Insinyur di Puncak Kepemimpinan

Di tengah padatnya ritme pemerintahan, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menorehkan capaian lain, menjadi Wisudawan Terbaik I Program Profesi Insinyur Fakultas Teknik Universitas Lampung, April 2026.

Di ruangan pengukuhan di Hotel Grand Mercure, Minggu (26/4/2026), bukan hanya seremoni akademik yang berlangsung. Ada pesan yang lebih dalam, bahwa kepemimpinan tidak berhenti pada jabatan, tetapi terus tumbuh melalui pengetahuan.

Bersama 30 peserta lain, Mirza dikukuhkan sebagai insinyur dengan IPK 3,88. Di barisan yang sama, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan meraih Wisudawan Terbaik II dengan IPK 3,78. Dua figur yang sehari-hari berada di jantung pengambilan kebijakan, kini berdiri sebagai simbol pentingnya kapasitas intelektual dalam pembangunan.

Di hadapan Rektor Lusmeilia Afriani dan jajaran Persatuan Insinyur Indonesia, Mirza menegaskan satu hal sederhana namun krusial: masa depan daerah ditentukan oleh kualitas manusia yang mengelolanya.

“Kekayaan alam tidak otomatis menjadi kemakmuran. Ia baru bernilai ketika dikelola oleh SDM yang unggul,” ujarnya.

Kalimat itu seperti merangkum tantangan Lampung selama ini sebagai daerah dengan potensi besar, tetapi masih berjuang mengubahnya menjadi nilai tambah. Dalam konteks itu, profesi insinyur bukan sekadar gelar, melainkan alat untuk menjembatani potensi dan kesejahteraan.

Pengukuhan ini juga menandai arah baru: bahwa pembangunan tidak lagi cukup bertumpu pada sumber daya alam, tetapi harus digerakkan oleh keahlian, inovasi, dan profesionalisme. Para insinyur, kata Mirza, harus hadir sebagai problem solver, mulai dari penguatan ekonomi hingga penciptaan lapangan kerja.

Apresiasi datang dari Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia, Agus Taufik Mulyono, yang menilai langkah Pemerintah Provinsi Lampung progresif, terutama dengan kebijakan yang mendorong kepemilikan Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI) dalam praktik jasa konstruksi.

Bagi Lampung, momentum ini lebih dari sekadar kebanggaan akademik. Ia menjadi penanda bahwa arah pembangunan mulai bergeser dari sekadar mengelola sumber daya, menuju membangun manusia yang mampu mengelola masa depan.

Di titik ini, gelar insinyur bukan akhir perjalanan. Justru sebaliknya, ia adalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar yaitu memastikan ilmu tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hidup dalam kebijakan dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *