@i-nomics
TAHUN pertama kepemimpinan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani rasa-rasanya berakhir bukan dengan euforia, tetapi dengan satu capaian yang nyata, stabilitas pertumbuhan ekonomi terjaga. Di tengah volatilitas harga komoditas, ketidakpastian global, dan tekanan logistik domestik, ekonomi Lampung diperkirakan tetap berada di jalur pertumbuhan sekitar lima persen. Ini sebuah kinerja yang aman melegakan, meski belum bisa disebut lompatan bagi seorang kepala daerah yang bekerja di tahun pertamanya.
Berdasarkan tren tiga kuartal pertama 2025, 5,47 persen (Q1), 5,09 persen (Q2), dan 5,04 persen (Q3), maka arah Kuartal IV relatif mudah dibaca. Tanpa kejutan investasi besar atau perubahan struktur ekonomi mendadak, estimasi paling masuk akal untuk Q4 2025 berada di kisaran 5,00–5,25 persen (y-o-y), dengan titik tengah sekitar 5,10 persen. Ini sejalan dengan pola historis Q4 Lampung yang stabil di sekitar lima persen, sesekali sedikit lebih tinggi seperti pada Q4 2024 (plus-minus 5,32 persen), tetapi jarang melampaui 5,3 persen tanpa dorongan baru yang signifikan.
Stabilitas pola historis ini penting diungkap, supaya kita bisa lebih jujur mengungkap keterbatasan struktural Lampung sesungguhnya.
Pertanian masih menjadi penopang utama ekonomi Lampung, dan secara historis pula Q4 bukan puncak panen raya, sehingga kontribusinya cenderung menjaga keseimbangan, bukan mendorong lonjakan. Sementara industri pengolahan bergerak, tetapi belum cukup besar untuk menggeser kurva pertumbuhan provinsi. Sedangkan konsumsi akhir tahun lumayan membantu, tetapi efeknya terbatas karena karakter ekonomi Lampung masih agraris.
Jika Q4 2025 berakhir di sekitar 5,1 persen (prediksi realitis), maka pertumbuhan Lampung sepanjang 2025 kemungkinan berada di kisaran 5,05–5,20 persen atau di atas rata-rata nasional, namun belum mencerminkan transformasi ekonomi yang berarti. Di sinilah posisi politik ekonomi gubernur baru menjadi menarik, bukan pencipta lompatan, tetapi penjaga momentum.
Nomics. ID menyimpulkan, tahun pertama kepemimpinan lebih banyak diwarnai konsolidasi kebijakan ketimbang hasil spektakuler. Namun, yang layak dicatat adalah arah yang mulai dibentuk. Kepemimpinan yang baru berani fokus pada peningkatan kualitas infrastruktur, percepatan hilirisasi komoditas daerah, dan agenda “Lampung Maju” sebagai kerangka pembangunan terpadu. Jika dijalankan konsisten, tiga pilar ini berpotensi mengubah pola pertumbuhan Lampung pada 2026 , dari sekadar stabil menjadi lebih berkualitas dan bernilai tambah.
Proyeksi ke depan tersebut memberi ruang optimisme, bukan hanya menjaga, tetapi juga menumbuhkan harapan adanya lompatan ekonomi dengan syarat implementasi serius, terutama pada perbaikan logistik, kemudahan investasi industri pengolahan, dan insentif hilirisasi, sehingga Lampung berpeluang mendorong pertumbuhan ke kisaran 5,5–6,0 persen pada 2026.
Itu argumentasi serius dan logis, realistis, jika kebijakan beralih dari rencana ke eksekusi.
Ujian sebenarnya ada di 2026. Stabilitas 2025 tidak otomatis diterjemahkan menjadi lapangan kerja baru, nilai tambah lokal, atau kesejahteraan lebih merata. Untuk itu perlu perubahan struktur ekonomi pada tagun ini, dari bahan mentah ke industri pengolahan, dari logistik mahal ke logistik efisien, sehingga Lampung terhindar dari berisiko terjebak dalam zona nyaman pertumbuhan lima persen.
Singkatnya, 2025 adalah tahun menjaga mesin tetap berjalan. Sedangkan 2026 adalah tahun membuktikan apakah gubernur mampu mengubah arah mesin itu. Jika berhasil, narasi Lampung akan bergeser dari “tumbuh stabil” menjadi “tumbuh transformatif.” Jika tidak, Q4 2026 berpotensi mengulang cerita yang sama. Aman, tetapi tidak maju-maju.
Sebagai catatan akhir, Nomics.ID menyatakan bahwa pembangunan Lampung bukan diukur dari satu kuartal atau satu tahun pertumbuhan, tetapi dari kemampuan menyambungkan stabilitas 2025 dengan momentum transformasi 2026–2027. Jika itu terjadi, narasi pertumbuhan Lampung akan berubah dari sekadar stabil menjadi maju dan bernilai tambah.***
