Bandar Lampung — Pengamat ekonomi yang juga Ketua Dewan Kehormatan Kadin Lampung, Yusuf Kohar, menilai capaian pertumbuhan ekonomi Lampung di kisaran 5 persen belum bisa disebut sebagai prestasi luar biasa. Menurutnya, angka tersebut sejatinya sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu dan tidak mencerminkan lompatan struktural ekonomi daerah.
Yusuf menyatakan bahwa pertumbuhan sekitar 5,2 persen lebih tepat dibaca sebagai kondisi normal, bukan keberhasilan kebijakan. Dengan potensi sumber daya alam, basis pertanian, serta posisi strategis yang dimiliki Lampung, ia menilai provinsi ini semestinya mampu tumbuh di kisaran 6–7 persen.
“Sejak dulu Lampung sudah tumbuh di sekitar 5,2 persen. Dengan potensi yang ada, seharusnya angka itu bisa lebih tinggi, minimal setara atau bahkan melampaui beberapa daerah di Sulawesi yang pertumbuhannya lebih kencang,” ujar Yusuf.
Ia menekankan bahwa persoalan utama bukan pada besaran pertumbuhan, melainkan kualitas pertumbuhan itu sendiri. Menurutnya, Lampung masih terlalu bertumpu pada produksi berbasis volume tanpa diiringi peningkatan produktivitas dan kualitas secara merata.
Yusuf mencontohkan Gorontalo sebagai perbandingan. Meskipun bukan produsen jagung terbesar, daerah tersebut mampu menghasilkan jagung dengan produktivitas dan kualitas yang lebih baik, sehingga memiliki harga jual lebih tinggi dan memberikan nilai tambah lebih besar bagi petani.
“Gorontalo menunjukkan bahwa yang penting bukan hanya banyak produksi, tetapi bagaimana memproduksi dengan lebih produktif dan berkualitas. Lampung belum maksimal di titik ini,” katanya.
Ia mendorong pemerintah daerah untuk lebih aktif menggerakkan sektor produksi, memperkuat hilirisasi, serta meningkatkan teknologi dan tata kelola pertanian agar nilai tambah tetap tinggal di Lampung.
Menurut Yusuf, tanpa perubahan cara berproduksi dan strategi pembangunan ekonomi, Lampung berpotensi terus terjebak pada pertumbuhan menengah di kisaran 5 persen.
“Lampung butuh revolusi produktivitas, bukan sekadar bertahan pada angka pertumbuhan yang sudah lama terjadi,” tutupnya.(i-nomics)
