LAMPUNG TIMUR – Taman Nasional Way Kambas (TNWK) baru saja melewati masa kritis selama 48 jam terakhir. Kawasan konservasi yang menjadi benteng pertahanan gajah sumatra ini dikepung si jago merah yang melahap sekitar 673,4 hektare lahan. Namun, lewat operasi darurat yang masif, sinergi cepat antara Pemerintah Daerah Lampung dan Pemerintah Pusat berhasil memadamkan total seluruh titik api.
Pertempuran melawan api bermula pada Jumat (21/8) siang, saat titik api pertama terdeteksi di wilayah Resor Kuala Penet. Cuaca ekstrem dan angin kencang khas musim kemarau membuat api melonjak cepat di atas hamparan alang-alang kering. Tim Polisi Kehutanan (Polhut) dan Masyarakat Mitra Polhut awalnya sempat kesulitan menjinakkan api karena medan rawa kering yang terjal tidak bisa ditembus mobil pemadam.
Memasuki Sabtu (22/8) pagi, perkuatan masif langsung tiba di lokasi. Sebanyak 250 personel gabungan dari unsur TNI, Polri, BPBD, Damkar, hingga relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) diterjunkan penuh untuk menyekat pergerakan api agar tidak meluas.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, bahkan turun langsung ke zona penyangga di perbatasan desa untuk memimpin strategi pembuatan sekat bakar darurat. Langkah taktis ini berhasil memastikan api tidak menyeberang ke pemukiman dan ladang milik warga.
Di tengah peninjauan langsung di area perbatasan Way Kambas, Gubernur Lampung menegaskan komitmen penuh jajarannya untuk melindungi kawasan tersebut.
“Fokus utama kami sejak awal adalah melokalisir pergerakan api agar aset negara dan pemukiman warga di sekitar area penyangga aman. Pemda Lampung tidak akan membiarkan jengger api merusak ruang hidup satwa dan ketenangan masyarakat. Kita kerahkan semua alat berat dan personel yang kita punya. Sinergi dengan kementerian dan kepolisian akan kita perkuat, bukan hanya untuk memadamkan api hari ini, tetapi memastikan mereka yang sengaja membakar paru-paru Lampung ini diseret ke hukum tanpa ampun,” tegasnya.
Sementara tim di lapangan berjibaku memadamkan api utama, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kehutanan bergerak cepat mengamankan satwa dilindungi. Menggunakan teknologi drone thermal dan jaringan camera trap, pusat memantau pergerakan fauna di dalam hutan. Hasil pantauan udara mengonfirmasi kabar melegakan, 11 kelompok gajah liar di sektor utara serta seluruh gajah di Pusat Latihan Gajah (PLG) dinyatakan aman dari kepungan asap pekat.
Pada Minggu (23/8), setelah api permukaan berhasil dijinakkan, petugas tetap disiagakan di lokasi untuk melakukan fase pendinginan (mopping up). Langkah pembasahan tanah ini krusial untuk memastikan tidak ada sisa bara tersembunyi di bawah lahan gambut yang bisa memicu kebakaran bawah tanah susulan.
Kini, setelah kondisi Way Kambas dipastikan mendingin dan kondusif, fokus beralih sepenuhnya ke jalur hukum. Kementerian Kehutanan bersama Ditreskrimsus Polda Lampung resmi menggelar investigasi gabungan. Bukti fisik di lapangan mengarah kuat pada sabotase oleh kelompok pemburu liar yang sengaja membakar semak demi memancing satwa buruan keluar. Pihak berwenang berjanji akan mengusut tuntas dan menindak tegas para pelaku tanpa pandang bulu.(iwa)
