KALIANDA — Ada yang berbeda dalam prosesi adat Timbang Marga yang digelar di Desa Kesugihan, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan. Kehadiran Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, langsung mencuri perhatian publik. Bukan hanya karena komitmen politiknya yang kuat untuk menghidupkan kembali 15 desa budaya, melainkan karena busana adat luar biasa yang dikenakannya.
Gubernur tampil berwibawa dalam balutan jubah panjang beludru berwarna hijau zaitun dengan sulaman benang emas yang rapat. Bagi masyarakat awam yang terbiasa melihat busana adat Lampung bernuansa putih-merah ala Pepadun, penampilan ini menjadi jendela baru untuk mengenal lebih dekat kekayaan Masyarakat Adat Lampung Saibatin (Pesisir).
Jauh dari Kesan Kaku: Sentuhan Desain Modern Tanpa Merusak Pakem
Apresiasi layak diberikan kepada desainer di balik mahakarya busana ini. Sayangnya, Nomics.ID belum dapat mengonfirmasi siapa desainer baju itu.
Penasaran, karena menjahit pakaian adat tingkat tinggi untuk seorang kepala daerah memiliki tingkat kesulitan yang luar biasa. Sang desainer harus berjalan di atas garis tipis, mempertahankan pakem sakral ratusan tahun, sekaligus memastikan baju tersebut nyaman, proporsional, dan tampak modis di era modern.
Jubah kebesarannya dirancang dengan potongan bahu yang tegas dan ukuran yang sangat pas (well-fitted) di tubuh Gubernur. Pilihan bahan beludru premium membuat jubah seberat itu jatuh dengan anggun, tidak tampak kaku saat beliau bergerak atau berdiri di podium untuk berpidato.
Sentuhan modernitas ini berhasil menepis kesan bahwa pakaian adat itu “kuno” atau “merepotkan”, melainkan menjelma menjadi busana formal yang sangat elegan dan berkelas internasional.
Anatomi Busana: Setiap Detail Memiliki Makna
Pakaian adat Saibatin yang dikenakan Gubernur bukanlah busana sembarangan, melainkan Jubah Kebesaran Sutan/Penyimbang (pemimpin adat tertinggi). Berikut adalah rincian komponen yang membuatnya begitu istiwewa:
-
- Jubah Panjang Hijau Zaitun: Berbeda dengan adat Pepadun yang didominasi warna putih, adat Saibatin kaya akan warna-warna tegas. Warna hijau tua atau zaitun melambangkan kesuburan, kemakmuran bumi Lampung, serta kebijaksanaan seorang pemimpin dalam mengayomi rakyatnya.
- Sulaman Benang Emas (Motif Floral): Seluruh permukaan jubah dipenuhi sulaman tangan bermotif bunga tabur dan salur simetris yang rapat. Kilau emas ini mencerminkan kejayaan sejarah maritim Lampung Pesisir yang dahulu menjadi pusat perdagangan internasional.
- Kopiah Tungkus (Tungkuan): Penutup kepala ini adalah identitas mutlak pria Saibatin. Berbentuk kain yang dijalin rapi dengan motif emas senada, kopiah ini melambangkan kewibawaan, tanggung jawab, dan kedudukan tinggi dalam struktur adat.
- Kain Tapis dan Celana Formal: Di balik jubahnya, Gubernur mengenakan celana panjang gelap yang dipadukan dengan lilitan Kain Tapis bersulam emas di bagian pinggang sebagai wastra pemanis khas Lampung.
Akulturasi Budaya Maritim dan Islam
Keunikan potongan baju menyerupai jubah panjang ini tidak lepas dari letak geografis masyarakat Saibatin yang mendiami pesisir pantai Lampung, mulai dari Kalianda, pesisir barat, hingga pesisir semaka.
Sebagai wilayah yang terbuka bagi pelaut zaman dahulu, kebudayaan Saibatin mendapat pengaruh kuat dari kebudayaan Melayu dan Arab (Islam). Hal ini terlihat dari potongan baju yang menutup aurat dengan sempurna namun tetap mempertahankan kemegahan ornamen lokal Nusantara.
Lebih dari Sekadar Pakaian: Simbol “Perlawanan Budaya”
Penampilan Gubernur dengan jubah Saibatin ini bukan sekadar urusan estetika panggung. Ini adalah pesan visual yang kuat yang sejalan dengan kebijakannya. Dalam acara tersebut, Pemprov Lampung menegaskan langkah konkret untuk menyelamatkan identitas daerah dari arus modernisasi.
“Budaya Lampung jangan sampai hanya berakhir jadi pajangan di museum. Kita harus menghidupkannya dalam keseharian,” ujar Gubernur Mirza dalam sambutannya.
Salah satu langkah nyatanya adalah dengan mewajibkan penggunaan bahasa Lampung setiap hari Kamis di lingkungan pemerintahan serta menguatkan kembali desa-desa adat.
Melalui paduan busana yang megah dan kebijakan yang berpihak pada tradisi, Lampung sedang mengirimkan pesan kepada generasi muda, bahwa berakar pada budaya bangsa adalah sebuah kebanggaan tertinggi.(iwa)
