Inggris kembali menjadi korban comeback Albiceleste. Kini, Spanyol berdiri di depan pintu sejarah, membawa kenangan manis 2010 sekaligus catatan yang belum sepenuhnya tuntas melawan Argentina.
NOMICS.ID – Argentina kembali melakukannya.
Ketika Anthony Gordon membawa Inggris unggul pada menit ke-55 semifinal Piala Dunia FIFA 2026, harapan publik The Three Lions mulai membumbung. Tiket menuju final tampak sudah berada dalam genggaman.
Namun, sejarah seperti kembali memilih berpihak kepada Albiceleste.
Enzo Fernández menyamakan kedudukan lima menit menjelang waktu normal berakhir. Ketika Inggris mulai bersiap menghadapi babak tambahan, Lautaro Martínez justru memukul mereka lewat gol pada masa injury time.
Skor 2-1 menjadi akhir dari semifinal yang dramatis.
Bagi Argentina, itu adalah kemenangan.
Bagi Inggris, itu adalah babak baru dari luka lama yang seolah tak pernah benar-benar sembuh.
Bukan kali pertama Argentina mematahkan mimpi mereka di Piala Dunia. Maradona dengan “Hand of God” dan “Goal of the Century” pada 1986 masih menjadi cerita yang diwariskan lintas generasi. Adu penalti pada 1998 juga masih menyisakan kenangan pahit. Kini, pada 2026, daftar itu kembali bertambah.
Namun, pekerjaan Argentina belum selesai.
Di partai final telah menunggu Spanyol.
La Roja datang bukan dengan beban sebesar Inggris, tetapi mereka juga membawa sepotong sejarah yang belum benar-benar lunas.
Spanyol memang pernah menjadi raja dunia pada 2010. Generasi emas yang dipimpin Andrés Iniesta mengangkat trofi untuk pertama kalinya dan mengubah wajah sepak bola dunia melalui permainan tiki-taka.
Setelah itu, kejayaan perlahan memudar. Juara bertahan tersingkir di fase grup pada 2014, kemudian gagal melangkah jauh pada 2018 dan 2022. Final Piala Dunia 2026 menjadi kesempatan pertama Spanyol kembali merebut mahkota dunia setelah penantian selama 16 tahun.
Di sisi lain, hubungan Spanyol dan Argentina di Piala Dunia memang tidak dipenuhi rivalitas panas seperti Argentina kontra Inggris. Namun, sejarah mencatat Argentina pernah menyingkirkan Spanyol pada Piala Dunia 1966 dan mengalahkannya pada fase grup Piala Dunia 1978.
Rekam jejak itu memang bukan “kutukan”, tetapi cukup menjadi pengingat bahwa Argentina bukan lawan yang mudah ditaklukkan ketika panggung terbesar sepak bola dibuka.
Final nanti karena itu menghadirkan dua cerita yang berbeda.
Argentina datang membawa kepercayaan diri setelah kembali menghukum Inggris di laga yang penuh emosi. Spanyol datang membawa ambisi mengembalikan kejayaan yang telah hilang selama satu setengah dekade.
Jika Inggris melawan bayang-bayang masa lalu, maka Spanyol sedang mengejar masa depan.
Dan di antara keduanya, Argentina akan mencoba membuktikan bahwa kemenangan atas Inggris bukan sekadar mengulang sejarah, melainkan langkah menuju babak baru sebagai penguasa dunia.(iwa)
