Ribuan tahun sebelum ada BMKG, satelit pemantau titik panas, atau teknologi modifikasi cuaca, Al-Qur’an telah merekam satu pelajaran penting tentang menghadapi kekeringan. Bahwa krisis harus dipersiapkan sebelum datang, bukan ditangani setelah terjadi. Kisah itu tergambarkan dalam kisah Nabi Yusuf AS di Mesir.
@Iwa Perkasa
Pelajarannya sederhana. Ketika masa subur datang, jangan habiskan seluruh hasilnya. Simpan sebagian besar untuk menghadapi masa sulit. Prinsip itulah yang membuat kisah Nabi Yusuf tetap relevan untuk membaca persoalan Indonesia hari ini, termasuk menghadapi ancaman kekeringan, gagal panen dan karhutla di Lampung.
Kisah Nabi Yusuf bermula dari mimpi Raja Mesir tentang tujuh sapi gemuk yang dimakan tujuh sapi kurus serta tujuh tangkai gandum hijau dan tujuh tangkai lainnya yang kering. Yusuf menafsirkan mimpi itu sebagai peringatan. Dijelaskan bahwa Mesir akan menghadapi tujuh tahun masa subur yang kemudian diikuti tujuh tahun paceklik.
Namun kehebatan Yusuf bukan hanya pada kemampuannya membaca tanda. Ia segera menawarkan strategi dari keimanannya kepada Tuhan yang satu.
Al-Qur’an merekam nasihat itu dalam QS Yusuf ayat 47–49, bahwa selama tujuh tahun masa subur, masyarakat diminta bercocok tanam dengan sungguh-sungguh dan menyimpan sebagian besar hasil panen untuk menghadapi tujuh tahun kesulitan.
Intinya, simpan surplus ketika tersedia, gunakan cadangan ketika krisis datang.
Dan Nabi Yusuf tidak menunggu paceklik untuk mencari makanan. Ia tidak berharap keadaan membaik dengan sendirinya. Ia menggunakan masa kelimpahan untuk membangun cadangan.
Ketika masa sulit benar-benar datang, Mesir memiliki persediaan yang cukup untuk menopang rakyatnya, bahkan membantu wilayah lain yang ikut terdampak.
Inilah esensi kepemimpinan dalam kisah Yusuf, yang mengajarkan bahwa membaca ancaman lebih awal, bertindak sebelum krisis, lalu menjaga cadangan sampai benar-benar dibutuhkan adalah kebijakan yang arif.
Indonesia Sebenarnya Sudah Belajar dari Yusuf
Menariknya, prinsip tersebut sebenarnya sudah diterapkan Indonesia, setidaknya dalam urusan beras.
Perum Bulog mencatat Cadangan Beras Pemerintah mencapai sekitar 5,25 juta ton per 9 Agustus 2026, setelah sebelumnya menembus lebih dari 5 juta ton pada April. Pemerintah juga menaikkan target penyerapan gabah petani domestik menjadi sekitar 4 juta ton pada 2026.
Logikanya sama dengan strategi Yusuf, yakni ketika produksi tersedia, negara menyerap dan menyimpan sebagian hasilnya agar memiliki bantalan ketika pasokan terganggu.
Cadangan pangan bukan tanda pesimisme. Justru sebaliknya, cadangan adalah bentuk optimisme yang rasional. Keyakinan bahwa masa sulit bisa datang, sehingga negara memilih bersiap sebelum terlambat.
Masalahnya, logika yang sudah diterapkan untuk pangan belum sepenuhnya diterapkan untuk sesuatu yang bahkan lebih mendasar, yaitu air.
Kalau Bisa Menabung Beras, Mengapa Tidak Menabung Air?
Di sinilah persoalan Lampung menjadi menarik.
Kekeringan tidak hanya mengancam produksi pangan. Ketika lahan mengering, terutama kawasan gambut dan vegetasi yang rentan terbakar, risiko karhutla ikut meningkat.
Respons pemerintah selama ini lebih sering menguat ketika krisis sudah terlihat.
Di Lampung, misalnya, Operasi Modifikasi Cuaca digelar ketika jumlah hotspot meningkat tajam dan kebakaran di Taman Nasional Way Kambas meluas.
Operasi tersebut penting. Pesawat dan teknologi modifikasi cuaca juga diperlukan sebagai bagian dari penanganan darurat.
Tetapi ada persoalan modifikasi cuaca sangat bergantung pada keberadaan awan yang memenuhi syarat.
Jika awan tidak tersedia, teknologi secanggih apa pun tidak banyak membantu.
Dengan kata lain, ketika kekeringan sudah berada di depan mata, negara masih harus berharap pada sesuatu yang berada di luar kendali sepenuhnya.
Di sinilah pelajaran Nabi Yusuf terasa sangat relevan.
Yusuf tidak mempertaruhkan keselamatan Mesir pada apakah hujan akan turun ketika paceklik tiba. Ia membangun cadangan ketika kondisi masih memungkinkan.
Dari Lumbung Pangan ke Lumbung Air
Jika lumbung beras menyimpan pangan untuk menghadapi krisis, maka kawasan gambut dan pertanian juga membutuhkan semacam “lumbung air”.
Caranya bukan menyimpan air dalam satu gudang besar, melainkan mempertahankan air di dalam ekosistem selama mungkin.
Pada kawasan gambut, misalnya, air dapat dipertahankan melalui sekat kanal yang membendung drainase. Sumur bor dapat menyediakan air ketika muka air turun. Sementara parit aktif yang mendapat pasokan dari sungai atau sumber air permanen dapat dirancang sebagai saluran air sekaligus firebreak dan sumber pemadaman.
Prinsipnya sama, air disimpan ketika tersedia agar tidak dicari ketika sudah terlambat.
Penelitian di Kalimantan Tengah menunjukkan sekat kanal dapat meningkatkan muka air gambut secara signifikan pada musim kemarau. Artinya, intervensi tata air bukan sekadar gagasan teoritis.
Tetapi persoalannya justru terletak pada keberlanjutan. Sekat yang rusak tidak lagi menahan air. Pompa yang tidak dirawat tidak bisa bekerja. Parit yang tidak terhubung dengan sumber air tidak banyak membantu.
Maka, membangun infrastruktur saja tidak cukup. Yang harus dibangun adalah sistemnya.
Jangan Sampai Lumbungnya Bocor
Di sinilah Indonesia memiliki pekerjaan rumah besar.
Sejumlah pengalaman restorasi gambut menunjukkan bahwa infrastruktur tata air dapat kehilangan efektivitas ketika pemeliharaan lemah, anggaran tidak berkelanjutan, terjadi gangguan pembangunan, atau kelembagaan pengelola tidak lagi kuat.
Ibarat strategi Yusuf, kita mungkin sudah memiliki lumbung. Tetapi lumbung itu harus dijaga agar tidak bocor.
Persoalannya bukan lagi apakah pemerintah tahu bahwa kekeringan bisa terjadi. Bukan pula apakah teknologi pencegahan tersedia. Pertanyaannya adalah apakah kita bersedia mengeluarkan biaya ketika ancaman belum terlihat?
Inilah tantangan terbesar kebijakan pencegahan.
Membangun sekat kanal ketika belum ada kebakaran tidak menghasilkan gambar dramatis. Memelihara parit ketika hujan masih turun tidak menjadi berita utama. Menyimpan air ketika waduk masih penuh terasa seperti pekerjaan yang tidak mendesak. Faktanya, kita lebih sering lupa mengurus itu semua. Kita terbiasa terlena ketika keadaan baik-baik saja.
Padahal justru itulah hakikat pencegahan.
Kepemimpinan Diuji Sebelum Krisis
Ada satu pelajaran lain dari kisah Yusuf yang tidak kalah penting, yaitu keberanian mempercayai peringatan sebelum orang lain melihat krisis.
Yusuf berbicara tentang paceklik ketika Mesir masih berada di ambang tujuh tahun kemakmuran. Keputusan itu membutuhkan kepemimpinan karena masyarakat harus menerima kenyataan bahwa kelimpahan tidak akan berlangsung selamanya.
Hari ini Indonesia memiliki sesuatu yang jauh lebih maju. Data iklim, satelit, sistem peringatan dini dan model prediksi cuaca. Artinya, kemampuan membaca risiko sebenarnya jauh lebih baik.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kemampuan membaca risiko sudah diikuti keberanian menyiapkan cadangan? Jika ancaman kekeringan sudah diketahui, maka persiapan tidak seharusnya dimulai ketika tanaman mulai gagal tumbuh atau api mulai menyala. Indonesia tidak perlu sibuk memantau api, meminta maaf akibat asap yang dikeluhkan negara tetangga, dan ribut mencari dalang dari setiap peristiwa kebakaran hutan.
Yang paling arif bijaksana adalah mempersiapkan semuanya ketika kondisi masih memungkinkan.
Bagi Lampung, pelajaran ini sangat konkret.
Provinsi ini memiliki sektor pertanian yang penting sekaligus menghadapi risiko kekeringan dan karhutla. Karena itu, kebijakan air tidak semestinya berdiri sendiri sebagai urusan irigasi.
Air adalah bagian dari strategi pangan sekaligus strategi pencegahan kebakaran.
Embung, waduk, kanal, parit, sumur, jaringan irigasi, kawasan resapan dan tata kelola lahan harus dilihat sebagai satu sistem.
Ketika hujan berlimpah, sebagian air harus ditahan. Ketika kemarau datang, cadangan itu digunakan. Ketika lahan mulai kering, air harus tersedia sebelum api muncul. Dan ketika api muncul, sumber air tidak perlu dicari dari nol.
Itulah bentuk modern dari prinsip Yusuf.
Bukan menunggu krisis, melainkan menabung daya tahan ketika keadaan masih baik.
Kisah Nabi Yusuf tidak mengajarkan manusia untuk menebak masa depan secara ajaib. Ia mengajarkan sesuatu yang jauh lebih praktis. Ketika tanda-tanda risiko sudah terbaca, gunakan masa kelimpahan untuk mempersiapkan masa sulit.
Indonesia hari ini memiliki teknologi yang bahkan tidak pernah dimiliki manusia pada zaman Yusuf.
Kita punya satelit. Kita punya BMKG. Kita punya data iklim. Kita punya teknologi modifikasi cuaca. Kita punya penelitian tentang gambut. Kita punya sistem cadangan pangan.
Tetapi teknologi tidak akan banyak berarti jika semuanya baru digunakan setelah krisis datang.
Bulog telah menunjukkan bahwa negara bisa membangun “lumbung” ketika situasi belum krisis.
Pertanyaannya, bisakah kita melakukan hal yang sama terhadap air?
Jika jawabannya ya, maka Lampung tidak harus selalu menunggu hujan sebagai penyelamat, atau mengejar api untuk kemudian sibuk memadamkannya.
Kita bisa mulai dari prinsip yang sangat tua, tetapi tetap relevan. Simpan ketika ada, rawat ketika belum dibutuhkan, dan gunakan ketika masa sulit datang.
Itulah pelajaran Nabi Yusuf yang barangkali paling penting untuk kita hari ini. Krisis yang dipersiapkan sejak masa subur bukan lagi kejutan ketika masa kering tiba.
