Sekdaprov Lampung Marindo Kurniawan mengaku 100 persen yakin Inggris mampu menaklukkan tuan rumah Meksiko pada babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026. Baginya, The Three Lions memiliki fundamental kuat untuk melaju ke perempat final.
@Iwa Perkasa
Dalam dunia ekonomi, tidak ada investor yang menanamkan modal tanpa menghitung fundamental. Risiko selalu ada, tetapi keyakinan lahir dari kualitas aset yang dimiliki. Mungkin itulah cara Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan memandang pertandingan Inggris melawan tuan rumah Meksiko pada babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026.
Ia tidak sekadar mendukung. Ia seperti sedang menginvestasikan seluruh kepercayaannya.
“Saya 100 persen yakin Inggris menang,” kata Marindo mantap ketika dimintai prediksinya menjelang laga yang akan digelar di Stadion Azteca, Senin (6/7/2026) pukul 07.00 WIB.
Kalimat itu singkat.
Namun bagi Marindo, keyakinan tersebut lahir dari perhitungan, bukan sekadar emosi seorang suporter.
Sebagai birokrat yang sehari-hari bergelut dengan penyusunan anggaran, investasi daerah, dan pembangunan ekonomi, ia terbiasa menilai sesuatu berdasarkan fundamental.
Dan menurutnya, Inggris memiliki semuanya.
Harry Kane yang tajam di depan gawang. Jude Bellingham yang menguasai lini tengah. Bukayo Saka dan Phil Foden yang mampu mengubah arah pertandingan hanya dalam hitungan detik. Ditambah pengalaman para pemain yang hampir setiap pekan bertarung di Liga Inggris maupun Liga Champions Eropa.
“Bagi saya, kualitas skuad Inggris masih yang terbaik,” ujarnya.
Namun, seperti halnya investasi, potensi keuntungan selalu berjalan berdampingan dengan risiko.
Dan risiko terbesar Inggris bernama Meksiko.
El Tri bukan hanya bermain sebagai tuan rumah.
Mereka bermain di Stadion Azteca, arena yang selama puluhan tahun menjadi simbol kebanggaan sepak bola Meksiko.
Di stadion yang berada sekitar 2.240 meter di atas permukaan laut itu, udara lebih tipis, napas lebih cepat habis, dan tekanan dari puluhan ribu pendukung tuan rumah sering kali membuat tim tamu kehilangan ritme permainan.
Azteca bukan sekadar stadion.
Ia adalah keunggulan kompetitif yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Pelatih Meksiko, Javier Aguirre, memahami betul nilai “aset” tersebut.
Bermain di hadapan publik sendiri, menurutnya, adalah energi tambahan yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menghentikan salah satu favorit juara dunia.
Sebaliknya, pelatih Inggris Thomas Tuchel meminta anak asuhnya belajar dari pertandingan sebelumnya saat menghadapi Republik Demokratik Kongo.
Inggris memang lolos.
Namun kemenangan 2-1 itu diperoleh melalui perjuangan keras setelah sempat tertinggal lebih dahulu.
Bagi Tuchel, menghadapi Meksiko membutuhkan efisiensi yang jauh lebih tinggi. Karena pada fase gugur, satu kesalahan kecil bisa berubah menjadi biaya yang sangat mahal.
Di atas kertas, Inggris memang sedikit lebih diunggulkan.
Kedalaman skuad, pengalaman pemain, hingga kualitas individu membuat The Three Lions masih ditempatkan sebagai salah satu kandidat juara.
Namun Piala Dunia berkali-kali mengajarkan bahwa nilai pasar pemain tidak selalu berbanding lurus dengan hasil pertandingan.
Yang menentukan bukan siapa yang paling mahal. Melainkan siapa yang paling efektif mengubah peluang menjadi gol.
Marindo memahami logika itu.
Karena dalam ekonomi pun, aset yang besar tidak otomatis menghasilkan keuntungan jika gagal dikelola dengan baik.
“Kalau ingin menjadi juara dunia, ya harus mampu mengalahkan siapa pun, termasuk tuan rumah,” katanya.
Optimisme Marindo bukan tanpa alasan.
Inggris datang ke Piala Dunia 2026 dengan misi mengakhiri penantian gelar yang telah berlangsung selama 60 tahun sejak terakhir kali menjadi juara pada 1966.
Generasi demi generasi telah mencoba.
Mulai dari era David Beckham, Steven Gerrard, Frank Lampard, Wayne Rooney, hingga kini Harry Kane dan Jude Bellingham.
Semuanya datang membawa harapan yang sama.
Membawa pulang trofi Jules Rimet modern ke negeri yang menyebut dirinya sebagai rumah sepak bola.
Di Lampung, perjuangan Inggris juga memiliki cerita tersendiri.
The Three Lions merupakan tim favorit Marindo Kurniawan.
Bahkan setelah Jerman tersingkir dari turnamen, dukungan terhadap Inggris di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung semakin menguat. Wakil Gubernur Jihan Nurlela dikabarkan ikut memberikan dukungan kepada skuad asuhan Thomas Tuchel, menjadikan Inggris sebagai tim dengan pendukung terbanyak di jajaran pimpinan Pemprov Lampung yang masih bertahan di Piala Dunia 2026.
Bagi Marindo, laga di Azteca bukan sekadar pertandingan sepak bola.
Ini adalah ujian atas investasi kepercayaannya.
Jika Inggris menang, “nilai saham” The Three Lions sebagai calon juara akan melonjak tajam.
Namun jika kalah, investasi itu harus menerima kenyataan bahwa tidak semua perhitungan berakhir sesuai proyeksi.
Karena sepak bola, seperti ekonomi, memiliki satu hukum yang tidak pernah berubah. High risk, high return.
Dan Senin pagi nanti, Marindo sedang mempertaruhkan seluruh “modal kepercayaannya” kepada Inggris.
Kini tinggal menunggu satu hal.
Apakah investasi itu benar-benar menghasilkan dividen berupa tiket perempat final, atau justru berakhir sebagai kerugian terbesar The Three Lions di Piala Dunia 2026.*****
