Infrastruktur atau Penguatan SDM, Anang R: Lampung Tak Memilih, Melainkan Menyeimbangkan

Lampung dan Pencarian Keseimbangan Baru Pembangunan

@Iwa Perkasa

Pembangunan Lampung hari ini bergerak dalam dua laju yang tidak selalu seirama. Di satu sisi, percepatan kemantapan jalan dipacu sebagai fondasi konektivitas ekonomi. Di sisi lain, penguatan sumber daya manusia, yang menentukan arah hilirisasi dan industrialisasi bergerak lebih lambat, menuntut waktu dan konsistensi.

Di tengah paradogs itu, satu pernyataan kunci muncul dari Kepala Bappeda Provinsi Lampung, Dr. Anang R.  “Lampung tidak sedang memilih antara infrastruktur atau SDM, tetapi menyeimbangkan keduanya,” katanya, saat kepada Nomics, Senin (13/04/2026) malam.

Pernyataan ini bukan sekadar kompromi, melainkan cara baru membaca arah pembangunan.  Artinya infrastruktur sebagai prasyarat membuka peluang, sementara penguatan SDM sebagai penentu arah.

Selama ini, ukuran kemajuan sering berhenti pada apa yang paling terlihat. Jalan yang diperlebar, dibeton, jembatan yang disambung, irigasi yang diperkuat. Semua itu konkret, terukur, dan cepat menunjukkan hasil. Dalam konteks daerah berbasis pertanian seperti Lampung, pilihan ini sepenuhnya rasional. Sebab, tanpa konektivitas, produksi terhambat, biaya logistik tinggi, dan akses pasar tertutup.

transformasi terbesar tidak hanya ada pada infrastruktur, melainkan pada penguatan sumber daya manusia, pendidikan vokasi, pelatihan kerja, dan adaptasi teknologi. SDM menjadi fondasi utama agar industrialisasi tidak berhenti sebagai konsep. Tanpa itu, hilirisasi tidak akan bergerak menjadi kenyataan.

Selaras dengan pernyataan itu, Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menegaskan bahwa pendidikan adalah instrumen utama pembangunan manusia. Tanpa SDM yang mumpuni, potensi daerah tidak akan pernah termanfaatkan secara maksimal. Artinya, pembangunan fisik hanya menjadi pengungkit, bukan penentu.

Pernyataan Jihan senada dengan Menteri PPN/Bappenas Rahmat Pambudy yang menegaskan transformasi terbesar tidak hanya ada pada infrastruktur, melainkan pada penguatan sumber daya manusia, pendidikan vokasi, pelatihan kerja, dan adaptasi teknologi. SDM menjadi fondasi utama agar industrialisasi tidak berhenti sebagai konsep. Tanpa itu, hilirisasi tidak akan bergerak menjadi kenyataan.

Hilirisasi yang menjadi agenda besar daerah tidak hanya membutuhkan jalan dan investasi, tetapi juga membutuhkan  manusia yang mampu mengisi ruang ekonomi baru.

Di sinilah persoalan sebenarnya muncul, bukan pada pilihan kebijakan, tetapi pada kecepatan yang tidak selalu seimbang. Infrastruktur bisa dipercepat dalam satu siklus anggaran. SDM tumbuh dalam waktu yang jauh lebih panjang. Jika jarak ini terlalu lebar, maka yang terjadi bukan kegagalan pembangunan, melainkan ketidaksinkronan. Jalan menjadi lebih baik, tetapi nilai tambah tidak sepenuhnya tinggal di daerah. Akses terbuka, tetapi daya saing tidak otomatis meningkat.

Lampung tampaknya menyadari titik rawan ini.

Maka, berbagai langkah mulai diarahkan ke penguatan manusia, seperti pembebasan biaya komite SMA Negeri untuk memperluas akses, peningkatan kualitas guru, serta program vokasi dan distribusi tenaga pendidik. Namun realitas di lapangan masih menunjukkan pekerjaan besar. Kompetensi guru yang belum merata, kesenjangan akses pendidikan, dan tantangan wilayah 3T.

Artinya, keseimbangan itu belum selesai, tapi sudah dimulai sampai Lampung menemukan keseimbangan baru pembangunan.

Dan justru di situlah inti pernyataan Anang yang jujur mengatakan bahwa keseimbangan antara keduanya sangat menentukan arah pembangunan Lampung. ***

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *