Lampung dalam Pusaran Gelombang Investasi Energi Hijau Menyapu Asia Tenggara

Gelombang investasi energi hijau yang sedang menyapu Asia Tenggara membuka peluang besar bagi Lampung. Dengan kekuatan di sektor singkong, tebu, biomassa, dan posisi strategis sebagai gerbang Sumatra, Lampung berpotensi menjadi salah satu pusat pertumbuhan energi terbarukan nasional.

@Iwa Perkasa

Banyak orang melihat transisi energi sebagai isu lingkungan. Tentang pengurangan emisi karbon, perubahan iklim, atau penggantian bahan bakar fosil dengan energi terbarukan. Padahal bagi daerah seperti Lampung, transisi energi sesungguhnya adalah persoalan ekonomi.

Ini tentang investasi, lapangan kerja, industrialisasi, dan peluang menciptakan sumber pertumbuhan baru.

Saat negara-negara Asia Tenggara berlomba membangun energi bersih, Lampung justru berada pada posisi yang relatif menguntungkan. Provinsi ini memiliki sumber daya yang dibutuhkan, lokasi strategis, dan yang tidak kalah penting, berada dalam jalur kebijakan nasional yang kini mendorong hilirisasi dan ketahanan energi.

Karena itu, pertanyaan yang relevan bukan lagi apakah Lampung memiliki potensi. Pertanyaannya adalah seberapa cepat Lampung mampu menangkap peluang yang sedang datang.

ASEAN dan Era Energi Baru

Momentum untuk Lampung terjadi bersamaa terjadinya transformasi energi di Asia Tenggara yang berlangsung semakin cepat.

Kapasitas energi terbarukan kawasan diproyeksikan meningkat dari sekitar 124 gigawatt pada 2025 menjadi lebih dari 178 gigawatt pada 2030. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa energi bersih kini menjadi bagian penting dari strategi pembangunan ekonomi regional.

Investasi bakal mengalir cepat. Nilai investasi energi bersih di kawasan telah meningkat dari sekitar US$30 miliar pada 2015 menjadi US$47 miliar pada 2025. Negara-negara ASEAN mulai melihat energi terbarukan bukan sekadar instrumen lingkungan, melainkan fondasi baru pertumbuhan ekonomi.

Vietnam berkembang menjadi salah satu pusat investasi tenaga surya terbesar di kawasan. Thailand agresif membangun industri kendaraan listrik. Malaysia mengembangkan teknologi penangkapan karbon. Indonesia pun mulai mempercepat pengembangan bioetanol, panas bumi, biomassa, dan berbagai bentuk energi terbarukan lainnya.

Persaingan sesungguhnya telah dimulai.

Di tengah perubahan tersebut, Lampung memiliki modal yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Lampung merupakan produsen singkong terbesar di Indonesia. Lampung juga menjadi salah satu sentra tebu nasional. Selain itu, terdapat potensi biomassa yang sangat besar dari limbah pertanian, perkebunan, peternakan, hingga pengolahan hasil pertanian.

Selama ini sebagian besar potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai sumber energi. Padahal di banyak negara, limbah pertanian telah berubah menjadi bahan bakar industri, pembangkit listrik, hingga bahan baku energi terbarukan.

Yang membuat posisi Lampung semakin menarik adalah kedekatannya dengan Pulau Jawa sebagai pasar energi dan industri terbesar di Indonesia. Didukung jaringan Tol Trans Sumatra, pelabuhan, dan infrastruktur logistik yang terus berkembang, Lampung memiliki keunggulan geografis yang sulit diabaikan investor.

Perlu Dukungan Pemerintah Pusat

Momentum ini menjadi semakin penting karena sejalan dengan arah kebijakan pemerintah pusat. Presiden Prabowo Subianto mendorong agenda besar hilirisasi, ketahanan pangan, dan ketahanan energi sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam kerangka tersebut, pengembangan biofuel menjadi salah satu program strategis.

Artinya, daerah yang memiliki bahan baku bioetanol dan biomassa akan memperoleh perhatian yang lebih besar dibanding sebelumnya. Lampung termasuk dalam kelompok daerah yang memiliki posisi strategis.

Singkong yang selama ini hanya dijual sebagai bahan baku industri pangan berpotensi berkembang menjadi bahan baku energi. Tebu tidak hanya menghasilkan gula, tetapi juga dapat menjadi sumber bioetanol. Limbah pertanian yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat berubah menjadi sumber energi baru.

Jika hal tersebut terjadi, maka nilai ekonomi yang tercipta akan jauh lebih besar dibanding pola lama yang hanya menjual komoditas mentah.

Energi Hijau Bukan Sekadar Listrik

Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap energi terbarukan hanya berkaitan dengan pembangkit listrik. Padahal dampaknya jauh lebih luas. Setiap investasi energi biasanya diikuti pembangunan infrastruktur, kebutuhan tenaga kerja, aktivitas logistik, jasa pendukung, hingga tumbuhnya industri baru.

Ketika sebuah pabrik bioetanol dibangun, yang bergerak bukan hanya sektor energi. Petani memperoleh pasar yang lebih luas. Transportasi meningkat. Pergudangan berkembang. Pelabuhan menjadi lebih sibuk. Lapangan kerja baru tercipta. Dengan kata lain, energi dapat menjadi pintu masuk industrialisasi.

Inilah alasan mengapa banyak negara berlomba menarik investasi energi bersih. Bukan semata-mata demi listrik, tetapi demi efek ekonomi yang ditimbulkannya.

Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru Lampung

Beberapa waktu terakhir, Pemerintah Provinsi Lampung berbicara mengenai target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, 8 persen. Untuk mencapai target tersebut, Lampung membutuhkan mesin ekonomi baru.

Selama ini ekonomi daerah masih sangat bergantung pada sektor primer, terutama pertanian dan perkebunan. Model tersebut berhasil menjaga stabilitas ekonomi, tetapi memiliki keterbatasan dalam menciptakan lonjakan nilai tambah.

Karena itu, energi hijau dapat menjadi salah satu jawaban. Bukan sebagai pengganti pertanian, melainkan sebagai cara meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian itu sendiri.

Singkong tidak lagi berhenti sebagai bahan baku. Tebu tidak hanya berhenti sebagai komoditas. Limbah pertanian tidak lagi menjadi beban. Seluruhnya dapat masuk ke dalam rantai industri energi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Lampung Jangan Menjadi Penonton

Peluang besar sering kali datang bersamaan dengan persaingan yang besar pula. Investor akan mencari daerah yang siap. Mereka membutuhkan kepastian regulasi, ketersediaan lahan, infrastruktur yang memadai, serta dukungan pemerintah yang konsisten.

Karena itu, pekerjaan rumah Lampung tidak berhenti pada potensi. Potensi hanyalah modal awal. Yang menentukan adalah kemampuan mengubah potensi menjadi proyek nyata yang layak dibiayai dan menarik bagi investor. Maka Lampung, mesti aktif  jemput bola, “menjual” sekuat tenaga.

Sebab, dunia sedang bergerak menuju ekonomi rendah karbon. Asia Tenggara sedang menjadi salah satu tujuan investasi energi hijau paling menarik di dunia. Sementara Lampung memiliki hampir seluruh bahan baku yang dibutuhkan untuk ikut dalam gelombang tersebut.

Jika momentum ini mampu ditangkap, Lampung tidak hanya dikenal sebagai lumbung pangan nasional. Lampung berpeluang menjadi salah satu pusat pertumbuhan energi hijau Indonesia, sekaligus membuka jalan menuju ekonomi yang lebih modern, bernilai tambah tinggi, dan berdaya saing pada masa depan. Dan yang paling penting, ekonomi Lampung lebih cepat melesat, mengangkat derajat kesejahteraan penduduknya.*****

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *