LAMPUNG – Kepala Cabang Disdikbud Wilayah II Provinsi Lampung, Rodi Hayani Samsun, membuka Rapat Koordinasi bersama Koordinator Pengawas Satuan Pendidikan dan Pengurus Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) SMA/SMK di MA Negeri 1 Pringsewu pada Kamis (21/5/2026).
Rakor tersebut menjadi bagian dari percepatan transformasi pendidikan di Lampung, yakni perubahan menyeluruh dalam cara sekolah mengajar, cara guru membimbing siswa, hingga cara teknologi digunakan dalam proses belajar di kelas.
Transformasi pendidikan tidak lagi sekadar berbicara soal mengganti buku dengan layar digital, tetapi bagaimana sekolah mulai menyiapkan siswa menghadapi dunia yang berubah cepat akibat perkembangan teknologi, kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), dan digitalisasi kerja.
Karena itu, guru didorong tidak hanya menjadi pengajar materi, tetapi juga pembimbing yang mampu melatih cara berpikir kritis, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, serta literasi digital siswa.

Dalam kegiatan tersebut, guru-guru MGMP SMA/SMK dari mata pelajaran utama seperti Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia bersama pengawas satuan pendidikan se-Wilayah II mendapat penguatan terkait pembelajaran berbasis teknologi, koding, dan AI.
“Dunia pendidikan sudah bergerak ke arah digitalisasi. Guru harus siap memahami pembelajaran berbasis teknologi, termasuk koding dan kecerdasan artifisial,” kata Rodi.
Untuk mempercepat adaptasi tersebut, Disdikbud menghadirkan fasilitator nasional guna memberikan penguatan kepada para guru agar mampu menerapkan metode pembelajaran yang lebih interaktif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Menurut Rodi, perubahan pola pembelajaran menjadi kebutuhan mendesak karena tantangan pendidikan ke depan tidak lagi sama seperti beberapa tahun lalu.
Jika sebelumnya sekolah hanya fokus pada kemampuan akademik dasar, kini siswa juga dituntut mampu beradaptasi dengan teknologi, bekerja kolaboratif, serta memiliki kemampuan berpikir analitis di tengah derasnya arus informasi digital.
“Kualitas pendidikan harus terus naik dan mampu menjawab tantangan zaman. Karena itu pola pikir dan sistem pembelajaran juga harus berubah,” ujarnya.
Rakor itu juga menjadi bagian dari evaluasi program pendidikan yang dijalankan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung di bawah kepemimpinan Thomas Amirico.
Cabdin Wilayah II menegaskan pelatihan guru tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Seluruh materi yang diperoleh, terutama terkait AI dan digitalisasi pembelajaran, diminta langsung diterapkan di ruang kelas.
“Kami ingin guru benar-benar membawa perubahan dalam metode pembelajaran. Jangan lagi terpaku pada cara-cara lama,” tegasnya.
Indikator Kemajuan
Di tengah dorongan transformasi tersebut, capaian pendidikan Lampung mulai menunjukkan peningkatan. Salah satunya terlihat dari jumlah siswa yang lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun ini yang disebut meningkat hingga tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Menurut Rodi, peningkatan itu menjadi indikator awal bahwa kualitas pendidikan Lampung mulai bergerak ke arah yang lebih kompetitif, sejalan dengan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) daerah.
Namun ia mengingatkan, persaingan pendidikan ke depan tidak hanya ditentukan oleh nilai rapor, tetapi juga kemampuan siswa menghadapi perubahan dunia kerja dan perkembangan teknologi global.
“Pendidikan harus adaptif, inovatif, dan mampu mengikuti perkembangan zaman agar siswa kita bisa bersaing di tingkat nasional maupun global,” tandasnya.(iwa)
