Cabai Naik, Beras Naik, Ayam Naik. Mengapa Inflasi Lampung Tetap Rendah?

BANDARLAMPUNG — Jika masyarakat merasa harga kebutuhan hidup semakin mahal, perasaan itu sebenarnya tidak keliru.

Harga cabai rawit naik. Beras naik. Minyak goreng naik. Daging ayam ras naik. Bahkan biaya transportasi dan harga emas ikut menanjak. Namun anehnya, inflasi tahunan Lampung pada Mei 2026 hanya tercatat 1,94 persen.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung menunjukkan ada satu faktor yang menjadi “penahan” utama laju inflasi, yakni sektor pendidikan. Keadaan, justru telah terjadi berbulan-bulan sejak uang komite sekolah dihapuskan. Atau persis setelah Thomas Amirico dilantik jadi Kadisdikbud Lampung.

Kelompok pendidikan mengalami deflasi sangat dalam mencapai 17,97 persen secara tahunan. Dampaknya tidak kecil. Sektor ini sendirian mengurangi inflasi Lampung sebesar 1,19 persen.

Besarnya pengaruh tersebut terlihat dari struktur inflasi yang ada. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru mengalami inflasi 4,89 persen dengan kontribusi 1,64 persen terhadap inflasi keseluruhan. Artinya, tekanan harga kebutuhan pokok sebenarnya masih cukup tinggi.

Cabai rawit, cabai merah, bawang merah, minyak goreng, beras, hingga daging ayam ras menjadi komoditas yang paling banyak menyumbang kenaikan biaya hidup masyarakat sepanjang setahun terakhir.

Dengan kata lain, inflasi Lampung saat ini tampak rendah bukan karena harga pangan stabil. Sebaliknya, tekanan harga pangan masih kuat, tetapi tertutup oleh penurunan biaya pendidikan.

Fenomena ini menarik karena jarang terjadi. Dalam struktur inflasi daerah, pendidikan biasanya menjadi kelompok yang relatif stabil. Namun di Lampung, kelompok ini justru menjadi faktor penekan terbesar.

BPS mencatat deflasi terutama berasal dari pendidikan menengah yang turun hingga 51,24 persen. Secara komoditas, biaya sekolah menengah atas memberikan andil deflasi terbesar sebesar 0,84 persen, disusul sekolah menengah pertama sebesar 0,39 persen.

Kondisi tersebut dapat dibaca sebagai dampak kebijakan pemerintah yang memperluas akses pendidikan dan mengurangi beban biaya langsung yang ditanggung rumah tangga.

Secara sederhana, masyarakat mungkin masih mengeluhkan harga cabai yang mahal ketika berbelanja di pasar. Namun secara statistik, penghematan yang diperoleh rumah tangga dari sektor pendidikan ternyata lebih besar daripada tambahan pengeluaran akibat kenaikan sejumlah bahan pangan.

Karena itu, cerita inflasi Lampung Mei 2026 sesungguhnya bukan tentang cabai atau beras. Cerita utamanya adalah bagaimana sektor pendidikan menjadi penyangga daya beli masyarakat ketika biaya hidup dari kebutuhan sehari-hari terus mengalami tekanan.

Jika tren ini berlanjut, pendidikan tidak hanya berperan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga menjadi instrumen ekonomi yang membantu menjaga stabilitas pengeluaran rumah tangga di Lampung.(iwa)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *