
Dan satu hal terakhir yang paling sulit tapi paling penting, jaga kewarasan.
Perang dunia versi ini tidak datang sekali lalu selesai. Ia panjang, sunyi, dan menggerogoti mental. Menjaga rutinitas kecil, ngopi pagi, bercanda di rumah, bekerja secukupnya, adalah bentuk perlawanan yang paling manusiawi.
Mungkin Perang Dunia Ketiga tidak akan kita kenang sebagai perang bom dan tank. Mungkin akan dikenang sebagai masa ketika hidup makin mahal, napas makin pendek, dan dunia terasa tak ramah. Dan jika itu benar, maka perang ini sudah terjadi.
Pertanyaannya tinggal satu, apakah kita ikut panik, atau cukup tenang untuk melangkah, menjalani hidup dengan perut tetap berisi.**”
