Harga Pertamax Naik, Geopolitik Global Kini Masuk ke SPBU, “Siapa yang Akan Membayar?”

Harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter. Di balik kenaikan tersebut terdapat dampak konflik Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, dan mekanisme pasar energi global yang akhirnya sampai ke SPBU Indonesia.

@Iwa Perkasa

Banyak pengendara mungkin hanya melihat satu angka.

Rp16.250 per liter.

Itulah harga baru Pertamax yang mulai berlaku sejak 10 Juni 2026.

Dalam semalam, harga BBM nonsubsidi paling populer di kalangan kelas menengah Indonesia itu melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, atau naik lebih dari 32 persen.

Wajar jika banyak orang terkejut.

Namun sebelum marah kepada SPBU, Pertamina, atau pemerintah, ada satu pertanyaan yang perlu dijawab terlebih dahulu.

Mengapa kenaikannya bisa sebesar itu?

Jawabannya ternyata tidak berada di Jakarta.

Bukan pula di kantor Pertamina.

Melainkan ribuan kilometer jauhnya, di Timur Tengah.

Pasar minyak dunia memiliki satu karakter unik. Ia tidak mengenal batas negara.

Apa yang terjadi di Teluk Persia bisa memengaruhi harga bensin di Bandar Lampung, Surabaya, hingga Medan. Bahkan, dampaknya tidak cuma kepada harga. Bila kondisi terus memburuk, harga pun tak ada karena tak ada yang bisa dicor ke tanki mobil Anda.

Dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat, meski semalam dikabarkan sudah sedikit mendingin. Harga minyak dunia hari ini sedikit turun. Tetapi, jangan berharap ada penyesuaian harga di dalam negeri. Mungkin nanti, atau entah kapan.

Kenaikan Pertamax yang terjadi di Indonesia  merupakan salah satu konsekuensi dari rantai peristiwa tersebut. Menurut Kementerian ESDM, harga BBM nonsubsidi memang mengikuti mekanisme keekonomian yang mempertimbangkan harga minyak dunia, biaya distribusi, penyimpanan, hingga komponen pajak.

Dengan kata lain, yang naik bukan hanya harga minyaknya.

Seluruh biaya dalam rantai energi, juga ikut bergerak.

Mengapa Baru Naik Sekarang?

Ini pertanyaan yang juga banyak muncul.

Jika konflik sudah berlangsung beberapa waktu, mengapa harga Pertamax baru melonjak sekarang?

Jawabannya sederhana.

Karena selama beberapa waktu, harga tersebut masih ditahan.

Namun menahan harga energi bukanlah kebijakan yang bisa dilakukan tanpa batas.

Semakin lama harga pasar dan harga jual dipisahkan, semakin besar biaya yang harus ditanggung. Beberapa pengamat energi menilai pemerintah dan badan usaha sebelumnya berupaya menahan dampak kenaikan harga global sebelum akhirnya melakukan penyesuaian.

Karena itu, kenaikan yang muncul sekarang terasa besar.

Bukan semata-mata karena harga minyak hari ini.

Tetapi karena akumulasi tekanan yang selama beberapa waktu belum sepenuhnya diteruskan ke konsumen.

Memicu Inflasi?

Belum tentu.

Pemerintah menilai dampak inflasi dari kenaikan Pertamax relatif terbatas karena BBM ini bukan bahan bakar utama transportasi umum maupun kelompok penerima subsidi. Pertalite dan solar subsidi tetap dipertahankan pada harga sebelumnya.

Secara volume, Pertamax juga hanya mencakup sebagian kecil konsumsi BBM nasional. Karena itu, dampaknya terhadap inflasi nasional diperkirakan tidak sebesar ketika BBM bersubsidi dinaikkan.

Tetapi ada hal lain yang perlu diperhatikan.

Dalam ekonomi, persepsi sering kali sama pentingnya dengan angka.

Ketika harga BBM naik, masyarakat biasanya mulai lebih sensitif terhadap harga-harga lain.

Biaya transportasi. Biaya distribusi. Biaya operasional usaha.

Belum tentu semuanya langsung naik. Harusnya begitu.

Namun ekspektasi kenaikan sering kali muncul lebih dulu. Ketularan!

Kenaikan Pertamax hari ini sesungguhnya mengajarkan satu hal penting.

Indonesia mungkin tidak sedang berperang.

Tetapi Indonesia tetap hidup di dalam ekonomi global. Ketika Selat Hormuz terganggu, Indonesia merasakannya.

Ketika harga minyak dunia melonjak, Indonesia ikut membayar.

Ketika geopolitik memanas, biaya hidup masyarakat bisa ikut berubah.

Di era ekonomi modern, jarak geografis tidak lagi menentukan besarnya dampak.

Perang yang terjadi ribuan kilometer jauhnya dapat berakhir di tempat yang sangat dekat, yaitu di papan harga SPBU yang kita lihat setiap hari.

Dan itulah mengapa kenaikan Pertamax bukan sekadar cerita tentang BBM.

Ia adalah pengingat bahwa ekonomi Indonesia kini semakin terhubung dengan denyut ekonomi dunia.

Hari ini angkanya Rp16.250 per liter. Tetapi cerita sebenarnya jauh lebih besar daripada angka itu.*****

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *