Kisah Adelia dan kunjungan Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menunjukkan bagaimana Sekolah Rakyat menjadi pintu pendidikan sekaligus pengentasan kemiskinan.
@Iwa Perkasa
Pagi itu, rumah sederhana di Desa Rantau Jaya Udik II, Kecamatan Sukadana, Lampung Timur, mendadak lebih ramai dari biasanya. Sejumlah pejabat datang bersama Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela. Namun, tujuan mereka bukan sekadar melakukan kunjungan seremonial.
Di rumah itu tinggal Adelia Putri, gadis berusia 12 tahun yang sebentar lagi akan memasuki babak baru kehidupannya sebagai siswa SMP di Sekolah Rakyat Lampung Timur.
Bagi sebagian anak, memasuki tahun ajaran baru mungkin hanya berarti membeli seragam dan buku. Namun bagi Adelia, kesempatan itu jauh lebih besar. Ia memperoleh akses pendidikan berasrama yang seluruh kebutuhan dasarnya ditanggung negara, sebuah peluang yang selama ini mungkin sulit dijangkau keluarganya.
Kunjungan Jihan pada Kamis (9/7/2026) menjadi simbol bahwa negara tidak hanya hadir ketika sekolah dibangun, tetapi juga ketika seorang anak bersiap memasuki gerbang pendidikan.
Di hadapan Adelia, Jihan memberikan pesan sederhana namun bermakna: tetap semangat belajar dan manfaatkan kesempatan yang telah diberikan pemerintah untuk mengejar cita-cita.
Pesan itu sejalan dengan konsep Sekolah Rakyat yang tidak hanya mengajarkan pelajaran di ruang kelas. Sekolah berkonsep boarding school tersebut dirancang untuk membentuk karakter, kedisiplinan, kemandirian, sekaligus memberikan lingkungan belajar yang lebih baik bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Seluruh kebutuhan siswa telah dipersiapkan pemerintah, mulai dari tempat tinggal di asrama, konsumsi harian, hingga fasilitas olahraga dan tempat ibadah. Dengan demikian, peserta didik diharapkan dapat fokus belajar tanpa dibebani persoalan biaya pendidikan.
Namun, kunjungan itu tidak berhenti pada urusan sekolah.
Jihan memilih melihat langsung kondisi rumah Adelia dan berbincang dengan keluarganya. Dari sana terlihat bahwa tantangan keluarga miskin sering kali tidak hanya soal pendidikan, tetapi juga menyangkut tempat tinggal, administrasi kependudukan, hingga akses terhadap layanan kesehatan.
Karena itu, ia meminta Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman segera melakukan asesmen agar rumah keluarga Adelia dapat diusulkan memperoleh bantuan melalui Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Program tersebut diharapkan mampu membantu keluarga memperbaiki rumah dengan skema swadaya yang didukung pemerintah dan semangat gotong royong masyarakat.
Pada saat yang sama, berbagai persoalan administrasi juga menjadi perhatian. Jihan menginstruksikan perangkat daerah bersama pemerintah desa menerapkan layanan jemput bola untuk mempercepat pengurusan akta kelahiran, menyinkronkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) agar bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dapat diterima, serta memindahkan fasilitas kesehatan BPJS ke Lampung Timur sehingga keluarga lebih mudah memperoleh layanan kesehatan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa kemiskinan tidak dapat diselesaikan melalui satu program saja. Pendidikan, kesehatan, administrasi kependudukan, bantuan sosial, hingga perbaikan rumah merupakan mata rantai yang saling berkaitan.
Dalam perspektif itulah Sekolah Rakyat diposisikan. Program ini bukan semata membuka akses pendidikan gratis, melainkan menjadi pintu masuk untuk menghadirkan berbagai intervensi pemerintah secara terpadu kepada keluarga penerima manfaat.
Jihan menilai pendidikan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial, perbaikan rumah tidak layak huni, dan kemudahan layanan administrasi merupakan bagian dari upaya bersama pemerintah pusat dan daerah untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Harapannya sederhana, tetapi memiliki dampak besar: anak-anak seperti Adelia dapat belajar dengan tenang, sementara keluarganya memperoleh pendampingan yang memadai agar kualitas hidup mereka meningkat secara bertahap.
Di balik kunjungan singkat itu, tersimpan pesan yang lebih luas. Bahwa investasi terbesar pemerintah bukan hanya membangun gedung sekolah, melainkan memastikan setiap anak yang masuk ke dalamnya memiliki kesempatan yang sama untuk mengubah masa depan.
Adelia mungkin hanya satu dari sekian banyak calon siswa Sekolah Rakyat di Lampung. Namun kisahnya menjadi pengingat bahwa ketika pendidikan dipadukan dengan perlindungan sosial yang terintegrasi, harapan untuk memutus rantai kemiskinan bukan lagi sekadar slogan, melainkan sebuah proses yang mulai berjalan dari rumah-rumah sederhana seperti miliknya.*****
