Energi Hijau Lampung: Rencana Besar, Eksekusi Tertunda

“Narasi energi hijau Lampung nyaris sempurna di atas kertas, lengkap, terstruktur, dan menjanjikan. Yang belum hadir hanya satu, yaitu keberanian untuk mengeksekusinya.”

@Iwa Perkasa

Di atas permukaan bendungan yang tenang, masa depan energi Lampung sebenarnya sudah lama tergambar. Bukan sekadar gagasan, melainkan telah menjadi rangkaian rencana besar yang disusun sistematis, yakni  Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung, penguatan mikrohidro, hingga target ambisius bauran energi hijau yang melampaui rata-rata nasional.

Semua tampak siap. Bahkan, dalam banyak hal, Lampung terlihat lebih maju dari titik awal yang dimiliki banyak daerah lain.

Tiga bendungan besar, Batutegi, Way Sekampung, dan Margatiga, telah lama disebut sebagai fondasi. Paparan sinar matahari yang melimpah dan luas genangan air menjadikan skenario PLTS terapung bukan sekadar wacana, tetapi peluang yang realistis, menghasilan cuan, menyehatkan fiskal. Ini bukan mimpi teknologi tinggi, melainkan opsi yang sudah teruji di banyak tempat.

Arah kebijakan pun sudah jelas. Pemerintah provinsi mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Targetnya  memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan kapasitas pembangkit secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Langkah berikutnya mulai dibuka. Pintu investasi diperlebar. Sejumlah investodari, dalam negeri hingga luar negeri, menyatakan minat. Nama-nama dari Malaysia, China, hingga Jepang masuk dalam tahap penjajakan. Sebagian bahkan telah menyampaikan komitmen awal.

Bahasa kebijakan pun berubah. Dari sekadar “potensi”, menjadi “rencana investasi”.Pada bagian ini sudah terang. Namun jika diurai lebih jauh, seluruh pernyataan itu masih berada dalam satu spektrum yang sama, rencana dan rencana.

Peluang investasi belum berarti proyek berjalan. Minat investor belum berarti kontrak diteken. Studi kelayakan masih berlangsung. Skema investasi masih dihitung. Kepastian proyek belum benar-benar terbentuk. Belum ada konstruksi, belum ada panel surya yang mengapung di atas bendungan, belum ada listrik yang benar-benar dihasilkan dari rencana tersebut.

Dengan kata lain, energi masa depan Lampung sudah sering dibicarakan, tetapi belum sekali pun benar-benar dimulai.

Yang menarik, seluruh narasi yang berkembang sebenarnya saling menguatkan.

Dari level pimpinan daerah, arah besar telah ditetapkan. Bendungan sebagai sumber energi masa depan. Dari sisi teknis, peluang investasi dibuka dan mulai menarik perhatian. Sementara dari pengamatan di lapangan, muncul fakta yang tak terbantahkan, yakni belum ada yang benar-benar dibangun.

Tidak ada pertentangan. Yang ada adalah satu alur yang belum selesai. Sebuah perjalanan dari visi menuju eksekusi yang untuk saat ini masih tertahan di tengah jalan.

Lampung sebenarnya tidak memulai dari nol. Dengan capaian bauran energi hijau yang sudah melampaui rata-rata nasional, fondasi transisi energi telah terbentuk. Potensi energi terbarukan tersedia dalam skala besar dan beragam.

Namun potensi, sebesar apa pun, tidak pernah otomatis menjadi kekuatan.

Potensi membutuhkan satu hal sangat sederhana, tetapi sering kali paling sulit adalah keputusan untuk bergerak.

Dalam konteks ini, energi hijau Lampung bukan lagi soal apakah bisa atau tidak. Semua indikator menunjukkan bahwa  bisa. Yang menjadi pertanyaan adalah kapan.

Dan dalam pembangunan, “kapan” sering kali lebih menentukan daripada “apa”.

Jika satu proyek PLTS terapung benar-benar dimulai, bukan sekadar direncanakan,maka dampaknya tidak hanya pada tambahan kapasitas listrik dan menjadi penanda perubahan, bahwa Lampung tidak lagi berhenti pada potensi, tetapi mulai masuk ke fase realisasi.

Sebaliknya, jika waktu terus berjalan tanpa eksekusi, maka narasi yang hari ini terlihat progresif berisiko menjadi pengulangan. Rencana akan terus diperbarui, investor akan terus dijajaki, tetapi hasilnya tetap sama, menunggu.

Masa depan energi Lampung tidak ditentukan oleh seberapa besar potensinya, melainkan oleh seberapa cepat berani memulai.

Sebab di atas bendungan itu, segalanya sebenarnya sudah siap, kecuali satu hal, yaitu  langkah pertama.(*****)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *