Bagi negara, KA Baranjang adalah angka jutaan ton, jadwal presisi, efisiensi biaya. Bagi Lampung, adalah suara logam yang datang siang dan malam.
Rel kereta batu bara memanjang melintasi ruang hidup. Ia memotong kampung, menyusuri ladang, dan berhenti tak jauh dari rumah-rumah warga. Setiap rangkaian yang lewat membawa energi bagi negeri, tetapi juga meninggalkan getaran kecil yang menetap di dinding rumah, di jalan desa, di udara yang berdebu.
Lampung hidup berdampingan dengan logistik nasional. Bukan sebagai penonton, melainkan sebagai ruang kerja. Pelabuhan menyala 24 jam. Truk keluar-masuk. Jalan cepat rusak. Sungai dan laut menanggung limpasan aktivitas. Semua ini jarang masuk neraca biaya energi.
Inilah sisi yang sering hilang dari diskusi ketahanan energi, tentang siapa yang tinggal paling dekat dengan mesin negara. Lampung (seharusnya) bukan sekadar titik koordinat, tanpa pernah benar-benar diajak menghitung untung-rugi bersama.
Lampung tak semestinya menanggung ironi sendiri. Energi yang lewat harus berubah menjadi kualitas hidup yang lebih baik. Nilai tambah meloncat. Beban harian dari hingar-bingar KA Babaranjang, tidak boleh lagi dianggap wajar karena “demi nasional”.
Saatnya wajah Lampung, muncul di layar kebijakan. Sebab, Lampung adalah striker energi nasional dengan bayaran mahal.***
Berikutnya Baca: Setelah Batu Bara, Lampung Jangan Sampai “Mengenyot Jempol Sendiri”
