Harga Komoditas Lampung Mulai Bergerak Naik, Dipicu Lonjakan Minyak Dunia ke US$ 102 per Barel

Bandar Lampung — Lonjakan harga minyak mentah dunia yang mendorong Indonesian Crude Price (ICP) ke level US$ 102,26 per barel pada Maret 2026 mulai berdampak nyata ke pergerakan komoditas unggulan Lampung. Tekanan geopolitik global yang memicu kenaikan energi tidak hanya mengerek biaya produksi dan logistik, tetapi juga memperkuat harga sejumlah komoditas ekspor daerah.

Di pasar lokal, kopi robusta Lampung menjadi komoditas paling responsif. Harga di tingkat petani saat ini bergerak di kisaran Rp 80.000–Rp 92.000 per kilogram, dengan kecenderungan bertahan tinggi di sentra produksi utama seperti Lampung Barat, Tanggamus, dan Way Kanan. Penguatan ini ditopang kombinasi antara ketatnya pasokan global dan naiknya biaya distribusi internasional akibat mahalnya energi.

Komoditas lada juga menunjukkan penguatan bertahap di kisaran Rp 60.000–Rp 85.000 per kilogram, seiring terbatasnya suplai dari sejumlah negara produsen dan meningkatnya permintaan pasar ekspor. Lampung sebagai salah satu basis produksi lada nasional ikut merasakan tekanan harga positif tersebut, meski tidak sekuat kopi.

Pada komoditas karet, harga bergerak lebih moderat di kisaran Rp 15.000–Rp 18.500 per kilogram. Dampak kenaikan minyak dunia terhadap karet bersifat tidak langsung, terutama melalui kenaikan biaya energi industri global. Namun transmisi harga ke tingkat petani berlangsung lebih lambat karena dipengaruhi permintaan manufaktur yang masih fluktuatif.

Sementara itu, sawit atau crude palm oil (CPO) cenderung menguat terbatas. Di tingkat petani, tandan buah segar (TBS) berada di kisaran Rp 2.200–Rp 2.800 per kilogram, terdorong oleh hubungan erat CPO dengan pasar energi, khususnya biodiesel. Namun penguatan masih tertahan oleh faktor stok global dan dinamika permintaan dari negara importir utama.

Berbeda dengan komoditas ekspor, tekanan justru mulai terasa pada pangan lokal. Harga cabai merah di Lampung berada di kisaran Rp 35.000–Rp 55.000 per kilogram, sementara beras medium di kisaran Rp 12.000–Rp 14.500 per kilogram, dengan kecenderungan naik di sejumlah wilayah akibat meningkatnya biaya distribusi dan transportasi.

Secara keseluruhan, dampak lonjakan harga minyak global terhadap Lampung menciptakan situasi dua arah. Komoditas ekspor utama seperti kopi dan lada berpotensi menikmati penguatan harga, sementara sektor pangan dan komoditas berbasis distribusi domestik menghadapi tekanan biaya yang lebih tinggi.

Kondisi ini menempatkan ekonomi komoditas Lampung dalam fase sensitif. Kenaikan harga energi global tidak hanya menjadi peluang, tetapi juga faktor risiko yang dapat menekan margin usaha jika tidak diimbangi efisiensi logistik dan penguatan rantai pasok di tingkat daerah.

(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *