Piala Dunia 2026 menghadirkan banyak cerita. Namun, sedikit yang lebih menyita perhatian dibanding keberhasilan Norwegia menumbangkan Brasil, salah satu raksasa terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.
@Iwa Perkasa
Kemenangan dramatis 2-1 pada babak 16 besar bukan sekadar mengantarkan Norwegia ke perempat final. Hasil itu menjadi simbol kebangkitan sebuah negara yang selama ini jarang diperhitungkan di panggung sepak bola internasional. Di bawah komando Erling Haaland dan Martin Ødegaard, Norwegia tampil disiplin, efisien, dan matang, sebuah karakter yang mencerminkan lebih dari sekadar kualitas sebuah tim.
Di balik keberhasilan itu, Norwegia sesungguhnya telah lama dikenal sebagai salah satu negara dengan kualitas sumber daya manusia terbaik di dunia. Negara berpenduduk sekitar 5,6 juta jiwa tersebut secara konsisten berada di jajaran teratas berbagai indikator pembangunan manusia. Warganya menikmati layanan kesehatan universal, pendidikan berkualitas, tingkat kemiskinan yang rendah, serta sistem perlindungan sosial yang kuat.
Kesuksesan tersebut memunculkan pertanyaan menarik, bagaimana Norwegia membangun generasi yang sehat dan kompetitif?
Jawabannya mungkin akan mengejutkan sebagian orang.
Tidak Ada MBG di Sana
Berbeda dengan Indonesia yang kini menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu strategi meningkatkan kualitas generasi muda, Norwegia justru tidak memiliki program makan bergizi gratis berskala nasional.
Bukan berarti negara itu mengabaikan pemenuhan gizi anak. Sebaliknya, Norwegia memilih pendekatan yang berbeda. Pemerintah membangun sistem negara kesejahteraan (welfare state) yang memastikan setiap keluarga memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, termasuk menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak mereka. Negara memberikan tunjangan anak, layanan kesehatan gratis, pendidikan tanpa biaya, serta berbagai bentuk perlindungan sosial yang menjaga daya beli masyarakat tetap tinggi.
Di sekolah, sebagian besar anak Norwegia membawa bekal makan siang dari rumah atau matpakke. Makanan gratis hanya tersedia di sejumlah daerah melalui kebijakan pemerintah lokal, bukan sebagai program nasional.
Pendekatan ini berbeda dengan Indonesia yang masih menghadapi tantangan stunting, kekurangan gizi, dan ketimpangan akses pangan di berbagai wilayah. Karena itu, pemerintah memilih melakukan intervensi langsung melalui Program Makan Bergizi Gratis agar setiap anak memperoleh asupan gizi yang memadai tanpa bergantung pada kondisi ekonomi keluarganya.
Dengan demikian, Indonesia dan Norwegia sebenarnya memiliki tujuan yang sama, yakni membangun generasi yang sehat, cerdas, dan produktif. Yang membedakan adalah titik awal dan strategi yang ditempuh.
Indonesia memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui penyediaan makanan bergizi secara langsung melalui dapur-dapur yang super sibuk dan pelaksanaan yang hiruk-pikuk.
Sementara Norwegia mencapainya melalui sistem kesejahteraan yang telah dibangun secara konsisten selama puluhan tahun sehingga keluarga mampu memenuhi kebutuhan gizi anak secara mandiri.
Keberhasilan Norwegia di Piala Dunia 2026 menjadi pengingat bahwa prestasi olahraga tidak lahir dalam ruang hampa. Di balik pemain-pemain hebat terdapat investasi jangka panjang pada manusia, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga perlindungan sosial.
Dan bagi Indonesia, Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu langkah awal menuju tujuan yang sama, melahirkan generasi unggul yang kelak mampu bersaing, tidak hanya di lapangan sepak bola, tetapi juga di berbagai bidang kehidupan.
