Kawasan reklamasi pesisir yang dulu dirancang sebagai waterfront city kini tumbuh menjadi ruang publik, pusat aktivitas kebugaran, dan penggerak ekonomi warga. Tantangan berikutnya adalah menghadirkan penataan yang aman, nyaman, dan berkelanjutan tanpa menghilangkan peran masyarakat yang telah lebih dulu menghidupkannya.
@Iwa Perkasa
Tidak semua proyek pembangunan berakhir sesuai dengan gambar yang pernah dirancang di atas meja. Ada yang selesai tepat waktu, ada yang berhenti di tengah jalan, dan ada pula yang justru menemukan kehidupan baru setelah masyarakat mengambil alih perannya. Kawasan reklamasi pesisir Gunung Kunyit di Bandar Lampung tampaknya berada pada kategori terakhir.
Setiap subuh, kawasan yang berada di tepian Teluk Lampung itu mulai hidup. Ratusan sepeda motor dan mobil berdatangan membawa warga dari berbagai penjuru Bandar Lampung dan daerah sekitarnya. Mereka datang ketika matahari belum sepenuhnya muncul. Tujuannya sederhana, berendam di laut.
Pemandangan itu hampir tidak pernah terbayangkan ketika kawasan tersebut mulai direklamasi bertahun-tahun lalu. Saat itu, Gunung Kunyit diproyeksikan menjadi bagian dari konsep waterfront city, wajah baru Bandar Lampung yang menghubungkan kehidupan perkotaan dengan laut melalui kawasan publik yang modern dan tertata.
Namun, waktu menunjukkan cerita yang berbeda.
Konsep besar itu belum pernah benar-benar terwujud. Jalan menuju kawasan masih berupa batu. Pengunjung harus melewati sekitar satu kilometer jalan yang belum beraspal sebelum mencapai bibir laut. Di dalam kawasan, fasilitas umum juga masih sangat terbatas. Belum tersedia jaringan air bersih, toilet permanen, maupun infrastruktur yang lazim dijumpai pada sebuah kawasan wisata.
Jika menggunakan ukuran proyek pembangunan, kawasan ini mungkin dianggap belum selesai. Namun jika menggunakan ukuran kehidupan, Gunung Kunyit justru sedang bertumbuh.
Yang menarik, kehidupan itu tidak lahir dari proyek pemerintah, melainkan dari masyarakat.
Orang-orang mulai datang karena ingin menikmati laut pada pagi hari. Sebagian mengaku tubuhnya terasa lebih segar setelah rutin berendam. Cerita itu menyebar dari mulut ke mulut. Pengunjung bertambah. Warung-warung sederhana mulai berdiri. Warga setempat mengatur parkir. Pelampung disewakan. Bilik ganti pakaian dibuat seadanya. Sedikit demi sedikit, sebuah ekosistem tumbuh tanpa pernah dirancang secara resmi.
Bayangkan, jika kawasan ini ikut disiram dana hibah, tentu pertumbuhannya lebih pesat. Tapi , ah..lupakan saja dana hibah bila berdampak merusak ekosistem pengelolaan oleh warga.
Lagi pula kawasan reklamasi pesisir Gunung Kunyit sudah tumbuh. Warga lumayan berhasil mengubah kawasan ini dari ruang kosong menjadi ruang sosial tempat orang berolahraga, berbincang, menikmati matahari terbit, mencari nafkah, dan nongkrong menikmati angin laut malam.
Fenomena seperti ini mengandung pelajaran penting dalam pembangunan kota. Tidak semua ruang publik hidup karena pemerintah membangunnya. Ada kalanya masyarakat lebih dahulu menemukan manfaat sebuah ruang, kemudian mengisinya dengan aktivitas yang memberi makna baru.
Gunung Kunyit adalah contoh bagaimana sebuah kawasan yang belum selesai justru memiliki daya hidup yang kuat.
Ironisnya, daya hidup itu tumbuh di tengah berbagai keterbatasan.
Jalan yang rusak membuat perjalanan kurang nyaman. Ketiadaan air bersih menyulitkan pengunjung membersihkan diri setelah berendam. Toilet umum masih minim. Sistem pengelolaan sampah belum tertata. Parkir masih dikelola secara swadaya oleh warga. Semua itu menunjukkan bahwa perkembangan kawasan lebih cepat dibanding pembangunan infrastrukturnya.
Di sisi lain, lokasi Gunung Kunyit memiliki nilai strategis yang tidak bisa diabaikan. Kawasan ini berada tidak jauh dari pusat bisnis Bandar Lampung. Lampung City Mall, hotel-hotel berbintang, apartemen, hingga pusat perdagangan hanya berjarak beberapa menit perjalanan. Kontras itulah yang membuat Gunung Kunyit menarik. Di tengah modernisasi kota, masih ada ruang publik yang tumbuh secara alami melalui inisiatif masyarakat. Keberadaannya telah mengembalikan jatidiri kota yang nyaris hilang karena kawasan pesisir yang ada telah telah rusak porak-poranda.
Tidak penting mempertanyakan lagi apakah proyek waterfront city berhasil atau gagal. Pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah pemerintah mampu membaca kenyataan baru yang telah dibangun masyarakat.
Menata Gunung Kunyit tidak harus dimulai dengan proyek-proyek besar yang mengubah wajah kawasan secara drastis. Justru yang paling dibutuhkan saat ini adalah penyediaan infrastruktur dasar. Jalan yang lebih layak, penerangan yang memadai, air bersih, toilet umum, tempat sampah, pengamanan kawasan, hingga pengelolaan parkir yang lebih tertib akan jauh lebih bermanfaat daripada membangun bangunan-bangunan monumental yang belum tentu digunakan.
Yang tidak kalah penting adalah memastikan masyarakat yang selama ini menghidupkan kawasan tetap menjadi bagian dari masa depannya. Warung-warung kecil yang tumbuh secara swadaya, pelaku parkir, hingga penyedia jasa sederhana jangan sampai tersingkir ketika kawasan mulai ditata. Mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari identitas sosial dan ekonomi Gunung Kunyit.
Di sisi lain, pemerintah juga perlu berhati-hati dalam membangun narasi kawasan. Ramainya warga yang berendam setiap pagi memang membuka peluang pengembangan wisata berbasis kebugaran. Namun daya tarik itu sebaiknya tidak dibangun di atas klaim bahwa air laut dapat menyembuhkan penyakit tertentu. Yang lebih tepat adalah mengangkat Gunung Kunyit sebagai ruang publik yang mendorong gaya hidup sehat melalui aktivitas fisik, udara pagi, panorama Teluk Lampung, dan interaksi sosial yang tumbuh secara alami. Pendekatan seperti ini lebih sesuai dengan prinsip kesehatan masyarakat sekaligus lebih mudah dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Gunung Kunyit bukan hanya bercerita tentang sebuah kawasan reklamasi. Ia bercerita tentang hubungan antara pemerintah, ruang kota, dan masyarakat.
Proyek pembangunan memang dapat dimulai oleh pemerintah. Namun kehidupan sebuah kota sesungguhnya ditentukan oleh warganya.
Gunung Kunyit telah membuktikan itu. Kini, giliran pemerintah menentukan apakah kehidupan yang sudah tumbuh tersebut akan dibiarkan berkembang sendiri, atau diperkuat melalui kebijakan yang berpihak pada kepentingan publik.
Jika pilihan kedua yang diambil, maka kawasan reklamasi pesisir Gunung Kunyit tidak akan dikenang sebagai proyek waterfront city yang tak pernah selesai. Sebaliknya, dapat menjadi contoh bagaimana sebuah ruang yang hampir terlupakan mampu bangkit kembali karena masyarakat, lalu disempurnakan oleh kebijakan yang tepat.
Dan mungkin, di situlah letak keberhasilan pembangunan yang sesungguhnya. Bukan pada megahnya proyek, melainkan pada ruang yang benar-benar hidup dan memberi manfaat bagi orang banyak.*****
