Gunung Kunyit

Berendam Setiap Subuh di Pesisir Gunung Kunyit, Benarkah Air Laut Membuat Tubuh Lebih Sehat?

Setiap subuh, kawasan reklamasi pesisir Gunung Kunyit di Bandar Lampung dipadati warga. Mereka datang bukan untuk memancing atau menikmati matahari terbit, melainkan berendam di laut. Alasannya hampir sama. Mereka ingin hidup lebih sehat.

@Iwa Perkasa

Sebagian mengaku tubuh menjadi lebih bugar, keluhan nyeri sendi berkurang, flu yang sering kambuh mulai jarang dirasakan, hingga merasa lebih rileks setelah rutin berendam. Namun, benarkah manfaat tersebut berasal dari air laut?

Ilmu pengetahuan memberikan jawaban yang lebih kompleks daripada sekadar “ya” atau “tidak”.

Air Laut Belum Terbukti Menyembuhkan Penyakit

Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menyatakan berendam di air laut dapat menyembuhkan penyakit seperti asam urat, flu, hipertensi, atau gangguan persendian dan banyak gangguan kesehatan lainnya.

Memang terdapat praktik thalassotherapy, yaitu terapi yang memanfaatkan lingkungan laut untuk tujuan kebugaran. Namun, terapi ini tidak diakui sebagai pengganti pengobatan medis, dan manfaatnya masih terus diteliti.

Karena itu, pengalaman warga yang merasa lebih sehat merupakan testimoni pribadi, semacam sugerti. Bukan bukti ilmiah bahwa air laut menyembuhkan penyakit tertentu.

Lalu mengapa banyak orang merasa lebih sehat?

Di sinilah penjelasan ilmiah menjadi menarik.

Seseorang yang rutin datang ke Gunung Kunyit umumnya tidak hanya berendam.

Ia harus bangun sebelum subuh, ada yang berjalan kaki menuju lokasi, bergerak di dalam air, menikmati udara pagi, mendapat paparan sinar matahari setelah matahari terbit, lalu santai, berinteraksi dengan teman-teman yang memiliki kebiasaan serupa.

Nah, semua aktivitas itulah sejak lama diketahui memiliki manfaat bagi kesehatan.

Dengan kata lain, kemungkinan besar tubuh tidak hanya “mendapat manfaat dari air laut”, tetapi dari perubahan gaya hidup secara keseluruhan.

Lalu, bagaimana kalau berendam di kolam atau sungai, apakah manfaatnya sama?

Secara prinsip, banyak manfaat kesehatan juga dapat diperoleh dari aktivitas di tempat lain.

Berjalan kaki menuju kolam renang, berenang secara rutin, atau berolahraga di sungai yang bersih dan aman juga memberikan manfaat berupa peningkatan kebugaran jantung, kekuatan otot, kelenturan sendi, hingga kesehatan mental.

Artinya, yang paling berpengaruh bukan semata-mata jenis airnya, melainkan aktivitas fisik yang dilakukan, konsistensi berolahraga, serta perubahan pola hidup menjadi lebih sehat.

Meski demikian, air laut memiliki karakteristik yang tidak dimiliki air tawar.

Kandungan garam dan mineral seperti magnesium, natrium, kalium, dan kalsium membuat daya apung tubuh menjadi lebih besar sehingga gerakan di dalam air terasa lebih ringan.

Bagi sebagian orang, kondisi tersebut membuat latihan fisik terasa lebih nyaman, terutama bagi mereka yang memiliki keluhan pada persendian.

Namun, hingga kini belum terdapat bukti ilmiah yang cukup kuat bahwa mineral dalam air laut dapat menyembuhkan penyakit tertentu hanya melalui aktivitas berendam.

Alam Juga Menjadi Terapi

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah lingkungan.

Suara ombak, angin laut, pemandangan terbuka, serta suasana tenang pada pagi hari diketahui dapat membantu mengurangi stres dan memperbaiki suasana hati.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa berada di ruang terbuka hijau maupun kawasan pesisir dapat memberikan efek positif terhadap kesehatan mental.

Karena itu, rasa lebih segar yang dirasakan banyak pengunjung kemungkinan berasal dari kombinasi antara aktivitas fisik, lingkungan alam, dan interaksi sosial.

Terlepas dari pengetahuan yang ada dan terlanjur diyakini itu,  fenomena berendam setiap subuh di kawasan reklamasi pesisir Gunung Kunyit menunjukkan adanya gairah masyarakat membangun kebiasaan hidup sehat dengan memanfaatkan ruang publik yang tersedia.

Pengalaman para pengunjung layak dihargai sebagai bagian dari realitas sosial. Namun, pengalaman tersebut tidak boleh langsung disimpulkan sebagai bukti medis bahwa air laut mampu menyembuhkan penyakit.

Justru fenomena ini menarik untuk diteliti lebih lanjut oleh kalangan akademisi, tenaga kesehatan, maupun pemerintah daerah. Jika dikaji secara ilmiah, termasuk kualitas air laut, keamanan aktivitas, dan dampaknya terhadap kebugaran, kawasan reklamasi pesisir Gunung Kunyit berpotensi berkembang, bukan hanya sebagai ruang publik, tetapi juga sebagai laboratorium alam bagi pengembangan wisata kebugaran berbasis lingkungan. *****

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *