Ekonomi Lampung Tumbuh 5,58%, Tapi ……

Lampung tumbuh 5,58 persen, hampir identik dengan nasional 5,61 persen. Sekilas solid, tapi justru di situ letak masalahnya. Pertumbuhan ada, lompatan belum, atau masih perlu waktu

@Iwa Perkasa

Di atas kertas, kinerja ekonomi triwulan I-2026 terlihat rapi. Nilai PDRB sudah menembus Rp132,36 triliun, hampir semua sektor tumbuh, bahkan beberapa melesat, seperti akomodasi dan makan minum 12,43 persen, jasa keuangan 10,46 persen, pertanian 9,89 persen. Namun ketika dibedah lebih dalam, terlihat pola lama yang belum berubah bahwa yang tumbuh adalah sektor yang sama, dengan cara yang sama.

Struktur ekonomi Lampung masih bertumpu pada tiga penyangga utama, pertanian 25,58 persen, industri pengolahan 18,97 persen, dan perdagangan 15,03 persen, yang jika digabung menyumbang hampir 60 persen ekonomi.

Ini bukan sekadar komposisi, tapi cermin tahap pembangunan. Ketika pertanian masih menjadi kontributor terbesar sekaligus penyumbang utama pertumbuhan (2,20 persen), itu menandakan ekspansi masih berbasis volume, belum nilai tambah. Ekonomi bergerak, tapi belum bertransformasi.

Di sinilah perbedaannya dengan nasional mulai terasa. Secara agregat, Indonesia tumbuh dengan dorongan sektor jasa modern, mobilitas, dan aktivitas bernilai tambah lebih tinggi. Lampung masih berada di fase awal, kuat di basis, lemah di hilir. Akibatnya, pertumbuhan terlihat “cukup”, tetapi belum “naik kelas”.

Kontras itu makin jelas saat melihat data triwulanan. Ekonomi Lampung justru terkontraksi 1,08 persen (q-to-q), lebih dalam dibanding nasional yang minus 0,77 persen. Penyebabnya bukan kejutan, melainkan pola berulang. Konsumsi pemerintah anjlok 31,02 persen di awal tahun, diikuti konstruksi minus 7,94 persen dan jasa lainnya minus 7,87 persen. Ini bukan sekadar musiman, melainkan sinyal bahwa denyut ekonomi daerah masih mengikuti ritme APBD. Saat belanja melambat, ekonomi ikut tertahan. Artinya, mesin non-fiskal belum cukup kuat berdiri sendiri.

Dari sisi pengeluaran, cerita yang sama muncul dengan cara berbeda. Konsumsi rumah tangga mendominasi 64,05 persen PDRB dan tetap menjadi penopang utama.

Sementara itu, investasi hanya tumbuh 4,39 persen dan ekspor nyaris datar di 0,75 persen.

Ini komposisi yang aman, tapi tidak cukup untuk akselerasi. Tanpa dorongan investasi dan ekspor, pertumbuhan cenderung berputar di level yang sama. Stabil, tapi tidak progresif. Dibanding nasional, di mana investasi masih tumbuh lebih tinggi dan ekspor tetap menjadi penopang, Lampung terlihat tertinggal satu langkah dalam membangun mesin pertumbuhan jangka panjang.

Di tingkat Sumatera, posisi Lampung juga menarik,  tumbuh 5,58 persen, di atas rata-rata regional 5,13 persen, dengan kontribusi 9,72 persen. Namun tetap bukan yang terdepan; Kepulauan Riau melesat di 7,04 persen. Artinya, Lampung berada di tengah, cukup kuat untuk bertahan, tetapi belum cukup agresif untuk memimpin.

Semua ini mengarah pada satu kesimpulan yang tidak nyaman tapi penting, bahwa persoalan Lampung bukan pada pertumbuhan, melainkan pada kualitas pertumbuhan. Struktur ekonomi belum bergeser, ketergantungan pada belanja pemerintah masih tinggi, dan investasi serta ekspor belum menjadi motor utama. Selama tiga hal ini tidak berubah, angka 5 persen akan terus terjaga, namun tanpa lompatan berarti.

Maka, arah kebijakan menjadi krusial. APBD tidak lagi cukup berfungsi sebagai penjaga stabilitas, untuk itu harus menjadi alat transformasi. Tanpa dorongan serius pada hilirisasi, industrialisasi berbasis komoditas, dan percepatan investasi produktif, pertumbuhan hanya akan menjadi rutinitas tahunan. Terlihat baik, tetapi tidak mengubah posisi.

Lampung tidak kekurangan pertumbuhan. Yang belum dimiliki adalah keberanian untuk keluar dari pola lama. Dan tanpa itu, ekonomi akan terus bergerak, tanpa benar-benar maju. *****

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *