NOMICS.ID – Ekonomi Provinsi Lampung pada 2025 tumbuh 5,28 persen, lebih tinggi dari 4,57 persen pada 2024, menutup tahun pertama kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dengan catatan berhasil menjaga stabilitas sekaligus menyiapkan fondasi transformasi.
Di tengah ketidakpastian global, fluktuasi harga komoditas, dan tekanan logistik domestik, Lampung mampu bertahan di jalur pertumbuhan yang sehat, menegaskan bahwa gubernur baru tidak hanya hadir sebagai simbol, tetapi sebagai pengendali momentum ekonomi.
Pada Triwulan IV-2025 Lampung mencatat pertumbuhan y-on-y 5,54 persen, meski secara q-to-q terkontraksi 3,05 persen, terutama karena penurunan musiman sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 17,14 persen.
Pertumbuhan positif justru datang dari sektor jasa, industri pengolahan, transportasi, serta penyediaan akomodasi dan makan minum. Ini menegaskan arah kebijakan gubernur yang mulai mendorong diversifikasi ekonomi, mengurangi ketergantungan pada pertanian semata.
Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa tumbuh 7,20 persen, investasi 5,28 persen, dan konsumsi rumah tangga 4,94 persen. PDRB per kapita Lampung mencapai Rp55,01 juta, meningkat dari Rp51,39 juta pada 2024, menunjukkan awal dari upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat yang lebih merata.
Meski dominasi sektor agraris masih terasa, kontraksi q-to-q menegaskan kerentanan terhadap fluktuasi musiman. Pertumbuhan sektor jasa dan industri menunjukkan Lampung memiliki ruang untuk transformasi, dan di sinilah peran gubernur menjadi krusial, mengarahkan ekonomi dari sekadar stabil menjadi lebih bernilai tambah.
Lampung kini menyumbang hampir 10 persen terhadap PDRB Sumatera, lebih tinggi dari rata-rata regional 4,81 persen, mempertegas posisi strategis provinsi di Pulau Sumatera.
Tahun 2025 adalah tahun menegaskan kendali gubernur dalam menjaga pertumbuhan tetap sehat, menyambungkan kebijakan, dan menyiapkan langkah berikutnya.
Tantangan 2026 adalah mengubah stabilitas menjadi lompatan nyata melalui hilirisasi komoditas, perbaikan logistik, dan pengembangan industri bernilai tambah. Jika eksekusi konsisten, pertumbuhan Lampung berpotensi meningkat ke kisaran 5,5–6 persen, sekaligus memperluas lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Narasi Lampung akan bergeser dari sekadar “tumbuh stabil” menjadi tumbuh transformatif, menegaskan Gubernur Rahmat Mirzani sebagai penjaga momentum sekaligus arsitek masa depan ekonomi Lampung.(iwa)
