Selama bertahun-tahun, Lampung Selatan dikenal sebagai pintu gerbang Pulau Sumatra. Setiap hari ribuan kendaraan dan penumpang melintas melalui Pelabuhan Bakauheni menuju berbagai daerah di Sumatra. Namun, di balik tingginya mobilitas itu, tidak semua pelintas memilih berhenti dan menikmati daerah ini.
Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan kini ingin mengubah paradigma tersebut. Bupati Radityo Egi Pratama, daerah ini tengah membangun identitas baru sebagai Beranda Pulau Sumatra, sebuah strategi branding yang menempatkan Lampung Selatan bukan lagi sekadar wilayah persinggahan, melainkan destinasi yang layak disinggahi, dieksplorasi, dan memberikan pengalaman bagi setiap pengunjung.
Gagasan itu tercurahkan saat Egi menerima rombongan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Lampung yang dipimpin Sekretaris JMSI Provinsi Lampung Anton Kurniawan, didampingi sejumlah pengurus dan pengusaha media, yakni Amuri Alpa Heris, Desti, Fahmi, serta Ketua JMSI Lampung Selatan Gandi Yusnadi, Selasa (7/7/2026).
Gayung bersambut, JMSI Lampung menyatakan siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat promosi pariwisata, investasi, serta memperkenalkan berbagai potensi unggulan Lampung Selatan kepada masyarakat luas.

Sebagai Ketua JMSI Lampung Selatan, Gandi Yusnadi, menegaskan media memiliki peran penting dalam membangun persepsi publik terhadap suatu daerah. Karena itu, perusahaan-perusahaan media yang tergabung dalam JMSI siap menjadi bagian dari upaya memperkuat citra Lampung Selatan sebagai wajah pertama Pulau Sumatra.
“Kami siap berkontribusi mempromosikan potensi pariwisata sekaligus mendukung branding Kabupaten Lampung Selatan sebagai Beranda Pulau Sumatra,” ujar Gandi.
Mengubah Cara Pandang
Dalam pertemuan tersebut, Bupati Egi menjelaskan bahwa konsep Beranda Pulau Sumatra bukan sekadar slogan promosi, melainkan arah baru pembangunan daerah yang ingin mengubah cara orang memandang Lampung Selatan.
Menurutnya, selama ini daerahnya identik sebagai gerbang masuk Pulau Sumatra. Padahal, sebuah gerbang hanya berfungsi sebagai tempat orang melintas. Beranda memiliki makna yang berbeda yang lebih khas, yakni sebagai ruang yang mengundang orang untuk berhenti, menikmati suasana, dan akhirnya ingin tinggal lebih lama.
“Kita ingin membranding Lampung Selatan sebagai Beranda Pulau Sumatra. Gerbang hanya dilewati, sedangkan beranda adalah tempat orang singgah. Itulah yang ingin kita wujudkan agar kunjungan wisata berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat,” kata Egi.
Filosofi tersebut sekaligus menjadi strategi ekonomi. Semakin lama wisatawan berada di Lampung Selatan, semakin besar peluang tumbuhnya perputaran ekonomi yang dinikmati pelaku UMKM, hotel, restoran, destinasi wisata, transportasi lokal, hingga industri kreatif. Dengan kata lain, keberhasilan branding diharapkan tidak hanya meningkatkan popularitas daerah, tetapi juga menghadirkan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
Bagi Egi, keberhasilan membangun identitas baru daerah tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor agar pesan pembangunan mampu menjangkau masyarakat secara luas dan berkelanjutan.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan membuka ruang kolaborasi dengan media sebagai bagian dari konsep pembangunan hexahelix atau sebuah model kolaborasi pembangunan yang melibatkan enam unsur utama, yaitu pemerintah, dunia usaha (bisnis), akademisi/perguruan tinggi, komunitas/masyarakat, media dan influencer atau pelaku kreatif, sebagai pilar yang saling memperkuat.
“Saya menyambut baik seluruh bentuk kolaborasi, khususnya di bidang pariwisata. Dalam konsep hexahelix, media dan para influencer memiliki ruang yang sangat penting untuk bersama-sama membangun citra positif Lampung Selatan sehingga mampu memberikan dampak yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris JMSI Provinsi Lampung Anton Kurniawan menyampaikan bahwa kunjungan tersebut juga menjadi bentuk apresiasi terhadap berbagai capaian pembangunan yang diraih Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.
Menurut Anton, sejumlah indikator pembangunan menunjukkan tren yang menggembirakan, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang dinilai berada di atas rata-rata Provinsi Lampung hingga berbagai penghargaan yang diterima Bupati Radityo Egi Pratama atas komitmennya dalam pengembangan sektor pariwisata.
Ia juga menilai pola kemitraan yang selama ini dibangun Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dengan perusahaan media telah berjalan baik dan menjadi contoh bagi sejumlah daerah lain di Provinsi Lampung.
“JMSI sebagai organisasi perusahaan media siap mendukung penyebarluasan informasi pembangunan sekaligus memperkuat promosi berbagai potensi daerah agar semakin dikenal masyarakat luas,” ujar Anton.
Sinergi antara pemerintah daerah dan media diharapkan menjadi energi baru dalam memperkuat promosi destinasi wisata, membuka peluang investasi, sekaligus memperkenalkan wajah baru Lampung Selatan kepada publik.(iwa)
