Jihan Dorong Digitalisasi Jadi Mesin Efisiensi Layanan Publik dan Penggerak Ekonomi Lampung

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mendorong digitalisasi menjadi instrumen peningkatan layanan publik, penguatan UMKM, perluasan inklusi keuangan, dan optimalisasi pendapatan daerah.

LAMPUNG SELATAN — Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mendorong percepatan digitalisasi di berbagai sektor sebagai strategi meningkatkan kualitas layanan publik, memperluas inklusi keuangan, memperkuat daya saing UMKM, hingga mendukung optimalisasi pendapatan daerah.

Menurut Jihan, transformasi digital tidak boleh berhenti pada perubahan cara bertransaksi. Digitalisasi harus mampu menghasilkan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat melalui pelayanan yang lebih cepat, efisien, transparan, dan tepat sasaran.

Pandangan tersebut disampaikan saat menghadiri Kick Off Semarak Inspirasi Gebyar Edukasi Rupiah (SIGER Fest) 2026 di Aula Gedung Kuliah Umum (GKU) 2 Institut Teknologi Sumatera (Itera), Kamis (18/6/2026).

Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan peluncuran implementasi QRIS Tap pada layanan Smart BRT Itera, yang menjadi salah satu proyek percontohan digitalisasi layanan transportasi publik di Lampung.

Jihan mengatakan digitalisasi saat ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.

“Digitalisasi harus mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas layanan publik, penguatan daya saing UMKM, perluasan inklusi keuangan, optimalisasi pendapatan asli daerah, yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Jihan, salah satu manfaat terbesar digitalisasi adalah terciptanya data yang akurat dan terdokumentasi dengan baik. Data tersebut dapat menjadi dasar bagi pemerintah dalam merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran dan efektif.

Karena itu, ia menilai transformasi digital tidak dapat dilakukan secara parsial oleh satu institusi saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, industri sistem pembayaran, komunitas, dan masyarakat untuk membangun ekosistem digital yang kuat dan berkelanjutan.

Peluncuran QRIS Tap pada layanan Smart BRT Itera, menurut Jihan, merupakan contoh bagaimana teknologi dapat menghadirkan layanan publik yang lebih modern dan efisien.

Dengan sistem pembayaran digital, masyarakat tidak lagi bergantung pada uang tunai saat menggunakan transportasi publik. Selain meningkatkan kenyamanan pengguna, sistem tersebut juga menghadirkan transparansi transaksi serta menghasilkan data yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas layanan ke depan.

“Digitalisasi pembayaran melalui QRIS Tap menjadi salah satu langkah awal menuju layanan transportasi yang semakin cerdas, modern, dan terintegrasi,” katanya.

Lebih jauh, Jihan menilai data yang dihasilkan dari transaksi digital memiliki nilai strategis bagi pemerintah. Melalui data tersebut, pemerintah dapat mengetahui tingkat pemanfaatan layanan publik, perilaku pengguna, hingga kebutuhan masyarakat secara lebih akurat.

Hal itu memungkinkan penyusunan kebijakan yang lebih efisien dan responsif terhadap kebutuhan warga.

Ia juga mengapresiasi rencana implementasi digitalisasi bantuan sosial non-tunai di Kota Metro yang dijadwalkan mulai berjalan pada Oktober mendatang. Menurutnya, digitalisasi bantuan sosial akan memperkuat transparansi, mengurangi potensi kebocoran, dan memastikan bantuan tersalurkan lebih tepat sasaran.

Dalam kesempatan tersebut, Jihan menyambut baik penyelenggaraan SIGER Fest 2026 yang mempertemukan pemerintah, akademisi, dunia usaha, industri sistem pembayaran, komunitas, dan masyarakat dalam satu ekosistem kolaborasi.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya mendorong perluasan transaksi digital, tetapi juga menjadi ruang promosi UMKM, pengembangan sektor kuliner, peningkatan literasi keuangan digital, serta penguatan partisipasi generasi muda melalui berbagai kegiatan olahraga dan kompetisi.

Berdasarkan data Bank Indonesia Provinsi Lampung, hingga April 2026 jumlah merchant QRIS di Lampung telah mencapai 889 ribu merchant. Selama empat bulan pertama tahun ini, nilai transaksi QRIS hampir menyentuh Rp2 triliun dengan volume transaksi mencapai 22,4 juta kali.

Bagi Jihan, angka tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital di Lampung sudah bergerak ke arah yang positif. Tantangan berikutnya adalah memastikan manfaat digitalisasi dapat menjangkau lebih banyak masyarakat hingga ke pelosok daerah.

“Yang kita kejar bukan hanya bertambahnya pengguna transaksi digital, tetapi bagaimana digitalisasi mampu memperkuat ekonomi daerah, meningkatkan kualitas pelayanan publik, dan menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata bagi masyarakat,” katanya.

Di tengah meningkatnya kompetisi ekonomi dan tuntutan pelayanan publik yang semakin tinggi, Jihan melihat digitalisasi sebagai salah satu fondasi penting bagi transformasi pembangunan Lampung dalam beberapa tahun ke depan.(IWA)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *