Bagian 4 dari 4 seri Infrastruktur Lampung
Sebagai penutup, tulisan ini mengulas arah kebijakan yang diperlukan agar pembangunan jalan tidak hanya masif, tetapi juga merata dan berkelanjutan.
@Iwa Perkasa
PADA akhirnya, semua jalan di Lampung bermuara pada satu pertanyaan sederhana, “Apakah benar-benar memudahkan hidup orang banyak? Bukan sekadar mulus di satu ruas, tapi terhubung dari awal sampai tujuan. Pertanyaan itu sudah mulai terjawab. Bahkan gencar dilakukan, meski jujur mengatakan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Untuk mulus sampai ke tujuan, perlu kerjasama kuat dengan kabupaten/kota.
Fakta, selama ini banyak kemajuan sudah dicapai. Jalan nasional kuat, jalan provinsi semakin baik. Fakta lain yang harus diakui, perjalanan kita sampai hari ini masih sering terganggu oleh gelombang, lubang, bahkan lumpur.
Seorang petani tidak hanya butuh jalan provinsi. Ia butuh jalan dari kebun ke jalan utama. Pedagang tidak hanya butuh akses antar kota, tapi juga jalan kecil menuju pasar. Kalau bagian terakhir ini lemah, maka jalan besar kehilangan sebagian manfaatnya.
Seperti sungai besar tanpa anak sungai airnya ada, kita tidak akan bisa sampai ke semua tempat.
Sudah waktunya kita melihat pembangunan jalan dengan sudut pandang yang berbeda. Bukan lagi hanya dari jalan utama ke pusat kota, tapi dari pinggiran ke pusat aktivitas ekonomi.
Artinya, jalan kabupaten dan desa perlu mendapat perhatian lebih. Konektivitas ke sentra produksi harus jadi prioritas dan bukan sekadar panjang jalan, tapi dampaknya. Karena justru di “pinggir” inilah denyut ekonomi sehari-hari berlangsung.
Masalahnya, konektivitas tidak bisa diselesaikan oleh satu level pemerintahan saja.
Provinsi punya peran sebagai penghubung utama. Kabupaten/kota memegang akses langsung ke masyarakat. Keduanya seperti dua sisi yang saling melengkapi.
Kalau berjalan sendiri-sendiri, hasilnya akan timpang. Tapi kalau terhubung, dampaknya bisa jauh lebih besar.
Di sinilah pentingnya arah kebijakan yang selaras, bukan hanya dalam rencana, tapi juga dalam anggaran dan prioritas.
Menjaga yang Sudah Dibangun
Selain membangun, ada satu hal yang sering lebih sulit, yaitu menjaga.
Banyak jalan rusak bukan karena tidak pernah diperbaiki, tapi karena tidak cukup dijaga. Beban kendaraan berlebih, kualitas konstruksi yang tidak konsisten, hingga pemeliharaan yang terlambat. Semua itu berperan mempercepat kerusakan.
Ibarat jalan yang sudah baik, tapi terus-menerus dipaksa menahan beban di luar kemampuannya.
Kalau ini tidak dikendalikan, pembangunan akan terus berputar di tempat.
Kabar baiknya, Lampung tidak memulai dari nol.
Fondasi jalan utama sudah terbentuk. Arah pembangunan mulai bergeser ke kualitas. Kesadaran untuk memperbaiki titik-titik lemah juga semakin terlihat.
Artinya, jalan menuju perbaikan itu ada, tinggal bagaimana dijaga konsistensinya.
Pemerintah telah menggelontorkan banyak tenaga dan modal. Jika masyarakat ikut menjaga, maka modal besar untuk perbaikkan jalan bisa dihemat untuk membangun sekolah, pasar, bahkan, hingga membiayai mimpi-mimpi kita untuk hidup bahagia sejahtera.(*****)
