Pasar Kerja Lampung Membaik, Tapi Belum Didorong Industri

Pengangguran turun, pekerja bertambah. Tapi tanpa mesin industri, perbaikan ini belum mengubah arah ekonomi.

@Iwa Perkasa


Pasar kerja Provinsi Lampung pada Februari 2026 menunjukkan perbaikan, lumayan. Data resmi Badan Pusat Statistik mencatat angkatan kerja mencapai 5,12 juta orang, dengan 4,91 juta di antaranya bekerja. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 3,95 persen.

Namun di balik angka yang membaik, ada satu kenyataan yang menunjukkan struktur pasar kerja Lampung belum berubah, dan ini berkaitan langsung dengan lemahnya pertumbuhan sektor industri.

Sebagian besar tenaga kerja masih bertahan di sektor lama. Pertanian menyerap 44,03 persen tenaga kerja, jauh di atas sektor industri pengolahan yang hanya 8,30 persen. Ini bukan sekadar komposisi, tetapi cerminan arah ekonomi yang menegaskan bahwa tenaga kerja belum berpindah ke sektor yang lebih produktif.

Ketika industri tidak tumbuh cukup kuat, ekonomi kehilangan “mesin” untuk menciptakan pekerjaan berkualitas. Akibatnya, mayoritas tenaga kerja tetap berada di sektor informal. Meski ada perbaikan, pekerja formal naik menjadi 31,09 persen, bnamun masih menyisakan sekitar 68,91 persen bekerja di sektor informal.

4 dari 10 Pekerja Belum Bekerja Optimal

Kualitas kerja juga belum sepenuhnya pulih. Sebanyak 31,45 persen pekerja masih paruh waktu dan 8,62 persen setengah penganggur. Artinya, hampir 4 dari 10 pekerja belum bekerja secara optimal.

Masalah ini diperkuat oleh struktur pendidikan tenaga kerja. Sebanyak 36,46 persen pekerja masih berpendidikan SD ke bawah. Di sisi lain, pengangguran justru tertinggi pada lulusan SMK (7,39 persen). Ini menunjukkan mismatch yang nyata, ketika industri tidak berkembang, tenaga kerja terampil tidak terserap.

Bahkan, ketika jumlah pekerja meningkat, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) justru turun menjadi 70,65 persen. Ini menandakan bahwa pasar kerja belum cukup kuat untuk menarik lebih banyak penduduk usia kerja masuk ke aktivitas ekonomi.

Gambaran ini mengarah pada satu kesimpulan bahwa perbaikan pasar kerja Lampung saat ini masih bersifat kuantitatif, belum struktural.

Penurunan pengangguran belum diikuti oleh transformasi ekonomi. Tanpa penguatan sektor industri, terutama industri pengolahan berbasis hilirisasi, tenaga kerja akan terus terjebak dalam siklus lama, produktivitas rendah, informalitas tinggi, dan pekerjaan yang tidak stabil.

Dapat disimpulkan bahwa Lampung punya banyak tenaga kerja.  Yang belum dimiliki adalah mesin ekonomi yang mampu menyerapnya secara produktif.

Dan tanpa percepatan industrialisasi,  berisiko terjadi pengulangan. Angka tampak membaik, tetapi terlalu lamban untuk mengubah arah ekonomi.*****

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *