Tiga Dekade Menunggu, Warga Ucapkan Selamat Tinggal Jalan Retak

Di pagi yang sederhana di hamparan Tulang Bawang, ada sesuatu yang tak biasa terasa di udara. Bukan sekadar debu jalanan yang selama puluhan tahun beterbangan, melainkan harapan yang perlahan menemukan bentuknya. Warga berkumpul, sebagian berdiri di tepi jalan yang retak, sebagian lagi menatap alat berat yang mulai bergerak. Sebuah pemandangan yang selama ini hanya menjadi cerita. Hari ini berbuah senyuman.

Groundbreaking pembangunan jalan provinsi ruas Gedong Aji–Umbul Mesir menjadi penanda bahwa mimpi lama warga sebentar lagi menjadi nyata.

Groundbreaking dipimpin langsung oleh Wagub Lampung Jihan Nurlela. Awalnya mengira, acara  itu seperti seremoni biasa, nyatanya menjadi momen emosional yang menyatukan ingatan masa lalu dengan optimisme masa depan.

Seburuk-buruknya jalan itu, bagi warga adalah urat nadi kehidupan. Karena jalur itulah yang menghubungkan hasil panen dengan pasar, anak-anak dengan sekolah.

Selama 30 tahun lebih jalan itu menjadi hambatan ketimbang penghubung. Menjengkelkan, karena belubang-lubang besar, dan tergenang saat hujan.

Jalan itu menjadi penyebab rusaknya dandanan “emak-emak” saat pergi ke perta, akibat debu pekat di musim kemarau dan bikin anak-anak sekolah batuk-batuk.

Tapi itu dulu. Tahun 2026 ini beda.

Di bawah kepemimpinan Rahmat Mirzani Djausal bersama wakilnya, pemerintah provinsi akhirnya mengalokasikan anggaran sebesar Rp135 miliar untuk membangun jalan sepanjang 13 kilometer dengan konstruksi rigid beton. jenis konstruksi yang menjanjikan daya tahan lebih lama.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin hanya bagian dari laporan anggaran. Namun bagi warga Tulang Bawang, itu adalah bentuk nyata dari perhatian yang selama ini terasa jauh.

Ketiga Groundbreaking, suasana haru tak bisa disembunyikan. Hankam Hasan menyebut hari itu sebagai momen luar biasa. Bukan hanya karena pembangunan dimulai, tetapi karena kehadiran pemerintah terasa begitu dekat.

Ucapan terima kasih mengalir. Bukan dalam bahasa formal, melainkan dalam nada tulus yang lahir dari pengalaman panjang menunggu.

Di tingkat desa, cerita itu bahkan lebih personal. Sahel Sa’dullah mengingat betul bagaimana jalan ini menjadi keluhan turun-temurun. Menjadi ladang caci-maki berkepanjangan.

Sahel menyaksikan sendiri bagaimana warga harus beradaptasi dengan kondisi jalan yang tak pernah benar-benar layak. Kini, saat alat berat mulai bekerja, ada rasa lega yang sulit digambarkan.

Di sudut lain, seorang warga bernama Surati menyimpan kisah yang lebih panjang. Ia adalah bagian dari generasi transmigrasi sejak 1990-an. Generasi yang datang dengan harapan, tetapi harus bertahun-tahun hidup dengan akses yang terbatas. Baginya, pembangunan jalan ini bukan hanya soal kenyamanan, melainkan tentang martabat.

“Kami baru kali ini merasakan jalan diperbaiki,” ucapnya, sederhana, tetapi sarat makna.

Lebih dari Sekadar Infrastruktur

Pembangunan ruas Gedong Aji–Umbul Mesir adalah satu proyek dari sekian banyak agenda pembangunan. Namun bagi warga, ia memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Ini adalah cerita tentang ketekunan menunggu, tentang suara yang akhirnya didengar, dan tentang bagaimana kebijakan publik menemukan wajah manusianya.

Di atas tanah yang dulu retak dan berlubang, kini harapan mulai dicor, lapis demi lapis, seiring beton yang dituangkan. Dan mungkin, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, jalan ini benar-benar akan membawa warga ke masa depan yang lebih dekat, lebih cepat, dan lebih pasti.

Selamat tinggal jalan retak. Selamat datang jalan beton. Ingat pesan Gubernur Mirza, “Tolong dijaga!”

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *