BANDARLAMPUNG — Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, Indonesia kembali mengangkat Pancasila sebagai fondasi persatuan nasional sekaligus modal menghadapi tantangan ekonomi dan geopolitik dunia.
Pesan tersebut mengemuka dalam Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 yang digelar Pemerintah Provinsi Lampung di Lapangan Korpri, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, Senin (1/6/2026).
Bertindak sebagai inspektur upacara, Pangdam XXI/Radin Inten Mayor Jenderal TNI Kristomei Sianturi membacakan sambutan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang menegaskan bahwa Pancasila tetap relevan sebagai jangkar moral bangsa di tengah perubahan global yang semakin kompleks.
Tema tahun ini, “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, tidak hanya berbicara mengenai persatuan nasional, tetapi juga menegaskan posisi Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan internasional, mulai dari konflik geopolitik, fragmentasi ekonomi, hingga disrupsi teknologi.
“Pancasila adalah bintang penuntun yang telah membuktikan ketangguhannya. Di tengah dunia yang diwarnai ketidakpastian dan ancaman fragmentasi, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman dapat disatukan dalam satu ikatan kebangsaan,” kata Kristomei.
Dalam perspektif pembangunan, stabilitas sosial dan politik merupakan salah satu prasyarat utama pertumbuhan ekonomi. Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa konflik sosial, polarisasi politik, dan ketidakpastian institusi sering kali menjadi faktor yang menghambat investasi dan memperlambat pembangunan.
Indonesia selama ini relatif mampu menjaga stabilitas tersebut meskipun memiliki tingkat keberagaman yang sangat tinggi. Lebih dari 17 ribu pulau, ratusan kelompok etnis, serta berbagai latar belakang agama dan budaya hidup dalam satu sistem kebangsaan yang sama.
Karena itu, Pancasila tidak hanya dipandang sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai modal sosial yang memiliki nilai strategis bagi keberlanjutan pembangunan.
Dalam sambutan BPIP juga ditegaskan bahwa Indonesia memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dunia sebagaimana amanat konstitusi. Nilai musyawarah, dialog, dan penghormatan terhadap kemanusiaan dinilai menjadi instrumen penting dalam menghadapi meningkatnya ketegangan global.
Di tingkat domestik, BPIP mengingatkan bahwa implementasi nilai-nilai Pancasila harus tercermin dalam kebijakan publik yang menjamin keadilan sosial, memperluas akses pelayanan dasar, serta memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal dari proses pembangunan.
Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga oleh kemampuan bangsa menjaga persatuan, keadilan, dan kepercayaan sosial.
Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, stabilitas yang dimiliki Indonesia dapat menjadi keunggulan kompetitif. Dan di balik stabilitas itu, terdapat satu fondasi yang terus dijaga sejak republik ini lahir: Pancasila.(putri)
