BANDAR LAMPUNG — Ekspor Lampung masih tumbuh pada Juli 2026, tetapi kinerja kumulatif hingga tujuh bulan pertama tahun ini nyaris tidak bergerak. Di balik angka pertumbuhan yang tipis muncul perubahan penting dalam struktur ekspor daerah ditandai golongan kopi, teh dan rempah-rempah kehilangan nilai ekspor US$321,76 juta dibanding periode yang sama tahun lalu.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat ekspor Lampung sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai US$3,59 miliar, turun tipis 0,15 persen dibanding periode yang sama 2025 yang mencapai US$3,60 miliar.
Penurunannya memang kecil secara persentase. Namun jika dibedah berdasarkan komoditas, tekanannya jauh lebih terasa.
Golongan kopi, teh dan rempah-rempah turun dari US$854,34 juta pada Januari-Juli 2025 menjadi US$532,58 juta pada Januari-Juli 2026. Artinya, terjadi penyusutan sekitar US$321,76 juta atau 37,66 persen.
Perubahan itu menarik karena pada periode Januari-Juli 2025, kelompok komoditas yang sama justru menjadi salah satu motor pertumbuhan ekspor Lampung.
Kini kondisinya berbalik.
Penurunan ekspor kelompok kopi, teh dan rempah-rempah sebesar US$321,76 juta bahkan hampir setara dengan penurunan ekspor sektor pertanian Lampung secara keseluruhan yang mencapai US$324,92 juta atau 37,50 persen.
Data tersebut menunjukkan besarnya bobot kelompok komoditas tersebut terhadap kinerja ekspor pertanian Lampung, meski BPS tidak menyatakan bahwa seluruh penurunan sektor pertanian semata-mata disebabkan oleh kopi, teh dan rempah-rempah.
Menariknya, tekanan kumulatif tersebut tidak sepenuhnya tercermin pada kinerja Juli.
Pada Juli 2026, ekspor kelompok kopi, teh dan rempah-rempah mencapai US$131,90 juta, naik 50,45 persen dibanding Juni dan meningkat 1,71 persen dibanding Juli 2025.
Artinya, ada sinyal pemulihan secara bulanan.
Namun kenaikan Juli belum mampu menghapus penurunan yang sudah terjadi sepanjang Januari-Juli. Karena itu, persoalan ekspor komoditas ini lebih tepat dibaca sebagai tekanan kumulatif yang mulai menunjukkan perbaikan, bukan sebagai penurunan yang terus berlangsung setiap bulan.
Minyak dan bahan bakar menahan tekanan
Jika kopi menjadi titik alarm, maka kelompok lemak dan minyak hewani/nabati tetap menjadi tulang punggung ekspor Lampung.
Nilainya sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai US$1,586 miliar, atau sekitar 44,16 persen dari total ekspor nonmigas, dengan pertumbuhan 4,97 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Posisi tersebut memperlihatkan betapa besar ketergantungan ekspor Lampung pada sejumlah komoditas utama.
Selain lemak dan minyak, bahan bakar mineral juga memberikan kontribusi kuat. Ekspornya mencapai US$547,34 juta, naik 27,86 persen, dengan kontribusi 15,24 persen terhadap total ekspor.
Dua kelompok tersebut membantu menahan tekanan dari sektor pertanian.
BPS mencatat ekspor sektor industri pengolahan justru meningkat 8,69 persen menjadi US$2,50 miliar. Ekspor sektor pertambangan dan lainnya naik 27,86 persen menjadi US$547,34 juta.
Sebaliknya, ekspor sektor pertanian merosot 37,50 persen menjadi US$541,63 juta.
Dengan demikian, stagnasi ekspor Lampung bukan gambaran bahwa seluruh sektor perdagangan luar negeri sedang melemah. Yang terjadi lebih kompleks, sebagian mesin ekspor menguat, sementara sektor pertanian mengalami koreksi sangat dalam.
Di tengah tekanan tersebut, terdapat sejumlah komoditas yang menunjukkan pertumbuhan.
Ekspor olahan sayuran, buah dan kacang-kacangan meningkat 27,16 persen menjadi US$198,27 juta. Bubur kayu naik 27,53 persen menjadi US$149,25 juta. Produk ikan, udang dan moluska meningkat 30,03 persen menjadi US$73,87 juta.
Yang paling tinggi secara persentase adalah bahan kimia organik, yang melonjak 133,80 persen menjadi US$53,30 juta.
Namun angka tersebut perlu dibaca proporsional. Pertumbuhan bahan kimia organik memang sangat tinggi, tetapi kontribusinya baru sekitar 1,48 persen dari total ekspor.
Sebaliknya, kelompok lemak dan minyak yang menyumbang 44,16 persen jauh lebih menentukan arah keseluruhan ekspor Lampung.
Artinya, tantangan Lampung bukan hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga memperluas basis komoditas agar kinerja perdagangan tidak terlalu sensitif terhadap perubahan pada satu atau dua kelompok utama.
Pasar China menguat, Amerika tetap terbesar
Dari sisi pasar, Amerika Serikat masih menjadi tujuan ekspor terbesar Lampung pada Januari-Juli 2026 dengan nilai US$561,74 juta.
China berada di posisi berikutnya dengan US$437,73 juta, disusul Belanda US$302,15 juta, Pakistan US$250,05 juta dan India US$221,83 juta.
Yang menarik, ekspor ke China melonjak 45,05 persen, sedangkan ekspor ke Amerika Serikat meningkat 2,41 persen dan Belanda 15,21 persen.
Namun ekspor ke sejumlah pasar utama justru mengalami tekanan. Ekspor ke Pakistan turun 32,93 persen, sedangkan ke India merosot 34,68 persen.
Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ekspor Lampung bukan semata-mata soal ada atau tidaknya pasar. Perubahan komposisi komoditas dan pergeseran permintaan antarnegara sama-sama memainkan peran penting.
Surplus tetap lebar
Di tengah stagnasi ekspor, neraca perdagangan Lampung masih menunjukkan posisi yang sangat kuat.
Sepanjang Januari-Juli 2026, Lampung mencatat surplus perdagangan US$2,62 miliar. Surplus nonmigas bahkan mencapai US$2,66 miliar, meskipun perdagangan migas mengalami defisit US$42,71 juta.
Pada Juli saja, neraca perdagangan mencatat surplus US$437,29 juta.
Karena itu, persoalan yang muncul bukan krisis neraca perdagangan.
Persoalannya lebih mendasar, bagaimana mempertahankan surplus sekaligus mengembalikan daya dorong komoditas pertanian, terutama kelompok kopi, teh dan rempah-rempah, tanpa membuat ekspor Lampung semakin terkonsentrasi pada komoditas tertentu.
Data BPS memberi pesan yang cukup jelas. Ekspor Lampung belum jatuh, tetapi mesin pertumbuhannya sedang bergeser.
Pada saat ekspor nasional Januari-Juli 2026 masih tumbuh 4,43 persen, ekspor Lampung justru terkoreksi tipis 0,15 persen.
Karena itu, angka US$3,59 miliar tidak semestinya hanya dibaca sebagai statistik perdagangan.
Di dalamnya terdapat sebuah pekerjaan rumah, mengembalikan kekuatan ekspor pertanian tanpa kehilangan momentum pertumbuhan industri pengolahan dan pertambangan, sekaligus memperbesar diversifikasi pasar dan produk.
Dan dari seluruh angka tersebut, kopi menjadi sinyal yang paling sulit diabaikan. Komoditas yang sebelumnya membantu mengangkat ekspor kini justru menjadi sumber penurunan terbesar.(IWA)
