Kemarau Datang, Sistem Diuji: Ketahanan Pertanian Lampung Dipertaruhkan

Lonjakan irigasi perpompaan jadi andalan menghadapi kemarau, namun tanpa penguatan sistem air dan pasar, risiko berulang tetap mengintai.

@Iwa Perkasa

Lampung tidak sedang sekadar menghadapi kemarau., tetapi sedang diuji, apakah sistem pertaniannya cukup kuat untuk bertahan ketika air menjadi barang langka.

Di provinsi yang menggantungkan stabilitas ekonominya pada sektor pertanian, air bukan hanya soal teknis irigasi. Air adalah penentu produksi, penggerak inflasi, dan pada akhirnya penjaga daya beli masyarakat. Ketika air terganggu, dampaknya tidak berhenti di sawah. Dampaknya menjalar ke pasar, ke harga pangan, hingga ke stabilitas ekonomi daerah.

Dalam konteks itulah, peringatan pemerintah daerah untuk memperkuat ketersediaan air harus dibaca lebih dari sekadar imbauan musiman. Risiko yang dihadapi bukan lagi gangguan biasa, melainkan ancaman sistemik yang dapat memengaruhi keseluruhan rantai ekonomi pertanian.

Respons pemerintah terlihat cepat. Program Irigasi Perpompaan (Irpom) didorong secara agresif, melonjak signifikan dalam dua tahun terakhir hingga menembus lebih dari seribu unit pada 2026. Langkah ini menunjukkan keseriusan menjaga produksi tetap berjalan di tengah ancaman kekeringan.

Dalam jangka pendek, strategi ini rasional. Air dijaga, petani tetap menanam, dan produksi diharapkan tidak jatuh. Namun persoalannya, Lampung tidak sedang berada dalam situasi normal.

Ketergantungan pada pompanisasi menyimpan risiko mendasar. Pompa mampu mengalirkan air, tetapi tidak menyelesaikan persoalan ketersediaan air itu sendiri. Ketika sumber air terbatas, pompa hanya menjadi alat distribusi dari sumber yang sama-sama tertekan. Dalam kondisi seperti ini, ekspansi Irpom berpotensi mengulang pola lama, belanja besar untuk menjaga produksi tetap hidup, tanpa benar-benar mengurangi kerentanan terhadap kemarau.

Pengalaman sebelumnya menunjukkan, pompanisasi kerap menjadi solusi cepat, tetapi jarang menjadi solusi tuntas. Tanpa penguatan di sisi konservasi, seperti embung, waduk kecil, dan pengelolaan air tanah, ketahanan air tetap rapuh. Tahun ini mungkin tertolong, tetapi tahun berikutnya risiko yang sama bisa kembali muncul.

Upaya konservasi memang mulai terlihat, namun porsinya masih tertinggal dibanding pendekatan pompanisasi. Ini menandakan strategi masih lebih banyak bergerak di hilir, menangani dampak, bukan akar persoalan.

Di sisi lain, tantangan tidak berhenti pada air. Pemerintah mulai mendorong perubahan pola tanam di wilayah terdampak, termasuk pengalihan ke komoditas yang lebih tahan kekeringan. Secara teknis, langkah ini tepat. Namun dalam praktik ekonomi, produksi selalu bergantung pada pasar.

Tanpa kepastian serapan dan harga, diversifikasi bisa menjadi pedang bermata dua. Petani mungkin berhasil menghindari gagal panen, tetapi tidak otomatis memperoleh keuntungan yang layak. Dalam kondisi ini, produksi terjaga, tetapi kesejahteraan belum tentu meningkat.

Dampaknya bisa meluas. Ketika pendapatan petani melemah, daya beli di perdesaan ikut turun. Pada saat yang sama, jika produksi terganggu di wilayah lain, harga pangan dapat naik. Kombinasi ini menciptakan tekanan ganda. Inflasi di satu sisi, dan pelemahan konsumsi di sisi lain. Bagi Lampung, ini bukan sekadar persoalan pertanian, tetapi risiko terhadap stabilitas ekonomi daerah.

Mengelola Sistem Pertanian Secara Utuh

Air, produksi, dan pasar adalah tiga pilar yang saling terkait. Ketika satu berjalan tanpa yang lain, keseimbangan mudah terganggu. Irpom bisa menjaga produksi, tetapi tanpa efisiensi biaya dan kepastian harga,  tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan. Sebaliknya, rencana produksi yang tinggi tanpa dukungan air yang memadai hanya akan memperbesar risiko gagal panen.

Lampung hari ini terlihat sedang berlari cepat untuk menjaga stabilitas di tengah tekanan. Itu penting, bahkan mendesak. Namun kecepatan tanpa arah yang terintegrasi berisiko membuat kebijakan berhenti sebagai respons jangka pendek, bukan transformasi jangka panjang.

Ambisi besar Irpom 2026 akan diuji oleh satu pertanyaan mendasar:, apakah ini menjadi titik balik menuju sistem pertanian yang lebih tahan terhadap krisis, atau sekadar cara agar Lampung bisa bertahan satu musim lagi.

Sebab, kemarau bukanlah sesuatu yang bisa dihindari. Yang menentukan adalah apakah dampaknya terus berulang, atau justru menjadi momentum bagi Lampung untuk membangun sistem pertanian yang tidak lagi rapuh setiap kali air menghilang.(*****)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *