LAMPUNG – Perkembangan pariwisata Lampung pada Desember 2025 menunjukkan tren yang menarik sekaligus kontradiktif. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang tercatat 54,44 persen, naik 5,51 poin dibanding November 2025 yang sebesar 48,93 persen.
Kenaikan ini didorong hampir seluruh kategori hotel. Bintang 1–2 naik menjadi 43,45 persen, bintang 3 menjadi 54,09 persen, dan bintang 4–5 menjadi 62,36 persen. Namun jika dibandingkan Desember 2024, TPK berbintang justru menurun sekitar 4,28 poin, menandakan pariwisata Lampung masih menghadapi fluktuasi musiman dan kompetisi regional yang ketat.
Jumlah tamu yang menginap di hotel berbintang meningkat signifikan. Pada Desember 2025 tercatat 123.283 orang, naik 26,37 persen dibanding November 2025. Mayoritas adalah wisatawan domestik (122.697 orang), sementara tamu asing hanya 586 orang. Peningkatan terbesar terjadi di hotel bintang 3, naik 10.441 orang tamu, diikuti bintang 1–2 naik 7.353 orang, dan bintang 4–5 naik 7.933 orang. Tren ini menunjukkan adanya dorongan kunjungan domestik, mungkin karena musim liburan akhir tahun atau promosi lokal, meski kunjungan asing masih minim.
Di sisi lain, rata-rata lama menginap tamu (RLMT) menurun dari 1,37 hari pada November menjadi 1,27 hari pada Desember 2025. Tamu asing menginap lebih lama, rata-rata 2,95 hari, sedangkan tamu domestik hanya 1,27 hari. Penurunan lama menginap ini menjadi catatan penting: meski jumlah pengunjung meningkat, dampaknya terhadap ekonomi lokal, terutama belanja di hotel, restoran, dan jasa pendukung tidak sebesar jika tamu menginap lebih lama.
Jika ditarik ke tren jangka panjang, TPK hotel non-bintang juga meningkat dari 25,60 persen pada November menjadi 29,19 persen, namun tetap lebih rendah dibanding Desember 2024. Secara total, TPK hotel di Lampung Desember 2025 tercatat 38,96 persen, naik dibanding bulan sebelumnya tetapi turun dibanding tahun sebelumnya.
Data ini memperlihatkan paradoks yang mirip dengan kondisi pertanian Lampung. Jumlah tamu meningkat dan panen pariwisata tampak melimpah, tetapi dampaknya terhadap pendapatan lokal tidak selalu proporsional. Daya beli masyarakat, terutama yang terlibat dalam sektor jasa dan ekonomi lokal pendukung pariwisata, tetap menjadi perhatian.
Lampung memasuki 2026 dengan peluang dan tantangan yang jelas. Sektor pariwisata domestik berkembang, tetapi durasi kunjungan yang pendek dan jumlah wisatawan asing yang minim menunjukkan perlunya strategi diversifikasi produk wisata, promosi internasional, dan peningkatan fasilitas agar kunjungan menghasilkan efek ekonomi yang lebih nyata.
