Sisa KA 28% Capai 1,7 Juta Ton, Kualitas Jagung Lampung Naik Kelas Berkat Program Dryer

@i-nomics

Lampung menutup 2025 dengan capaian strategis di sektor pangan, terutama pada komoditas jagung. Produksi jagung pipilan kering kadar air 28 persen (JPK-KA 28%) mencapai 1,70 juta ton sepanjang 2025, dengan puncak produksi pada Juli sebesar 222,11 ribu ton. Angka ini menandai lompatan penting, bukan sekadar volume panen yang meningkat, tetapi kualitas pascapanen yang semakin terkendali.

Luas panen jagung pipilan tercatat 194,49 ribu hektare, naik 24,47 ribu hektare (14,39 persen) dibanding 2024. Produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen (JPK-KA 14%) pun meningkat menjadi 1,26 juta ton, atau naik 13,70 persen dari tahun sebelumnya. Pergeseran puncak panen dari Maret 2024 ke Juli 2025 menunjukkan pola tanam yang lebih adaptif terhadap iklim dan ketersediaan air.

Namun, yang paling strategis dari capaian ini adalah besarnya produksi KA 28% yang berhasil “diselamatkan” melalui program dryer. Dengan fasilitas pengeringan yang lebih luas, jagung ber-KA 28% dapat diturunkan kadar airnya lebih cepat ke standar pasar (14%), mengurangi susut, menjaga mutu butir, serta meningkatkan harga jual petani.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Lampung, Elvira Umihanni, S.P., M.M., menegaskan bahwa lonjakan produksi jagung dan padi merupakan hasil sinergi kebijakan lintas tingkat pemerintahan.

“Peningkatan produksi padi dan jagung Lampung adalah buah kerja kolaborasi program pusat dan daerah mulai dari bantuan benih, optimalisasi lahan, bantuan alsintan, pembentukan Brigade Pangan, turunnya harga pupuk subsidi, penetapan HPP gabah dan jagung, hingga bantuan Unit Produksi Pupuk Hayati Cair (PHC) kepada kelompok tani,” ujar Elvira., kepada Nomics.ID, Jumat 6 Februari 2026.

Ia menilai rangkaian kebijakan tersebut berdampak langsung pada motivasi dan kepastian usaha tani.

“Berkat program-program ini, petani menjadi lebih bersemangat menanam dan memelihara usahatani. Risiko berkurang, kepastian meningkat, dan produksi terdorong lebih tinggi,” katanya.

Elvira juga menyoroti kebijakan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani yang mendorong petani ubikayu beralih ke jagung dan padi gogo, didukung kemudahan akses KUR Bank Lampung.

“Migrasi komoditas ini memperluas ekstensifikasi jagung dan padi gogo di lahan kering, sekaligus memperkuat basis produksi pangan Lampung tanpa mengorbankan produktivitas,” tegasnya.

Lampung Menguat sebagai Lumbung Pangan

Keberhasilan jagung berjalan seiring dengan lonjakan produksi padi. Sepanjang 2025, luas panen padi Lampung mencapai 596,02 ribu hektare, naik 12,09 persen dari 2024. Produksi padi tercatat 3,25 juta ton gabah kering giling (GKG) setara 1,87 juta ton beras, meningkat 16,53 persen dibanding tahun sebelumnya.

Puncak panen padi terjadi pada April 2025 dengan produksi 797,74 ribu ton GKG, sementara produksi terendah terjadi pada Januari. Untuk awal 2026, BPS memproyeksikan potensi produksi padi Januari–Maret mencapai 921,93 ribu ton GKG atau setara 529,97 ribu ton beras, lonjakan signifikan dibanding periode sama tahun lalu.

Secara wilayah, Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Lampung Selatan menjadi penyumbang utama produksi padi. Lampung Selatan mencatat kenaikan paling tajam, melonjak 45 persen dibanding 2024. Hanya Lampung Barat yang mengalami penurunan produksi.

Akurasi data didukung metode Survei Kerangka Sampel Area (KSA) dan Survei Ubinan BPS, yang memungkinkan pemantauan kondisi pertanaman secara bulanan dan proyeksi produksi hingga tiga bulan ke depan menjadi dasar perencanaan pangan daerah.

Capaian 2025 menempatkan Lampung pada dua posisi kunci. Pertama sebagai produsen jagung utama Sumatera dengan mutu yang terus naik kelas. Kedua, Lampung lumbung beras nasional yang stabil dan andal.

Keberhasilan mengelola 1,7 juta ton KA 28% melalui program dryer menjadi bukti bahwa transformasi pertanian Lampung tidak hanya berorientasi pada kuantitas, tetapi juga kualitas, efisiensi, dan keberlanjutan.

Dengan kombinasi perluasan lahan, modernisasi pascapanen, dan dukungan kebijakan yang konsisten, Lampung tidak sekadar memanen lebih banyak, tetapi memanen lebih baik.***

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *