Jaga Jalan dari Sekolah ke Jalan Raya

Membangun Kesadaran Menjaga Masa Depan

@Iwa Perkasa

MENJAGA jalan sering dianggap urusan teknis. Padahal, di Lampung, persoalan utamanya justru bukan pada teknologinya, melainkan pada kesadaran yang belum sepenuhnya tumbuh.

Jalan bisa dibangun dengan anggaran besar. Namun tanpa perubahan perilaku, umur jalan bisa jauh lebih pendek dari yang direncanakan. Itulah persoalan kita sebenarnya yang luput, terabaikan, karena miskinnya literasi infrastruktur. Kita selama ini asyik membangun fisik, tetapi belum sepenuhnya membangun budaya menjaganya. Maka, tulisan ini menawarkan pentingnya membangun kesadaran, sekaligus menjaga masa depan dari sekolah.

Mengapa harus dimulai dari sekolah?

Karena kerusakan jalan sering kali bukan dimulai dari aspal, melainkan dari cara pandang. Kesadaran tidak lahir dengan sendirinya. tapi dibentuk, dan sekolah adalah tempat paling awal untuk menanamnya.

Bayangkan seorang siswa yang setiap hari melihat saluran air di tepi jalan tersumbat sampah. Hujan datang, air menggenang, jalan perlahan rusak. Tanpa penjelasan, semua itu tampak biasa, bahkan nyaris tak terlihat sebagai masalah.

Bayangkan pula bila pendidikan bekerja. Ketika guru menjelaskan bahwa genangan air akan merusak struktur jalan dari bawah. Bahwa biaya perbaikan jauh lebih mahal daripada perawatan, maka yang berubah bukan sekadar pengetahuan, tetapi cara melihat dunia.

Dari yang semula abai, menjadi paham. Dari paham, tumbuh kepedulian. Itulah yang selama ini hilang. Literasi tentang infrastruktur nyaris belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Tetapi, tunggu-tunggg-tungga dulu, tidak cukup hanya itu. Kesadaran tidak boleh berhenti di ruang kelas, dipidatokan di halaman sekolah saat upacara bendera oleh kepala sekolah. Kesadaran juga  harus diuji di jalan raya, di ruang nyata, tempat aturan dan kepentingan bertemu.

Di sanalah salah satu sumber kerusakan paling nyata. Jalan raya disesaki kendaraan dengan muatan berlebih. Itu pelanggaran, pasti, tapi dibiarkan. Banyak yang tahu aturan, tetapi tidak benar-benar memahami dampaknya. Atau mungkin saja tahu, tapi membiarkannya karena kepentingan tertentu.

Padahal secara teknis, satu truk overloading dapat memberikan tekanan berlipat pada struktur jalan, setara dengan ribuan kendaraan ringan. Sehingga jalan yang dibangun bertahun-tahun cepat rusak dalam hitungan bulan.

Tanpa pemahaman ini, penertiban akan selalu dianggap sebagai pembatasan. Akan selalu ada resistensi. Namun ketika disadari bahwa jalan rusak menaikkan biaya distribusi, memperlambat arus barang, dan pada akhirnya menggerus ekonomi yang sama-sama ingin dijaga, maka aturan berubah makna, dari sekadar larangan menjadi kebutuhan bersama.

Negara tidak bisa bekerja secara sektoral. Pembangunan jalan tidak cukup diukur dari berapa kilometer yang selesai dibangun. Ukuran yang lebih penting adalah berapa lama jalan itu mampu bertahan.

Untuk itu, dibutuhkan satu ekosistem kesadaran. Dinas Pendidikan menanamkan nilai sejak dini. Dinas Perhubungan menegakkan aturan dengan basis pemahaman. Dinas teknis memastikan kualitas sekaligus memberi contoh praktik yang benar.

Tanpa edukasi, pengawasan akan terasa sebagai beban. Tanpa pengawasan, edukasi akan kehilangan daya.

Ketika masyarakat mulai memahami bahwa sampah di drainase mempercepat kerusakan, bahwa muatan berlebih merusak jalan yang mereka gunakan sendiri, dan bahwa perawatan kecil dapat mencegah kerusakan besar, maka yang terbentuk bukan lagi kepatuhan yang dipaksakan.

Yang tumbuh adalah budaya. Dan budaya selalu bekerja lebih dalam daripada aturan.

Jika kesadaran itu dimulai dari sekolah, diuji di jalan raya, dan dijaga melalui kebijakan yang konsisten dan bersih, maka Lampung tidak hanya membangun jalan. Lampung membangun cara berpikir tentang bagaimana menjaganya.

Maka, yakinlah pembangunan Lampung akan menemukan makna yang sebenarnya.*****

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *