Daya Tukar Petani Lampung Menguat, Hortikultura Justru Tertekan

BANDAR LAMPUNG — Daya tukar petani Lampung menguat cukup signifikan sepanjang setahun terakhir. Namun, penguatan tersebut belum berlangsung merata di seluruh subsektor pertanian.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Agustus 2026 mencapai 134,81, naik 1,64 persen dibandingkan Juli yang berada pada level 132,64. Jika dibandingkan dengan Agustus 2025, NTP Lampung meningkat 7,50 persen, dari 125,41 menjadi 134,81.

Kenaikan NTP tersebut terutama terjadi karena harga yang diterima petani bergerak lebih kuat dibandingkan harga yang harus dibayar petani.

Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik 1,62 persen, dari 172,46 menjadi 175,26. Sebaliknya, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) turun tipis 0,02 persen, dari 130,03 menjadi 130,00.

Secara konseptual, NTP menggambarkan daya tukar produk pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga petani serta kebutuhan produksi. Karena itu, kenaikan NTP menunjukkan perbaikan terms of trade petani, bukan secara otomatis menunjukkan kenaikan pendapatan petani.

Pangan menjadi motor utama

Penguatan paling kuat dalam setahun terakhir datang dari tanaman pangan. NTP tanaman pangan pada Agustus 2026 mencapai 115,84, naik 9,76 persen dibandingkan 105,54 pada Agustus 2025. Secara bulanan, NTP subsektor ini juga meningkat 2,78 persen.

BPS mencatat kenaikan tersebut didorong peningkatan It tanaman pangan sebesar 2,70 persen. Gabah dan jagung menjadi komoditas yang memengaruhi pergerakan harga.

Khusus gabah, kenaikan harga terjadi karena Agustus belum memasuki masa panen dan stok gabah di tingkat petani relatif sedikit.

Kondisi itu membuat tanaman pangan menjadi subsektor dengan pertumbuhan NTP tahunan tertinggi di Lampung.

Perkebunan rakyat berada di posisi berikutnya. NTP subsektor ini mencapai 169,69, naik 1,85 persen dibandingkan Juli dan 7,10 persen dibandingkan Agustus 2025.

Kopi menjadi salah satu pendorong kenaikan harga yang diterima petani. BPS mengaitkannya dengan musim kemarau panjang yang berdampak pada penurunan hasil panen.

Dengan NTP 169,69, perkebunan rakyat juga menjadi subsektor dengan indeks NTP tertinggi di Lampung pada Agustus.

Hortikultura menjadi titik tekanan

Di balik penguatan agregat tersebut, terdapat pergerakan yang berlawanan. NTP hortikultura justru turun 4,78 persen dalam sebulan, dari 133,40 menjadi 127,03. Penurunan terutama terjadi karena It hortikultura merosot 4,80 persen. BPS menyebut tomat dan wortel sebagai komoditas yang memengaruhi perubahan tersebut.

Pada tomat, penurunan harga dikaitkan dengan meningkatnya pasokan ketika petani memasuki masa panen, ditambah pasokan dari luar daerah.

Menariknya, meski tertekan secara bulanan, NTP hortikultura masih mencatat pertumbuhan 7,67 persen dibandingkan Agustus 2025.

Artinya, tekanan yang terjadi pada Agustus belum menghapus penguatan yang telah terjadi dalam setahun terakhir.

Peternakan masih di bawah 100

Kondisi berbeda terlihat pada subsektor peternakan.

NTP peternakan turun 0,11 persen secara bulanan menjadi 98,94. Dengan posisi tersebut, subsektor peternakan masih berada di bawah level 100. BPS mencatat It peternakan turun 0,06 persen, terutama dipengaruhi perubahan harga sapi potong.

Peternak menjual sapi dengan harga lebih rendah karena menghadapi kesulitan memperoleh pakan di tengah musim kemarau panjang.

Secara tahunan, NTP peternakan memang masih tumbuh 1,37 persen, tetapi pertumbuhannya jauh lebih rendah dibandingkan tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan rakyat.

Di subsektor perikanan, NTP perikanan tangkap meningkat tipis 0,06 persen menjadi 115,25, sementara NTP perikanan budidaya naik 0,90 persen menjadi 96,37.

Harga cumi-cumi menjadi salah satu pendorong perikanan tangkap karena komoditas tersebut sedang tidak memasuki musim panen.

Pada perikanan budidaya, kenaikan harga udang air payau turut mendorong peningkatan indeks.

Namun, seperti peternakan, NTP perikanan budidaya masih berada di bawah 100, yakni 96,37.

Usaha pertanian ikut menguat

Gambaran yang relatif positif juga terlihat dari Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP). Pada Agustus 2026, NTUP Lampung mencapai 139,68, naik 1,49 persen dari 137,63 pada Juli.

Kenaikan tersebut terjadi karena It meningkat 1,62 persen, sedangkan indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) hanya naik 0,13 persen.

Tanaman pangan mencatat kenaikan NTUP 2,58 persen, sementara perkebunan rakyat meningkat 1,64 persen. Sebaliknya, NTUP hortikultura turun 4,70 persen dan peternakan turun tipis 0,02 persen.

Dari sisi konsumsi rumah tangga, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani Lampung turun 0,05 persen pada Agustus.

Penurunan terutama berasal dari kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,58 persen, transportasi 0,19 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,05 persen, serta makanan, minuman dan tembakau 0,04 persen.

Penguatan belum boleh dibaca sebagai pemerataan

Angka Agustus memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai kondisi pertanian Lampung.

Secara agregat, NTP naik 7,50 persen dalam setahun. Tanaman pangan menjadi motor utama dengan pertumbuhan 9,76 persen, sementara perkebunan rakyat tumbuh 7,10 persen. Tetapi struktur pertumbuhannya memperlihatkan tantangan yang tidak kecil.

Hortikultura mengalami koreksi tajam secara bulanan. Peternakan masih berada di bawah level 100. Perikanan budidaya juga belum menembus level tersebut.

Dengan demikian, penguatan NTP Lampung pada Agustus lebih tepat dibaca sebagai perbaikan daya tukar petani secara agregat yang belum sepenuhnya merata antarsubsektor.

Bagi daerah dengan basis pertanian seperti Lampung, tantangan berikutnya bukan semata mempertahankan NTP tetap meningkat, tetapi menjaga agar perbaikan harga yang diterima petani tidak hanya terkonsentrasi pada komoditas tertentu.

Terlebih, pergerakan harga komoditas pertanian sangat dipengaruhi musim, pasokan dan produksi. Kenaikan harga gabah dan kopi, misalnya, datang bersamaan dengan tekanan harga tomat serta persoalan pakan pada peternakan.

Karena itu, angka NTP Agustus 2026 membawa kabar positif, tetapi sekaligus menunjukkan pekerjaan rumah untuk memperkuat daya tawar petani dan menjaga agar penguatan sektor pertanian tidak berhenti pada kenaikan indeks, melainkan semakin merata di tingkat subsektor dan komoditas.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *