Fakta Dibalik Pertumbuhan Ekonomi Lampung 5,28%, Kemiskinan Kini Satu Digit

NOMICS.ID – Pertumbuhan 5,28 persen pada 2025 bukan sekadar angka bagi Lampung. Geliat itu menandai perubahan kualitas pembangunan yang terukur. Dalam enam tahun terakhir, tingkat kemiskinan Lampung bergerak turun perlahan namun konsisten dari 12,30 persen (September 2019), 12,34 persen (Maret 2020), 12,76 persen (September 2020), 12,62 persen (Maret 2021), 11,67 persen (September 2021), 11,57 persen (Maret 2022), 11,44 persen (September 2022), 11,11 persen (Maret 2023), 10,69 persen (Maret 2024), 10,62 persen (September 2024), 10,00 persen (Maret 2025), hingga akhirnya menyentuh 9,66 persen pada September 2025. Di balik akselerasi ekonomi itu, tersimpan tonggak baru yang paling substantif yaitu untuk pertama kalinya dalam periode terkini, kemiskinan Lampung resmi berada di satu digit. Sinyal bahwa pertumbuhan mulai bergeser dari sekadar cepat menuju lebih adil dan inklusif.

Capaian ini menandai tahun pertama kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, di mana stabilitas ekonomi terjaga di tengah gejolak global. Pada Triwulan IV-2025, ekonomi Lampung masih tumbuh 5,54 persen secara tahunan. Memang, terjadi kontraksi kuartalan 3,05 persen akibat penurunan musiman sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan (-17,14 persen). Namun sektor jasa, industri pengolahan, transportasi, serta akomodasi dan makanan-minuman tetap tumbuh positif,  menunjukkan struktur ekonomi Lampung mulai lebih terdiversifikasi dan tidak lagi terlalu rapuh terhadap siklus agraris.

Dari sisi pengeluaran, mesin pertumbuhan bergerak seimbang. Ekspor barang dan jasa tumbuh 7,2 persen, investasi 5,28 persen, dan konsumsi rumah tangga 4,94 persen. PDRB per kapita naik dari Rp51,39 juta menjadi Rp55,01 juta, menandai langkah awal peningkatan kesejahteraan yang lebih merata. Secara regional, Lampung kini menyumbang hampir 10 persen terhadap PDRB Sumatra, mempertegas posisinya sebagai simpul ekonomi penting di pulau ini.

Yang lebih bermakna, pertumbuhan ini berjalan seiring perbaikan distribusi. Gini Ratio Lampung turun menjadi 0,287, jauh lebih rendah dari nasional 0,363. Ketimpangan menyempit terutama di perkotaan, sementara perdesaan tetap relatif merata. Fakta bahwa sekitar 23 persen pengeluaran kelompok 40 persen terbawah digunakan untuk kebutuhan dasar menunjukkan daya beli kelas bawah mulai terjaga, bukan tergerus.

Fondasi capaian ini tetap bertumpu pada pertanian. Produksi padi Lampung melonjak menjadi 3,25 juta ton GKG (setara 1,87 juta ton beras), naik 16,53 persen dari 2024. Produksi jagung mencapai 1,26 juta ton, meningkat 13,7 persen seiring perluasan area panen 14,39 persen. Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Lampung Selatan menjadi motor utama ketahanan pangan sekaligus penopang pendapatan petani.

Pemerintah Provinsi memperkuat arah ini melalui strategi hilirisasi berbasis program Lampung Maju melalui pembangunan dryer gabah, penggilingan desa, serta kemitraan dengan industri pengolahan lokal. Kebijakan ini tidak hanya menaikkan produksi, tetapi meningkatkan nilai tambah, menstabilkan harga, dan melindungi petani dari volatilitas pasar global. Distribusi pupuk organik dan subsidi pertanian dalam Program Desaku Maju turut mendorong produktivitas sekaligus keberlanjutan lahan.

Di pasar kerja, Lampung mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 4,14 persen, terendah kelima di Sumatra. Sektor primer masih menyerap 41,9 persen tenaga kerja, diikuti perdagangan dan industri. Tantangannya tetap nyata, 65,8 persen pekerja masih berada di sektor informal dan terjadi mismatch antara pendidikan menengah dengan kebutuhan industri. Agenda 2026 harus berfokus pada penciptaan lebih banyak pekerjaan formal berbasis industri dan jasa bernilai tambah.

Meski kemiskinan telah turun ke 9,66 persen, wajah kemiskinan Lampung masih didominasi perdesaan. Hampir 75 persen pengeluaran rumah tangga miskin terserap untuk pangan, terutama beras. Ini menegaskan bahwa strategi ke depan harus lebih tajam ke industrialisasi berbasis agro, peningkatan produktivitas petani, dan perluasan lapangan kerja formal di desa.

Sepanjang 2025, Lampung memanfaatkan momentum melalui berbagai even strategis. FESyar Sumatra 2025 memperkuat ekosistem ekonomi syariah, sementara Lampung Economic and Investment Forum (LEIF) 2025 membuka pintu investasi di pertanian modern, hilirisasi, energi terbarukan, dan pariwisata hijau. Festival seperti Lampung Coffee Festival dan Lampung Expo menjadi etalase komoditas lokal sekaligus penggerak UMKM dan pariwisata.

NOMICS.ID menilai, 2025 menandai tiga keberhasilan Lampung, yakni pertumbuhan yang stabil, pemerataan yang membaik, dan ketahanan pangan yang menguat. Tantangan 2026 adalah mengubah stabilitas ini menjadi lompatan nyata melalui hilirisasi lebih luas, perbaikan logistik, proteksi pasar, dan industrialisasi agro. Dengan eksekusi konsisten, Lampung berpotensi tumbuh 5,5–6 persen, memperluas lapangan kerja formal, dan menurunkan kemiskinan lebih jauh.

Sekali lagi,  cerita ekonomi Lampung 2025 bukan hanya tentang 5,28 persen. Ini tentang transformasi yang mulai terasa. Pertanian lebih produktif, ketimpangan menyempit, pengangguran terkendali. Dan yang paling penting, kemiskinan berhasil turun ke satu digit. Jika momentum ini terjaga, Lampung tidak sekadar stabil, tetapi benar-benar siap bertransformasi menjadi provinsi yang maju, mandiri, dan inklusif. (IWA)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *