FAO Sebut Indonesia Produsen Beras Terbesar ASEAN, Lampung Ikut Menopang dari Lumbung Pangan Sumatera

FAO menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar ASEAN dan peringkat keempat dunia. Capaian ini turut ditopang daerah surplus pangan seperti Lampung yang memproduksi beras jauh di atas kebutuhan masyarakatnya sendiri.

JAKARTA — Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara sekaligus peringkat keempat dunia pada 2025. Di balik capaian tersebut, terdapat kontribusi daerah-daerah sentra pangan nasional yang selama ini menjadi pemasok utama beras, salah satunya Provinsi Lampung.

Lampung memiliki posisi strategis dalam peta pangan nasional karena produksi padinya secara konsisten berada jauh di atas kebutuhan konsumsi penduduknya sendiri. Surplus yang dihasilkan setiap tahun menjadikan Lampung sebagai salah satu penyangga pasokan beras nasional, terutama bagi wilayah perkotaan dan provinsi yang mengalami defisit produksi.

Berdasarkan laporan Food Outlook FAO edisi Juni 2026, Indonesia berada di bawah India, Tiongkok, dan Bangladesh dalam daftar produsen beras terbesar dunia. Namun menariknya, dari empat negara tersebut hanya Indonesia dan Tiongkok yang diproyeksikan masih mencatat pertumbuhan produksi positif.

Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan FAO kembali mengakui posisi Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara.

“FAO kembali menempatkan Indonesia sebagai negara produsen beras tertinggi di Asia Tenggara dan juga menjadi tertinggi keempat dunia setelah India, China, dan Bangladesh,” ujar Amran.

Lebih dari sekadar mempertahankan posisi, Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan kenaikan produksi beras terbesar di antara produsen utama dunia. Produksi nasional diperkirakan meningkat lebih dari 4 juta ton dibanding periode sebelumnya.

Kenaikan tersebut jauh melampaui India yang bertambah sekitar 1,7 juta ton, Brasil 1,5 juta ton, dan Bangladesh sekitar 1,1 juta ton.

Lampung dan Peran Daerah Surplus

Bagi Lampung, capaian tersebut memiliki arti tersendiri. Selama bertahun-tahun provinsi ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional dengan basis produksi padi yang kuat di Kabupaten Lampung Tengah, Lampung Timur, Pringsewu, Pesawaran, Tulang Bawang, hingga Mesuji.

Produksi beras Lampung secara umum berada di atas kebutuhan konsumsi masyarakatnya. Kondisi itu membuat Lampung tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam daerah, tetapi juga berkontribusi memasok wilayah lain di Indonesia.

Dalam konteks ketahanan pangan nasional, daerah surplus seperti Lampung memiliki peran yang sama pentingnya dengan kebijakan pemerintah pusat. Ketika produksi meningkat dan stok nasional bertambah, sebagian keberhasilan tersebut sesungguhnya berasal dari produktivitas sawah-sawah di daerah yang menghasilkan surplus pangan.

Stok Beras Nasional Pecah Rekor

FAO juga mencatat peningkatan stok beras Indonesia menjadi salah satu faktor yang menopang ketahanan pangan dunia.

Cadangan beras pemerintah yang dikelola Bulog hingga Juni 2026 mencapai sekitar 5,2 juta ton, salah satu level tertinggi dalam sejarah modern perberasan Indonesia.

FAO bahkan memproyeksikan stok beras Indonesia dapat meningkat menjadi sekitar 7,5 juta ton pada periode 2025/2026 dan mencapai 7,8 juta ton pada 2026/2027.

Kondisi tersebut membuat Indonesia tidak hanya kuat dari sisi produksi, tetapi juga semakin kokoh dari sisi cadangan pangan.

Harga Stabil, Petani Tetap Untung

Menariknya, peningkatan produksi tidak diikuti tekanan harga yang merugikan petani.

FAO mencatat Indonesia mampu menjaga keseimbangan antara ketersediaan stok, stabilitas harga konsumen, dan kesejahteraan petani.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan indeks harga yang diterima petani padi pada Mei 2026 mencapai 147,97, tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Sementara Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor tanaman pangan berada di level 113,79, tertinggi sepanjang tahun 2026.

Artinya, keberhasilan meningkatkan produksi tidak hanya memperkuat ketahanan pangan nasional, tetapi juga tetap memberikan insentif ekonomi bagi petani untuk terus menanam padi.

Bagi Lampung, kondisi ini menjadi sinyal positif. Sebagai salah satu daerah penghasil beras utama di Indonesia, peningkatan produksi nasional yang mendapat pengakuan FAO menunjukkan bahwa peran daerah-daerah surplus pangan semakin penting dalam menjaga stabilitas pangan nasional sekaligus menopang posisi Indonesia sebagai salah satu raksasa beras dunia.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *