Seleksi berbasis nilai dan parameter objektif telah dirancang dan resmi berlaku untuk pertama kali dalam SPMB 2026 di Lampung. Kabar baiknya, sistem ini memutus ruang intervensi dari relasi personal hingga lingkar kekuasaan.
@Iwa Perkasa
Setiap musim penerimaan siswa baru, selalu ada dua cerita. Yang resmi tentang nilai dan kuota, dan yang tak tertulis tentang “titipan” yang sering menggoda.
Cerita kedua hidup dalam percakapan sehari-hari, dari tetangga, saudara, hingga mereka yang merasa punya akses dan kuasa.
“Coba titip saja.”
“Nanti saya telepon kepala sekolahnya.”
Yang punya kuasa berkata, “Nanti saya urus langsung ke Kadisnya.”
Selama ini, ruang itu ada. Lahir dari aturan yang longgar, verifikasi yang sulit diawasi, dan mekanisme yang masih bisa dinegosiasikan. Zonasi berbasis jarak, misalnya, membuka celah interpretasi, tentang alamat, kedekatan, dan prioritas yang tak selalu transparan.
Di situlah titipan menemukan jalannya.
Tapi tahun ini, Pemerintah Provinsi Lampung serius mengubahnya. Melalui SPMB 2026, seleksi tidak lagi semata berbasis jarak. Jalur domisili dipadukan dengan kemampuan akademik, nilai rapor dan Tes Potensi Akademik berbasis CAT.
Perubahan ini penting bukan hanya karena variabelnya bertambah, tetapi karena sifatnya yang berubah menjadi super ketat. Dari yang sulit diverifikasi, menjadi terukur dan terbuka. Nilai bisa dilihat. Peringkat bisa diuji. Dan hasil seleksi bisa dilacak.
Ruang interpretasi pun menyempit. Bahkan pintu ruang diskresi oknum tertentu, yang dulu lentur, kini tertutup rapat. Siapa memenuhi syarat, itu yang diprioritaskan. Tidak ada ruang untuk menyisipkan nama. Tak peduli anak siapa.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, menyadari konsekuensi ini. Bahkan, Thomas yang dikenal ramah dan santun menyatakan siap “pasang badan”.
“Kami pastikan tak ada lagi titipan.”
Thomas telah menancapkan garis batas, bahwa masuk sekolah tidak lagi ditentukan oleh siapa yang dikenal. Bahkan (maaf) anak pejabat pun pasti terlempar dari antrean jika seleksi gagal. *****
