Pengangguran Lampung Terkikis ke 3,95 Persen, Serapan Sektor Formal Kian Solid

Bergerak selaras dengan rapor emas ketangguhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah, indikator pasar tenaga kerja di bumi Sang Bumi Ruwa Jurai juga menunjukkan tren perbaikan yang sangat signifikan. Laporan resmi Keadaan Ketenagakerjaan Provinsi Lampung mencatat bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berhasil ditekan turun ke level 3,95 persen.
@Iwa Perkasa
Angka ini mencatatkan penyusutan dibandingkan posisi tahun-tahun sebelumnya yang berada di level 4,07 persen dan 4,12 persen, sekaligus membuktikan bahwa akselerasi roda ekonomi daerah mampu diserap secara produktif oleh pasar kerja lokal. 
Jika kita bedah secara kuantitas, jumlah penduduk yang bekerja di Lampung melonjak hingga menyentuh angka 4,91 juta orang. Penambahan jumlah penyerapan tenaga kerja ini berjalan sangat beriringan dengan ekspansi geliat usaha rill di lapangan. Menariknya, perbaikan kualitas ketenagakerjaan di Lampung kali ini ditandai oleh migrasi masif para pencari kerja ke sektor formal yang naik signifikan dari 1,43 juta orang menjadi 1,52 juta orang. Hal ini mengindikasikan bahwa kapasitas industri pengolahan komoditas daerah mulai matang dan mampu memberikan jaminan ikatan kerja serta kepastian hukum yang lebih baik bagi para buruh lokal. 
Melihat dari peta penyerapan lapangan pekerjaan, sektor sawah, kebun, dan tambak masih belum tergoyahkan sebagai tulang punggung utama hajat hidup masyarakat bawah. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan kokoh mendominasi dengan menyerap 44,03 persen dari total tenaga kerja di Lampung. Tingginya ketergantungan populasi pekerja pada sektor hijau ini menjelaskan mengapa transmisi efek panen raya pertanian nasional sangat menentukan isi dompet rumah tangga di wilayah perdesaan Lampung. Setelah pertanian, posisi penampung lapangan kerja terbesar berikutnya ditempati secara berurutan oleh sektor Perdagangan Besar dan Eceran serta Industri Pengolahan. 
Namun, laporan pasar kerja ini menyisakan satu catatan spasial penting yang wajib dievaluasi oleh pemerintah daerah terkait dinamika wilayah tempat tinggal. Di wilayah perdesaan Lampung, angka pengangguran berhasil ditekan turun drastis dari 3,44 persen menjadi 2,87 persen berkat berkah perputaran uang agroindustri. Sebaliknya, fenomena kontras justru terjadi di wilayah perkotaan Lampung, di mana tingkat penganggurannya merangkak naik dari 5,21 persen menjadi 5,60 persen. Kenaikan ini dipicu oleh ketatnya kompetisi bursa kerja kota, tingginya arus urbanisasi pencari kerja lulusan baru, serta adanya pergeseran pola efisiensi tenaga kerja di sektor ritel modern. 
Secara keseluruhan, kompilasi data ketenagakerjaan dari BPS Lampung ini mengirimkan sinyal optimisme yang utuh bagi arah kebijakan pembangunan daerah. Keberhasilan mengikis pengangguran ke level 3,95 persen di tengah menguatnya porsi pekerja penuh waktu dan menyusutnya angka setengah pengangguran membuktikan bahwa Lampung sedang bergerak ke arah ekonomi yang lebih positif, berkualitas, dan produktif. Tugas krusial berikutnya adalah menjaga agar Upah Minimum Provinsi (UMP) Lampung tetap mampu mengimbangi kebutuhan hidup riil pekerja, serta merancang strategi pelatihan kompetensi di perkotaan agar ketimpangan angka pengangguran kota-desa tidak semakin melebar.*****
Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *