Jagung Jadi Pakan, Gubernur Mirza Ingin Harga Ayam Lebih Murah dan Protein Anak Meningkat

LAMPUNG SELATAN — Pemerintah Provinsi Lampung mendorong agar jagung tidak berhenti sebagai komoditas hasil panen, tetapi diolah menjadi pakan ternak untuk menekan biaya produksi peternak sekaligus membuat harga ayam lebih terjangkau bagi masyarakat.

Gagasan itu disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat meninjau mesin pengering hasil pertanian (bed dryer) dan pelaksanaan program Pupuk Hayati Cair (PHC) di Desa Marga Jasa, Kecamatan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan, Selasa (1/9/2026).

Menurut Mirza, pengolahan jagung menjadi pakan merupakan bagian penting dari upaya membangun rantai nilai pertanian yang lebih panjang di tingkat desa.

Selama ini, jagung hasil panen banyak dijual sebagai bahan mentah. Dengan dukungan fasilitas pengeringan dan pengolahan, komoditas tersebut dapat dikembangkan menjadi bahan baku pakan ternak sehingga nilai tambahnya tidak seluruhnya keluar dari desa.

“Kalau pakan bisa dibuat sendiri dengan harga sekitar Rp6.000–Rp7.000, maka harga pakan menjadi lebih murah. Dampaknya, harga ayam juga bisa lebih terjangkau. Kalau harga ayam turun, konsumsi protein masyarakat, terutama anak-anak bisa meningkat,” kata Mirza.

Bagi pemerintah daerah, rantai tersebut tidak berhenti pada persoalan harga jagung. Ada hubungan langsung antara produksi jagung, biaya pakan, harga ayam dan akses masyarakat terhadap protein. Karena itu, pengembangan jagung sebagai bahan baku pakan dinilai dapat memberi dampak lebih luas daripada sekadar meningkatkan pendapatan petani.

Langkah awalnya dilakukan melalui teknologi pascapanen.

Dalam kunjungannya, Mirza melihat langsung pemanfaatan bed dryer untuk mengeringkan jagung. Fasilitas tersebut memungkinkan hasil panen dikeringkan sebelum dipasarkan sehingga petani tidak sepenuhnya bergantung pada penjualan jagung dalam kondisi basah.

Jagung yang telah dikeringkan memiliki peluang lebih besar untuk dikonsolidasikan dan diolah lebih lanjut.

“Ini merupakan bentuk sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Produktivitas ditingkatkan, harga dijaga, kemudian kita lengkapi dengan fasilitas pengeringan,” ujar Mirza.

Menurutnya, hasil pertanian yang telah dikeringkan selanjutnya dapat dikonsolidasikan melalui koperasi desa. Dengan demikian, koperasi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga ekonomi, tetapi juga menjadi simpul pengumpulan dan distribusi hasil pertanian.

“Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi tidak hanya terjadi di kota, tetapi tumbuh dari desa. Ini yang kita dorong sesuai dengan arahan Presiden Prabowo,” katanya.

Konsep tersebut membuka kemungkinan terbentuknya rantai ekonomi yang lebih pendek: petani menghasilkan jagung, desa mengeringkan dan mengonsolidasikannya, kemudian jagung diolah menjadi pakan untuk memenuhi kebutuhan peternak.

Jika rantai itu berjalan, nilai tambah tidak berhenti pada komoditas primer.

Menekan biaya dari hulu

Bagi sektor peternakan, pakan merupakan salah satu komponen penting dalam biaya produksi. Karena itu, menurut Mirza, pengembangan pakan berbasis bahan baku lokal dapat menjadi salah satu cara menekan biaya produksi peternak.

Target harga pakan sekitar Rp6.000–Rp7.000 per kilogram yang disampaikan Mirza menjadi gambaran arah yang ingin dicapai pemerintah.

Logikanya, semakin efisien biaya pakan, semakin terbuka ruang bagi penurunan biaya produksi ayam. Pada tahap berikutnya, efisiensi tersebut diharapkan dapat tercermin pada harga yang dibayar konsumen.

Dampaknya tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek pangan dan gizi. Harga ayam yang lebih terjangkau akan memperbesar peluang masyarakat memperoleh sumber protein hewani, terutama bagi anak-anak.

Dengan demikian, jagung ditempatkan bukan sekadar sebagai komoditas pertanian, tetapi sebagai bagian dari rantai pangan–peternakan–gizi.

Karena itu, keberadaan bed dryer menjadi lebih strategis daripada sekadar fasilitas pengeringan.

Teknologi tersebut menjadi tahap awal untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual jagung sekaligus membuka jalan menuju pengolahan lebih lanjut.

Jika produksi, pengeringan, pengumpulan melalui koperasi dan pengolahan pakan dapat terhubung, desa berpeluang tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga memperoleh bagian dari nilai tambah.

Model seperti ini sejalan dengan gagasan Mirza untuk membangun pertumbuhan ekonomi yang berasal dari desa.

PHC melengkapi ekosistem

Dalam kunjungan yang sama, Mirza juga meninjau produksi Pupuk Hayati Cair (PHC), termasuk proses fermentasi dan pengukuran tingkat keasaman menggunakan pH meter.

Menurutnya, PHC dapat menjadi bagian lain dari ekosistem ekonomi desa karena bahan-bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat dimanfaatkan kembali sebagai input pertanian.

“Ini konsep circular economy desa,” katanya.

Penggunaan PHC ditargetkan dapat meningkatkan produktivitas berbagai komoditas pertanian sekitar 15–20 persen, sekaligus menekan biaya produksi dan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Namun Mirza menekankan bahwa keberhasilan program tersebut tidak cukup hanya dengan menyediakan pupuk. Petani membutuhkan pendampingan agar penggunaan PHC sesuai dengan kebutuhan dan menghasilkan peningkatan produktivitas.

“Penyuluh harus menjadi bagian penting dalam membantu program PHC. Petani harus didampingi agar penggunaan pupuk ini benar-benar memberikan hasil dan meningkatkan produktivitas,” ujarnya.

Dua program itu—pengeringan hasil panen dan PHC diarahkan pada tujuan yang sama, meningkatkan produktivitas dari hulu, menekan biaya produksi, dan mempertahankan nilai tambah di tingkat masyarakat desa.

Bagi Lampung, gagasan pengolahan jagung menjadi pakan membawa agenda yang lebih besar. Bukan hanya bagaimana menghasilkan lebih banyak jagung, tetapi bagaimana mengubah jagung menjadi produk yang memberi nilai ekonomi lebih tinggi dan sekaligus membuat pangan sumber protein lebih terjangkau.

“Desa adalah fondasi kemajuan masa depan Lampung. Kita harus membangun ekonomi yang tumbuh dari desa, meningkatkan produktivitas petani, mengurangi biaya produksi, dan memastikan nilai tambah tetap berada di masyarakat,” pungkas Mirza.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *