salah memilih, rocky gerung

Salah Memilih Itu Sial, Bertahan pada Pilihan yang Salah, Itu Dungu (Rocky Gerung)

@Iwa Perkasa

Kalimat Rocky Gerung ini mungkin terdengar keras. Namun jika direnungkan lebih dalam, hidup memang sering mengajarkan pelajaran dengan cara yang sederhana sekaligus menyakitkan.

Tidak ada manusia yang selalu benar. Tidak ada orang yang sejak awal selalu mampu melihat seluruh konsekuensi dari sebuah keputusan. Kita memilih pekerjaan yang ternyata tidak sesuai. Kita mempercayai orang yang ternyata mengecewakan. Kita mendukung sesuatu yang belakangan terbukti keliru. Kita mengambil jalan yang ternyata tidak membawa ke tujuan yang diharapkan.

Itu wajar.

Salah memilih adalah bagian dari kehidupan. Bahkan orang-orang paling bijak sekalipun pernah keliru. Pengusaha sukses pernah mengambil keputusan yang gagal. Pemimpin besar pernah membuat kebijakan yang salah. Orang-orang cerdas pun pernah tertipu oleh keyakinannya sendiri.

Karena itu, kesalahan bukanlah aib.

Yang menjadi persoalan adalah ketika kenyataan sudah menunjukkan bahwa pilihan itu keliru, tetapi kita tetap bertahan hanya karena gengsi, ego, atau ketakutan untuk mengakui kesalahan.

Sering kali manusia tidak terjebak oleh kesalahannya. Ia terjebak oleh pembelaannya terhadap kesalahan itu.

Semakin banyak waktu yang telah diinvestasikan, semakin sulit seseorang mengakui bahwa ia salah. Semakin besar energi yang telah dikeluarkan, semakin kuat dorongan untuk terus bertahan, meskipun arah yang ditempuh semakin jauh dari tujuan.

Padahal kehidupan tidak pernah memberi hadiah kepada mereka yang paling keras kepala. Kehidupan memberi penghargaan kepada mereka yang mampu belajar.

Mengubah arah bukanlah kelemahan.

Berbalik dari jalan yang salah bukanlah kekalahan.

Mengakui kekeliruan bukanlah kehinaan.

Justru di situlah letak kedewasaan.

Seseorang yang mampu berkata, “Saya salah”, sering kali jauh lebih kuat daripada mereka yang terus-menerus mencari alasan untuk membenarkan dirinya.

Sebab keberanian terbesar bukanlah mempertahankan semua keputusan yang pernah dibuat. Keberanian terbesar adalah mengoreksi keputusan ketika fakta menunjukkan bahwa kita perlu berubah.

Sebaliknya, memilih yang benar adalah anugerah.

Namun bertahan pada pilihan yang benar adalah kebijaksanaan.

Karena memilih yang benar sering kali hanya membutuhkan kecerdasan. Tetapi mempertahankan yang benar membutuhkan karakter.

Kadang pilihan yang benar tidak populer. Kadang pilihan yang benar membuat kita berjalan sendirian. Kadang pilihan yang benar mengharuskan kita kehilangan kenyamanan, jabatan, keuntungan, bahkan dukungan banyak orang.

Namun sejarah menunjukkan bahwa kemajuan selalu lahir dari mereka yang berani bertahan pada kebenaran ketika mayoritas memilih kenyamanan.

Pada akhirnya hidup bukan tentang siapa yang tidak pernah salah.

Hidup adalah tentang siapa yang bersedia belajar ketika salah, siapa yang berani memperbaiki arah ketika tersesat, dan siapa yang tetap teguh ketika telah menemukan jalan yang benar.

Karena salah memilih mungkin hanya membuat kita kehilangan waktu.

Tetapi mempertahankan pilihan yang salah setelah mengetahui kebenarannya bisa membuat kita kehilangan masa depan.

Maka jangan takut mengakui kesalahan.

Jangan malu mengubah arah.

Yang memalukan bukanlah pernah tersesat.

Yang memalukan adalah melihat papan petunjuk yang benar, memahami arahnya, lalu tetap berjalan menuju jurang hanya karena terlalu gengsi untuk berbalik.*****

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *