NOMICS.ID — BPS mencatat tingkat kemiskinan Lampung pada September 2025 turun menjadi 9,66 persen dari 10,00 persen pada Maret 2025. Jumlah penduduk miskin berkurang dari sekitar 887 ribu menjadi 860 ribu orang. Meski membaik, struktur kemiskinan Lampung masih didominasi wilayah perdesaan yang tetap menjadi titik paling rentan.
Dibanding nasional, capaian Lampung sejalan dengan tren penurunan kemiskinan Indonesia yang berada di 8,25 persen pada periode yang sama, namun posisi Lampung masih di atas rata-rata nasional, menunjukkan tantangan struktural yang lebih berat.
Penurunan kemiskinan Lampung banyak ditopang membaiknya sektor pertanian dan produksi padi, yang membantu rumah tangga miskin desa. Namun ketergantungan pada pangan, di mana hampir 75 persen pengeluaran rumah tangga miskin terserap untuk makanan, terutama beras membuat perbaikan ini rapuh terhadap gejolak harga.
Di perkotaan, tekanan biaya hidup (perumahan, listrik, dan transportasi) tetap menekan kelompok rentan meski persentase kemiskinan lebih rendah daripada desa. Polanya mirip nasional, desa terbantu panen, kota terbebani inflasi.
Dibanding wilayah lain, Lampung berada di zona tengah atau lebih baik daripada Maluku, Papua yang di atas 18 persen, tetapi tertinggal dari banyak provinsi Jawa dan Kalimantan yang berada di kisaran 5–7 persen.
BPS menunjukkan kualitas kemiskinan (P1 dan P2) membaik, tetapi masih lebih buruk di desa. Artinya, yang masih miskin di desa cenderung lebih jauh di bawah garis kemiskinan.
Kesimpulannya, angka 9,66 persen adalah kemajuan, bukan garis akhir. Tanpa industrialisasi berbasis agro, peningkatan produktivitas petani, dan penciptaan kerja formal, penurunan kemiskinan Lampung berisiko bersifat siklus dan mudah tergerus ketika harga pangan bergejolak.(IWA)
