@i-nomics
FENOMENA Bennix menarik bukan karena ia selalu tepat melainkan karena ia sering berbicara sebelum gejala berubah menjadi berita. Namanya dikenal luas di ruang publik digital pascapandemi ketika ekonomi tampak pulih di atas kertas tetapi rasa aman ekonomi masyarakat justru tertinggal. Bennix bukan pejabat bukan politisi dan bukan ekonom institusional. Ia hadir sebagai suara independen yang berani menyebut arah paling tidak nyaman bahwa stabilitas bisa rapuh dan pertumbuhan bisa bersifat semu. Dari sanalah label peramal dilekatkan bukan karena ia mengklaim nubuat melainkan karena peringatannya kerap terasa relevan belakangan.
Di balik gaya komunikasinya yang lugas Bennix konsisten membaca satu pola besar yakni ketegangan antara belanja dan kemampuan membayar. Ia berulang kali mengingatkan bahwa tekanan fiskal tidak hanya akan dialami negara tetapi juga akan merembes ke daerah. Bukan dalam bentuk krisis terbuka melainkan melalui gejala yang tampak administratif kas mengetat proyek molor pembayaran ditunda dan utang dipilih sebagai jalan keluar paling cepat.
Nomics ID sepakat dengan pembacaan ini. Bahkan apa yang dahulu terdengar sebagai peringatan kini mulai menjelma sebagai kenyataan di banyak daerah. Sejumlah pemerintah daerah menghadapi tekanan arus kas menunda pembayaran kepada kontraktor menggantung proyek multiyears atau mencari skema pembiayaan baru untuk menutup kewajiban lama. Ini bukan semata persoalan salah kelola melainkan konsekuensi struktural dari APBD yang terlalu lama diposisikan sebagai mesin pertumbuhan bukan sebagai instrumen ketahanan fiskal.
Masalahnya bukan utang itu sendiri. Masalahnya adalah utang yang tidak diiringi penguatan basis ekonomi riil. Ketika belanja rutin membesar belanja pegawai bersifat kaku sementara PAD tidak tumbuh signifikan utang hanya memindahkan beban ke tahun berikutnya. Di fase awal utang tampak solutif. Di fase selanjutnya yang muncul adalah penundaan bayar. Di fase lanjutan kualitas layanan publik ikut tergerus.
Lampung seperti banyak daerah lain berada dalam spektrum risiko ini. Tenaga kerja melimpah usia produktif besar tetapi industri bernilai tambah bergerak lambat. Ekonomi daerah belum cukup kuat menopang belanja yang terus membesar. Dalam kondisi seperti ini tekanan fiskal bukan lagi pertanyaan jika melainkan kapan. Bennix membaca mekanisme itu lebih awal bukan dengan menunjuk satu daerah tertentu melainkan dengan membedah logika yang bekerja di baliknya.
Fenomena ini berjalan seiring dengan paradoks lain yang juga kerap diingatkan Bennix harga relatif terkendali tetapi konsumsi tetap lemah. Bukan karena inflasi semata melainkan karena ketidakpastian pendapatan dan masa depan kerja. Di pusat industri seperti Jawa Barat dan Banten PHK muncul di tengah stabilitas harga. Di daerah gejalanya lebih sunyi pekerjaan berkualitas menyusut sektor informal membengkak dan masyarakat menahan belanja karena rasa aman menipis.
Dalam konteks ini bonus demografi menjadi pedang bermata dua. Nomics ID sejalan dengan Bennix bahwa usia produktif tanpa transformasi ekonomi justru menjadi beban tertunda. Tenaga kerja melimpah tanpa industri bernilai tambah hanya menekan upah dan memperlebar ketimpangan. Ketika ekonomi tidak mampu menyerap tenaga kerja secara produktif tekanan sosial dan fiskal akan datang bersamaan.
Kesalahan paling umum pembuat kebijakan adalah membaca ketenangan sebagai kekuatan. Padahal ekonomi sering melemah bukan saat bising melainkan saat terlihat rapi. APBD tampak bergerak proyek berjalan indikator makro stabil. Namun di bawahnya kas mengetat kewajiban menumpuk dan ruang fiskal menyempit.
Bagi Nomics ID, Bennix bukan figur yang harus dipuja. Ia hanyalah suara yang lebih dulu menyebut arah. Kesepakatan ini bukan soal personal melainkan soal konsistensi membaca realitas. Ketika daerah mulai berutang menunda bayar dan mengencangkan ikat pinggang secara diam diam maka jelas bahwa peringatan itu bukan berlebihan.
Peringatan Bennix
Indonesia termasuk daerah daerah seperti Lampung sedang berada di dalam fase yang pernah diingatkan Bennix. Negara dan daerah menutup tekanan fiskal dengan utang dan penundaan sambil berpacu membangun ekonomi berbasis nilai tambah untuk mengejar kemandirian PAD. Tantangannya jelas tanpa transformasi ekonomi yang nyata strategi bertahan hanya akan memperpanjang tekanan.
Sejak awal Bennix konsisten memperingatkan tekanan fiskal berlapis belanja negara dan daerah membesar sementara basis penerimaan tidak tumbuh sepadan.
Dalam berbagai pernyataannya ia menyebut fase cash flow stress, uang ada di atas kertas tetapi tidak likuid di kas. Dari sanalah lahir konsekuensi yang kini mulai terlihat penundaan pembayaran proyek molor kewajiban jangka pendek ditutup dengan utang baru atau ketergantungan pada skema pembiayaan non reguler.
Ia tidak meramalkan satu per satu daerah. Ia membaca mekanisme krisis fiskal. Ketika mekanisme itu bekerja lokasi hanya soal waktu.
Di titik ini Nomics ID sejalan sepenuhnya. Daerah yang memilih utang tanpa memperkuat basis ekonomi riil hanya memindahkan masalah ke depan. Utang memang bisa menutup lubang jangka pendek tetapi tanpa pertumbuhan PAD dan nilai tambah ekonomi fase berikutnya hampir pasti tekanan kas penundaan bayar dan penurunan kualitas layanan publik.
Maka ramalan Bennix tentang fiskal sesungguhnya adalah peringatan struktural. Ia membaca bahwa APBN dan APBD terlalu lama dipakai sebagai mesin pertumbuhan sementara ekonomi produktif tertinggal. Ketika ruang fiskal menyempit daerah menjadi titik paling rentan.
Jika hari ini daerah mulai berbicara tentang utang restrukturisasi kewajiban atau penyesuaian pembayaran itu bukan kejutan. Itu adalah fase yang sudah lama diperingatkan dan kini sedang dijalani. ***
Notes: Bennix dikenal sebagai figur/analis non-formal yang kerap mengeluarkan ramalan ekonomi makro, krisis global, runtuhnya sistem keuangan, pelemahan mata uang, hingga pergeseran kekayaan dari kertas ke aset riil. Ia tidak tampil sebagai ekonom akademik, tapi juga bukan sekadar cenayang.
