Kompetensi Guru: Urusan Hulu yang Terlanjur Dikerjakan di Hilir

Setiap kali pemerintah daerah atau sekolah menggelar bimbingan teknis (bimtek) dan peningkatan kompetensi bagi guru, niat dasarnya hampir selalu terdengar mulia, yakni memperkuat kapasitas pendidik agar mampu melahirkan siswa yang lebih cerdas, lebih kompetitif, dan lebih siap memasuki dunia perguruan tinggi.

Di atas kertas, program-program ini tampak seperti ikhtiar serius untuk memperbaiki kualitas pendidikan. Namun jika dicermati lebih dalam, ada ironi yang sulit diabaikan. Mengapa upaya perbaikan ini lebih sering dilakukan di hilir, ketika masalah sebenarnya berada di hulu?

Inti kritiknya sederhana. Kompetensi guru semestinya dipastikan sejak awal, saat rekrutmen. Seleksi penerimaan guru seharusnya menjadi pagar pertama yang menentukan kualitas sistem pendidikan. Di titik itulah kemampuan pedagogik, kelayakan akademik, integritas, dan komitmen profesi diuji habis-habisan. Jika proses ini kuat, maka bimtek hanya menjadi penyegar atau pengembang kompetensi, bukan tambalan atas kelalaian bertahun-tahun.

Masalahnya, banyak guru mengikuti bimtek ketika mereka sudah bertahun-tahun mengajar, bahkan ada yang sudah puluhan tahun. Pada tahap itu, pola kerja, metode mengajar, dan kebiasaan profesional sudah terbentuk kuat. Membalik atau memperbaiki pola yang keliru tentu tetap mungkin, tetapi jelas jauh lebih sulit, tidak efisien, dan sering berakhir sebatas formalitas, sekerar membuat-buat kegiatan yang memakan anggaran.  Ini ibarat memperbaiki fondasi rumah setelah bangunan sudah berdiri, rumit, mahal, dan kerap tidak efektif serta berpotensi koruptif.

Jika pemerintah benar-benar ingin mencetak siswa berkualitas, intervensi harus dimulai sejak pintu masuk profesi dibuka. Seleksi guru harus jelas, ketat, dan berbasis kompetensi, bukan sekadar administratif. Setelah itu, barulah pengembangan kapasitas dilakukan secara berkelanjutan, bukan sebagai program insidental yang muncul alakadarnya menyesuaikan agenda anggaran.

Bimtek bukan masalah, yang keliru adalah menjadikannya obat setelah penyakitnya kronis. Pendidikan yang kuat hanya lahir dari guru yang kuat. Dan guru yang kuat tidak dibentuk oleh workshop sesaat, tetapi oleh proses seleksi yang benar, pelatihan yang tertata dari awal, serta pembinaan berkelanjutan sepanjang karier.

Jika kita menata hulunya, hilir akan berjalan dengan sendirinya. Jika kita merapikan hilir terus-menerus, itu tanda ada yang tak pernah selesai di hulu.(inomics)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *