Bisakah Bioetanol Mengakhiri Drama Harga Singkong Lampung?

Proyek bioetanol di Lampung bukan sekadar investasi energi. Di baliknya tersimpan harapan mengakhiri siklus harga singkong jatuh yang selama bertahun-tahun memicu protes petani.

@Iwa Perkasa

Di Lampung, ada satu berita yang seolah tidak pernah benar-benar pergi. Setiap beberapa waktu, terutama ketika panen melimpah, cerita itu muncul kembali dengan wajah yang hampir sama.

Harga singkong jatuh. Petani mengeluh. Demonstrasi terjadi. Pemerintah turun tangan. Rapat digelar. Solusi dicari. Lalu semuanya mereda, sampai siklus yang sama kembali terulang.

Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya berita ekonomi biasa. Namun bagi ribuan keluarga petani di Lampung, itu adalah kenyataan yang terus berulang dari musim ke musim.

Ironisnya, semua itu terjadi di provinsi yang justru dikenal sebagai penghasil singkong terbesar di Indonesia.

Semakin besar produksinya, semakin besar pula risiko harga jatuh ketika pasar tidak mampu menyerap seluruh hasil panen.

Paradoks itulah yang selama bertahun-tahun menghantui komoditas singkong Lampung. Karena masalah utama singkong sebenarnya bukan produksi.

Lampung sudah terlalu lama berhasil memproduksi singkong. Masalahnya adalah apa yang terjadi setelah singkong dipanen.

Ketika Panen Tidak Selalu Membawa Kabar Baik

Dalam logika sederhana, panen melimpah seharusnya menjadi kabar menggembirakan. Tetapi di dunia pertanian, kenyataannya tidak selalu demikian.

Ketika produksi meningkat sementara kapasitas industri dan pasar tidak tumbuh dengan kecepatan yang sama, kelebihan pasokan menjadi tidak terhindarkan.

Akibatnya harga tertekan. Yang paling merasakan dampaknya adalah petani. Mereka yang bekerja berbulan-bulan di lahan justru sering menerima keuntungan paling kecil ketika panen datang.

Di sinilah akar persoalan singkong Lampung selama ini. Daerah ini sangat kuat di sektor hulu. Tetapi belum cukup kuat di sektor hilir. Lampung menghasilkan bahan baku dalam jumlah besar, namun sebagian besar nilai tambahnya masih tercipta setelah komoditas itu meninggalkan daerah.

Singkong dijual. Tetapi proses pengolahan bernilai tinggi tidak seluruhnya terjadi di Lampung. Akibatnya, petani tetap bergantung pada fluktuasi harga bahan mentah.

Mengapa Bioetanol Menjadi Menarik?

Jawabnya adalah karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, solusi yang ditawarkan bukan lagi sekadar mengatur harga setelah masalah muncul. Melainkan menciptakan pasar baru sebelum masalah itu terjadi.

Pemerintah Provinsi Lampung bersama pemerintah pusat, Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), dan Toyota Group pekan ini menandatangani deklarasi pengembangan ekosistem bioetanol di Lampung.

Sekilas, ini tampak seperti proyek energi. Namun jika dilihat dari perspektif petani, bioetanol sesungguhnya adalah cerita tentang permintaan. Tentang pembeli baru. Tentang pasar baru. Tentang peluang agar singkong tidak hanya bergantung pada satu jalur industri.

Selama ini singkong lebih banyak dikenal sebagai bahan baku pangan dan industri turunannya. Dengan bioetanol, singkong berpotensi memasuki rantai pasok energi. Artinya, satu komoditas memperoleh fungsi ekonomi yang lebih luas.

Dan dalam ekonomi, semakin banyak pasar yang bisa menyerap suatu produk, semakin kecil risiko harga jatuh akibat kelebihan pasokan.

Hilirisasi yang Selama Ini Dicari

Selama beberapa dekade terakhir, kata “hilirisasi” sering terdengar dalam berbagai pidato pembangunan.Namun bagi petani, hilirisasi baru terasa nyata ketika hasil panennya memiliki lebih banyak pembeli.

Ketika komoditas yang selama ini hanya dijual sebagai bahan mentah mulai diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Itulah yang membuat proyek bioetanol menjadi penting.

Bukan karena nilai investasinya semata. Bukan karena keterlibatan perusahaan besar. Melainkan karena ia berpotensi mengubah struktur ekonomi komoditas yang selama ini rentan terhadap gejolak harga.

Jika selama ini Lampung menjual singkong, maka bioetanol menawarkan peluang untuk menjual energi yang berasal dari singkong.

Perbedaannya terlihat sederhana. Tetapi nilai ekonominya bisa sangat besar.

Jalan Panjang yang Baru Dimulai

Tentu tidak ada jaminan bahwa bioetanol akan langsung menyelesaikan seluruh persoalan singkong Lampung.

Tidak ada proyek tunggal yang mampu menghapus persoalan struktural yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Masih ada tantangan investasi, pasokan bahan baku, teknologi, harga energi, hingga keberlanjutan industri itu sendiri.

Namun ada satu hal yang membedakan langkah ini dari berbagai kebijakan sebelumnya.

Untuk pertama kalinya, solusi yang dibangun mencoba menyentuh akar persoalan: kurangnya nilai tambah dan terbatasnya pasar bagi komoditas pertanian.

Karena selama ini pemerintah sering hadir setelah harga jatuh.

Bioetanol mencoba hadir sebelum harga jatuh.

Mengubah Cerita Lama

Mungkin masyarakat tidak akan mengingat tanggal penandatanganan deklarasi bioetanol ini.

Mungkin pula tidak banyak yang menghafal nilai investasinya.

Tetapi jika proyek ini berjalan sesuai rencana, dampaknya bisa jauh lebih penting daripada seremoni yang mengawalinya.

Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar pembangunan pabrik. Yang sedang diuji adalah apakah Lampung mampu mengubah cerita lama yang terus berulang setiap musim panen. Cerita tentang petani yang bekerja keras, panen yang melimpah, lalu harga yang jatuh. Cerita tentang demonstrasi yang datang hampir setiap tahun. Cerita tentang komoditas yang kaya, tetapi belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan.

Bioetanol mungkin bukan jawaban untuk semua persoalan. Namun untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Lampung tampaknya sedang mencoba menulis babak baru. Dimulai dari fokus ke sorgum, tebu, hingga nantinya merambah ke lahan-lahan singkong melalui peralihan ke tanaman serealia (biji-bijian) menjadi media paling unggul untuk menghasilkan bio etanol.

Dan jika suatu hari nanti berita tentang demonstrasi harga singkong semakin jarang terdengar, mungkin itu bukan karena petaninya berhenti bersuara. Itu karena situasinya  telah berubah. Harga tidak lagi membuat petani rugi. Nilai tukar petani (terima) membaik. Masyarakat desa lebih sejahtera, karena singkong telah menjadi energi, mengisi tanki-tanki mobil mereka.

Di titik itulah, Gubernur Mirza patut berbangga!

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *