Lampung 2025–2026: Surplus Besar, Tapi Kesejahteraan Masih Tertahan

@i-nomics

LAMPUNG menutup 2025 dengan catatan perdagangan luar negeri yang impresif. Nilai ekspor menembus US$6,637 miliar, naik hampir 19 persen dibanding 2024. Sementara impor menurun menjadi US$2,068 miliar, menghasilkan surplus perdagangan US$4,569 miliar. Lonjakan ekspor terutama berasal dari sektor pertanian dan industri pengolahan, dengan komoditas unggulan seperti minyak nabati, kopi, teh, dan rempah.

Beberapa produk kimia juga mencatat pertumbuhan tajam, menunjukkan ruang diversifikasi yang mulai terbuka. Namun, hampir 90 persen impor masih berupa bahan baku, menandakan struktur industri Lampung rapuh dan ketergantungan pada pasokan luar. Artinya, meski surplus besar tercapai, manfaatnya bagi kesejahteraan warga masih tertahan karena ekspor belum diterjemahkan menjadi industri bernilai tambah atau lapangan kerja yang luas.

Di sektor domestik, Januari 2026 memperlihatkan inflasi 1,90 persen, terlihat rendah dan stabil, tetapi tekanan harga justru datang dari kebutuhan dasar. Listrik dan energi rumah tangga melonjak 15,45 persen, pangan naik 1,82 persen, sementara sektor non-esensial mengalami deflasi. Pola ini menegaskan bahwa masyarakat membayar lebih mahal untuk bertahan hidup, sementara daya beli mereka tetap lemah. Deflasi bulanan menunjukkan permintaan domestik yang belum pulih, menegaskan kondisi kesejahteraan yang masih tertahan di balik statistik inflasi yang “ramah.”

Kondisi serupa terlihat di pedesaan. Nilai Tukar Petani (NTP) menurun dari 130,15 menjadi 128,17, dan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) turun 2,04 persen. Produksi tinggi, terutama pada hortikultura dan tanaman pangan, tidak otomatis meningkatkan pendapatan petani karena harga hasil panen jatuh saat musim panen raya. Ketergantungan pada komoditas seperti kopi membuat petani rentan terhadap fluktuasi pasar global, sementara tata niaga dan hilirisasi yang lemah menahan manfaat surplus perdagangan untuk mencapai desa. Akibatnya, daya beli di pedesaan melemah, dan kesejahteraan petani tetap tertahan, meski tanah subur dan panen melimpah.

Sektor pariwisata Lampung juga menunjukkan pola serupa. Desember 2025 mencatat peningkatan jumlah tamu hotel berbintang hingga 123.283 orang, naik 26,37 persen dari bulan sebelumnya, tetapi rata-rata lama menginap menurun menjadi 1,27 hari. Kunjungan domestik mendominasi, sedangkan wisatawan asing tetap minim. Pertumbuhan ini memperlihatkan potensi, tetapi efek ekonomi lokal, belanja di hotel, restoran, dan jasa pendukung, belum optimal. Pariwisata berkembang, namun manfaatnya bagi kesejahteraan masyarakat masih tertahan karena durasi kunjungan pendek dan penetrasi pasar internasional terbatas.

Analisis terpadu keempat indikator ini menampilkan wajah ekonomi Lampung yang ambivalen. Surplus perdagangan besar, ekspor dan jumlah wisatawan meningkat, namun daya beli rumah tangga, pendapatan petani, dan dampak ekonomi lokal tetap terbatas. Inflasi rendah menutupi kenyataan bahwa biaya hidup naik lebih cepat daripada pendapatan, panen melimpah tidak sejalan dengan NTP yang stabil, dan kunjungan wisatawan belum memberikan efek ekonomi signifikan. Lampung memasuki 2026 dengan peluang besar, tetapi transformasi angka-angka yang gemilang agar menjadi kesejahteraan nyata memerlukan strategi serius pada hilirisasi komoditas, diversifikasi ekonomi, perlindungan harga pangan, dan peningkatan pendapatan riil warga. Tanpa langkah tersebut, surplus dan pertumbuhan akan terus menjadi statistik, sementara kesejahteraan masyarakat masih tertahan.***

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *