BANDAR LAMPUNG — Pertumbuhan ekonomi Lampung belum benar benar punya tenaga pendorong kuat. Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengakui, daerah ini masih membutuhkan pengungkit baru agar tidak terjebak pada pola pertumbuhan yang itu-itu saja.
Berbicara dalam Seminar Nasional BKS PTN Barat Bidang Ilmu Sosial di FISIP Universitas Lampung, Jumat 17 April 2026, Jihan menyebut capaian pertumbuhan 5,28 persen memang positif, tetapi belum cukup untuk mendorong lonjakan kesejahteraan.
Pertumbuhan, kata dia, masih bertumpu pada struktur lama yang membuat nilai tambah ekonomi belum optimal.
“Lampung butuh pengungkit pertumbuhan. Kalau tidak, kita hanya akan berputar di angka yang sama,” ujarnya.
Masalah utamanya terletak pada dominasi sektor pertanian yang mencapai sekitar 24 persen, namun belum diikuti penguatan industri pengolahan. Komoditas unggulan seperti kopi, singkong, dan jagung masih banyak dilepas dalam bentuk mentah.
Akibatnya sederhana, nilai ekonomi terbesar justru dinikmati di luar daerah. Pertumbuhan Lampung tertahan. Tanpa hilirisasi, ekonomi hanya bergerak di permukaan tanpa pernah benar benar naik kelas.
“Tidak boleh berhenti di bahan mentah. Harus ada pengolahan di daerah supaya nilai tambahnya kembali ke masyarakat,” tegas Jihan.
Di tengah keterbatasan itu, Lampung sebenarnya menyimpan energi besar melalui bonus demografi. Sekitar 70 persen dari 9,52 juta penduduk berada pada usia produktif. Namun Jihan mengingatkan, potensi ini bisa berubah menjadi beban jika tidak diarahkan.
Bonus demografi, dalam konteks pertumbuhan, bukan jaminan. Bonus demografi hanya diperoleh jika didukung kualitas sumber daya manusia dan ketersediaan lapangan kerja.
Tanpa itu, tekanan sosial dan ekonomi justru akan meningkat.
Karena itu, Jihan menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha untuk menciptakan sumber sumber pertumbuhan baru yang lebih produktif.
Ia juga mengingatkan bahwa pertumbuhan tidak boleh mengorbankan keberlanjutan. Degradasi lahan, praktik pertanian yang belum ramah lingkungan, hingga lemahnya pengelolaan limbah industri, menjadi ancaman nyata bagi masa depan ekonomi daerah.
Dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, capaian Lampung telah mencapai sekitar 75 persen indikator. Namun sektor pendidikan, kesehatan, dan ketenagakerjaan formal masih menjadi titik lemah yang mempengaruhi kualitas pertumbuhan.
Pemerintah Provinsi Lampung kini mendorong berbagai program untuk memperkuat pengungkit ekonomi, mulai dari pengembangan ekonomi desa, perhutanan sosial, penggunaan pupuk organik, hingga ketahanan pangan berbasis hilirisasi.
Arah ini menjadi penegasan bahwa pertumbuhan tidak cukup dijaga tetap stabil. Sebab tanpa pengungkit yang jelas, pertumbuhan hanya akan menjadi angka, bukan perubahan.(iwa)
