Musrenbang 2026 Mengukuhkan Momentum Ekonomi Lampung

Tekanan global menguji di awal tahun, pemulihan mulai terbentuk, dan Musrenbang 2026 hadir sebagai respons strategis untuk mengakselerasi pertumbuhan berkualitas.

@Iwa Perkasa

Momentum ekonomi Lampung di awal 2026 tidak terbentuk secara tiba-tiba. Ia lahir dari rangkaian dinamika yang tidak ringan, dari tekanan di awal tahun hingga munculnya sinyal pemulihan. Dalam konteks itu, Pemerintah Provinsi Lampung tidak sekadar merespons, tetapi memilih mengukuhkan arah melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) 2026, sebagai titik akselerasi menuju pertumbuhan yang lebih kuat dan merata.

Januari menjadi fase pengujian. Tekanan eksternal meningkat seiring kebijakan suku bunga tinggi oleh Federal Reserve System yang memperkuat dolar AS dan menekan harga komoditas global. Dampaknya terasa pada komoditas unggulan Lampung seperti batu bara, CPO, dan kopi robusta, yang mengalami koreksi dan menahan kinerja sektor eksternal serta penerimaan negara.

Namun tekanan tersebut tidak merambat secara menyeluruh. Fondasi ekonomi domestik tetap bertahan. Aktivitas konsumsi terjaga, sektor manufaktur berada di zona ekspansif, dan pajak dalam negeri mencatat pertumbuhan yang solid. Stabilitas harga yang relatif terkendali bahkan memberi ruang bagi daya beli masyarakat untuk tetap terjaga.

Memasuki Februari, arah mulai bergeser. Pemulihan perlahan terbentuk dan terlihat lebih merata. Neraca perdagangan tetap mencatatkan surplus, konsumsi rumah tangga menguat, dan investasi mulai menunjukkan akselerasi. Inflasi bergerak naik, namun masih dalam batas yang sehat, mencerminkan peningkatan permintaan, bukan tekanan yang berlebihan.

Pada saat yang sama, peran fiskal semakin menguat. Pendapatan negara mulai kembali tumbuh, sementara belanja negara dipercepat melalui kementerian/lembaga dan transfer ke daerah. APBN tidak hanya berfungsi sebagai penyangga, tetapi juga sebagai pengungkit yang menjaga momentum ekonomi tetap bergerak.

Dari rangkaian tersebut, satu kesimpulan mengemuka: Lampung tidak hanya mampu bertahan, tetapi mulai membentuk momentum pertumbuhan.

Momentum inilah yang kemudian diterjemahkan ke dalam arah kebijakan. Musrenbang menjadi penanda bahwa Lampung tidak lagi berada pada tahap membangun fondasi, tetapi mulai memasuki fase akselerasi.

Tema yang diusung, akselerasi pertumbuhan berkualitas melalui produktivitas, investasi, dan industri berbasis potensi daerah, menjadi upaya untuk memastikan momentum tersebut tidak terlepas, sekaligus diarahkan menjadi pertumbuhan yang berdampak nyata.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menegaskan posisi strategis daerah ini dalam konteks nasional, khususnya dalam menopang ketahanan pangan dan mendorong pusat pertumbuhan baru di Sumatera. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota sebagai prasyarat utama percepatan yang merata.

Penegasan tersebut sejalan dengan pandangan Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, yang menekankan bahwa keberhasilan pembangunan sangat bergantung pada keterhubungan perencanaan lintas level pemerintahan. Tanpa orkestrasi yang solid, akselerasi akan sulit terwujud secara optimal.

Kehadiran pemerintah pusat dalam forum Musrenbang semakin memperkuat arah tersebut. Sinkronisasi kebijakan antara pusat dan daerah membuka ruang bagi percepatan program strategis yang lebih terarah dan berdampak.

Di sisi lain, pendekatan pembangunan berbasis desa mempertegas bahwa akselerasi tidak hanya bergerak dari atas, tetapi juga tumbuh dari bawah. Ketika desa berkembang, fondasi ekonomi menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan.

Meski demikian, akselerasi tetap membutuhkan prasyarat yang kuat. Infrastruktur harus terus diperbaiki, hilirisasi membutuhkan kesiapan industri dan pasar, serta efektivitas belanja daerah harus ditingkatkan agar setiap rupiah benar-benar menghasilkan dampak.

Lalu, bagaimana arah berikutnya?

Jika Januari adalah fase pengujian dan Februari adalah fase pembentukan momentum, maka Maret menjadi titik awal akselerasi. Aktivitas ekonomi diperkirakan semakin menguat, didorong oleh konsumsi menjelang Ramadan serta berlanjutnya belanja pemerintah.

Inflasi diproyeksikan berada pada kisaran 3,0%–3,4% (yoy) dengan inflasi bulanan 0,4%–0,7% (mtm), masih dalam batas terkendali. Pertumbuhan ekonomi triwulan I diperkirakan mencapai 4,8%–5,2% (yoy), dengan konsumsi sebagai motor utama dan investasi tumbuh di kisaran 5,0%–5,5%.

Dari sisi fiskal, hingga akhir Maret pendapatan negara diperkirakan mencapai Rp2,4–Rp2,7 triliun, sementara belanja negara berpotensi menembus Rp7,5–Rp8,2 triliun, menegaskan peran APBN sebagai penggerak utama ekonomi daerah.

Dengan seluruh dinamika tersebut, arah Lampung kini semakin jelas. Data ekonomi tidak berhenti sebagai catatan, tetapi menjadi dasar kebijakan. Momentum yang terbentuk tidak dibiarkan berlalu, melainkan diperkuat melalui perencanaan yang terukur.

Melalui Musrenbang 2026, Lampung menegaskan satu hal, ketika fondasi telah teruji dan momentum telah terbentuk, maka langkah berikutnya adalah mengukuhkannya menjadi akselerasi yang nyata, bukan sekadar tumbuh, tetapi tumbuh dengan arah, kualitas, dan dampak yang dirasakan luas oleh masyarakat.*****

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *